Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kesempatan ke dua


__ADS_3

(Masih di ruang perawatan ibu)


"Ehm…ehm…"


"Kenapa kamu kelihatan bingung begitu?" 


"Aku-aku, …"


 


Belum sempat menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Rupanya dokter bersama seorang perawat. Sudah pasti keduanya terkejut mendapati ibu sudah sadarkan diri.


"Ibu saya sudah sadar, Dok," ucapku.


"Subhanallah, ini benar-benar mukjizat," ujarnya. Ia pun lantas memeriksa ibu. Dokter itu bertambah heran saat tahu jika bukan hanya ingatan ibu yang kembali, namun juga indera penglihatannya.


"Sepertinya kondisi pasien sudah semakin membaik," ucap dokter.


"Apa ini artinya saya diperbolehkan membawa ibu saya pulang?" tanyaku.


"Ya. Hari ini juga pasien saya perbolehkan meninggalkan rumah sakit."


"Terima kasih, Dokter," ucapku. Dokter dan perawat itu pun lantas meninggalkan ruangan.


"Di mana Yoga? Ibu ingin bicara dengannya," ucap ibu.


"Tunggu sebentar. Aku akan memanggil pak Prayoga." Aku beranjak dari kamar perawatan ibu kemudian berjalan menuju taman kecil yang berada di halaman rumah sakit.


"Pak, Dokter meminta Bapak untuk masuk ke dalam," ucapku. Sengaja aku tidak memberi tahu jika ibu sudah sadar.


Aku mengambil alih Lyra dari gendongan pak Prayoga sebelum kami berdua masuk ke dalam rumah sakit. Tak sabar rasanya ingin melihat reaksi pak Prayoga saat tahu ibu sudah sadar dari koma nya.


"Loh, di mana dokter nya? Tadi Nak Zura bilang dokter ingin bertemu saya," ucap pak Prayoga.


"Bukan dokter yang ingin bertemu dengan mu, tapi aku," ucap ibu yang sontak membuat pria itu tercengang.


"Sab-Sab-Sabrina? Kamu sudah, …"


"Ibu sudah sadar, Pak. Saya sengaja ingin memberi kejutan pada Bapak," ucapku.


Entah spontan atau memang sengaja, tiba-tiba pak Prayoga menghambur ke dalam pelukan ibu. Detik kemudian tangisnya pun pecah. Aku benar-benar bisa melihat dan merasakan betapa pria itu amat mencintai ibu.


"Aku begitu takut kehilangan kamu, Rina," isaknya.


"Aku minta maaf," ucap ibu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku begitu bersyukur kamu kembali sadar," ucap pak Prayoga sesaat setelah melonggarkan pelukannya.


"Perempuan hina sepertiku tidak pantas untuk laki-laki sebaik dirimu. Aku sudah berkhianat. Diam-diam aku menjalin hubungan dengan Rony di belakangmu."

__ADS_1


"Ssssst. Sudahlah, jangan dibahas lagi. Setiap orang pernah berbuat kesalahan 'bukan? Dan dia juga berhak mendapatkan kesempatan ke dua," ucap pak Prayoga.


"Aku minta maaf," ucap ibu. Suaranya kini terdengar parau. Kulihat bening kristal itu juga mulai merebak di bola matanya.


"Tanpa meminta maaf pun aku akan selalu memaafkanmu." Pak Prayoga meraih tangan ibu lalu menggenggamnya.


"Apa dokter sudah tahu jika ibumu sudah sadar, Nak.?" tanya pak Prayoga padaku.


"Sudah, Pak. Beliau mengatakan jika hari ini juga ibu diperbolehkan meninggalkan rumah sakit," jelasku.


"Nak Zura bersedia mengajak Rina pulang ke rumah 'kan?"


Tentu saja pertanyaan itu cukup sulit kujawab. Apakah aku harus berterus terang perihal keadaanku yang sebenarnya? Bagaimana reaksi ibu jika tahu hubungan rumah tanggaku tidak baik-baik saja? Apakah ia mau tinggal bersamaku di tempat kost sempit itu?


"I-i-iya, tentu saja, Pak. Saya akan akan mengajak ibu saya tinggal bersama saya."


Dari pak Prayoga, pandangan ibu beralih pada Lyra yang berada di gendonganku.


"Apa dia Lyra?" tanyanya.


"Benar, Bu."


"Cucuku, sini sama nenek."


Aku melepas Lyra dari gendonganku lalu memindahkan di pangkuan ibu.


"Ini nenekmu, Sayang," ucap ibu. Bisa kutangkap binar di sorot matanya.


"Ada apa, Pak?" tanyaku.


"Saya hampir lupa hari ini harus menghadiri peresmian supermarket baru milik kawan saya," jawabnya sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maaf, saya harus pergi sekarang. Oh ya, untuk biaya administrasi, saya sudah melunasi semuanya."


"Terima kasih, Pak. Semoga Allah memudahkan semua urusan Bapak," ujarku.


"Aamiin."


"Ya sudah, saya pergi dulu, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Bu, …"


"Ada apa, Nak?" tanya ibu.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Ibu."


"Apa yang ingin kau bicarakan?"

__ADS_1


"Ini soal ehm…ehm…"


"Soal apa, Nak?"


"Soal rumah tanggaku."


"Memangnya kenapa? Apa kalian sedang ada masalah?"


Aku menghela nafas berat sebelum mengungkap cerita pahit ini.


"Nama ayahnya Lyra adalah Fabian Yusuf. Usianya tidak terpaut begitu jauh dariku. Kami dipertemukan sepuluh tahun silam saat aku hampir celaka dimangsa buaya lantaran aku nekat melompat ke sungai."


"Astaga. Apa yang membuat kamu senekat itu?"


Aku membuang nafas. Mau tidak mau aku harus mengorek kisah kelam di masa laluku.


"Setelah ayah meninggal dunia, aku benar-benar kehilangan arah hidup. Hingga pada akhirnya aku terjebak pada dunia hitam."


"Maksud kamu apa, Nak?"


"Aku bertahan hidup dengan bekerja di klub malam. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Pemilik tempat hiburan malam itu tak pernah mempermasalahkan aku yang hanya melayani tamu tanpa bersentuhan fisik yang berlebihan. Hingga pada suatu malam pemilik klub itu "menjualku" pada seorang pria hidung belang dengan harga tinggi. Tentu saja aku menolak hingga akhirnya aku dikurung di dalam kamar."


"Lantas, apa yang terjadi setelahnya?"


"Aku berhasil kabur dari kamar itu dengan menjebol atap kamar. Namun, anak buah pemilik klub malam itu nyaris berhasil menangkapku. Itulah alasan mengapa aku nekat melompat ke sungai. Di sungai itulah aku digigit buaya. Aku sempat berteriak meminta pertolongan namun tidak ada satupun yang mendengar teriakanku. Aku sempat berujar jika perempuan yang menolongku, aku akan menjadikannya sebagai saudaraku. Dan jika dia laki-laki, aku bersedia mengabdikan hidupku untuknya. Di saat itulah Fabian muncul."


"Jadi, laki-laki penolong itu yang akhirnya menjadi suamimu?" tanya ibu.


"Ya, Bu. Aku yang saat itu kehilangan keluarga dan tempat tinggal menerima tawarannya untuk pulang ke rumahnya. Ibu dan adik perempuannya begitu menyayangiku, bahkan mereka selalu melarangku meninggalkan rumah mereka. Di hadapan warga mereka mengatakan jika aku adalah kerabat mereka. Namun, entah siapa yang menghasut, warga justru memaksa kami untuk segera menikah atau mereka akan mengusirku. Terlepas dari ujarku waktu itu, aku memang mengagumi Fabian. Dan di luar dugaan, di juga memiliki perasaan yang sama denganku. Akhirnya kami pun menikah."


"Dari ceritamu sepertinya Fabian laki-laki yang baik," ujar ibu.


"Pada awalnya begitu. Namun, tidak untuk sekarang. Bagiku dia adalah laki-laki paling buruk yang pernah kukenal."


"Loh, kenapa kamu bicara begitu? Memangnya Fabian kenapa? Dia kasar? Tidak bertanggung jawab, atau tidak menyayangi Lyra?" tanya ibu.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Lantas, kenapa dengan suamimu? Sepertinya kamu begitu marah padanya."


"Fabian nyaris tak pernah bicara atau bersikap kasar pada kami. Dia juga memiliki pekerjaan yang mapan. Gajinya pun cukup besar. Tapi, ada satu hal yang membuatku tidak bisa bertahan dengannya."


Tiba-tiba ibu menatap lekat mataku.


"Ada apa, Nak? Apa dia menyakitimu?" tanyanya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2