Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tentang Gibran (2)


__ADS_3

"Gibran?"


"Kamu-kamu masih di sini? Aku pikir kamu sudah pulang," ucap Luna.


"Kalian pengkhianat!" pekik Gibran seraya mengacungkan jari telunjuknya ke tepat di hadapan wajah keduanya.


"Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Jadi benar, selentingan yang kudengar di luar sana jika kalian diam-diam menjalin hubungan?"


"Tunggu! Pasti ada pengkhianat di sini!" seru Hans seraya memandang beberapa orang kawannya secara bergantian. Di antara mereka hanya Stella yang terlihat gugup.


"Kenapa kamu gugup, Stel? Jangan-jangan kamu lah pengkhianat itu!" Luna menatap tajam mata sahabatnya itu.


"Sudahlah, tidak perlu menyalahkan orang lain. Ini tidak ada hubungannya dengan Stella," ujar Gibran.


"Pasti kamu yang memberitahu Gibran tentang hubungan kami 'kan?"


Gadis berambut sebahu itu terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Kenapa kamu diam saja, jawab!" bentak Luna.


"Ya! Aku pelakunya! Aku yang sudah membongkar kebusukan kalian!"


"Apa ini yang dinamakan sahabat? Kenapa kamu melakukan ini?"


"Itu karena ehm … aku-aku, …"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku menyukai Gibran. Aku tidak rela jika dia disakiti."


Tentu saja pernyataan Stella membuat semua yang berada di ruangan itu tercengang, tak terkecuali Gibran.


"Jadi kamu, …"


"Ya, Gib. Aku sudah lama mengagumimu. Tapi, aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapnya."


"Maaf, Stel. Selama ini aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Aku hanya menganggapmu teman," ungkap Gibran.


Bukannya marah, gadis berwajah ovale itu justru tersenyum.


"Tidak apa. Setidaknya aku sudah lega telah mengungkapkan perasaan yang sudah begitu lama kupendam," ujarnya.


"Kamu menolak Stella, itu artinya kamu lebih memilihku 'bukan?" Luna meraih tangan Gibran namun laki-laki itu justru menepisnya dengan kasar.


"Gadis tak tahu malu! Jangan pernah menyentuhku lagi. Kamu, dan kamu, Hanafi! Hubungan pertemanan kita cukup sampai di sini. Detik ini juga kalian berdua aku keluarkan dari band!"


"Apa memang kamu selalu menganggap sebuah hubungan sebagai mainan? Setelah cukup lama menjalin hubungan, kamu bermain api dengan orang terdekatku sendiri, lalu sekarang dengan mudahnya kamu ingin mengakhiri hubunganmu dengan Hanafi secara sepihak."


"Jika disuruh memilih antara kamu dengan Hans, aku lebih memilih kamu, Gib."


"Tentu saja. Karena aku kaya dan banyak uang. Begitu 'bukan?"


"Bu-bu-bukan begitu, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu."


"Omong kosong! Jika kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan pernah mendua."


"Aku mengaku salah, kami berdua mengaku salah." Luna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gibran dan mendekapnya.

__ADS_1


"Pergi jauh-jauh dari hadapanku!" Lagi-lagi Gibran menepis tangan itu.


"Kami minta maaf, Gib. Jangan keluarkan kami dari band ini. Apa kamu lupa, kita sudah membesarkan band ini bersama-sama." Hans yang sedari tadi hanya diam itu menimpali.


"Seribu kali kalian meminta maaf pun, tidak akan pernah mengubah keputusanku. Kalian kukeluarkan dari grup band ini! Aku tidak ingin ada sampah di band ini!"


"Kamu pikir mudah mencari anggota pengganti? Aku pastikan tanpa kami grup band ini akan hancur!" seru Hans.


"Kamu pikir aku takut dengan ancaman mu 'hah?! Pergi kalian berdua dari hadapanku dan jangan pernah lagi berani menginjakkan kaki di tempat ini!"


"Tidak apa jika kamu mengeluarkan Hans dari grup band ini. Aku janji tidak akan berbuat kesalahan lagi," ucap Luna.


"Sayangnya kepercayaanku sudah hilang."


Gibran berlalu dari hadapan kawan-kawannya. Dia pun lantas meninggalkan tempat tersebut.


"Breng*ek! Pengkhianat! Aku benci kalian! Stella! Hans!" teriak Gibran sembari melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang dengan kecepatan tinggi.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_1


Visual Keenan ... 11.12 lah ya sama Gibran 🥰


__ADS_2