
Kak Darren yang kupikir tewas dalam musibah kebakaran itu ternyata selamat dan masih hidup. Allah kembali mempertemukan kami belum lama ini. Kakak laki-laki ku itu sudah menikah, dan perempuan yang menjadi istrinya adalah sahabat lamaku, Vania yang kini namanya telah berubah menjadi Fatimah. Selain kak Darren, aku juga sudah bertemu dengan ibuku yang saat itu sempat pergi tanpa pamit. Kurasa alasannya lantaran usaha ayahku yang jatuh bangkrut. Hanya kakak perempuanku, kak Maureen yang hingga kini belum kuketahui keberadaannya.
Getar ponselku membuatku tersentak kaget. Lamunanku tentang masa lalu pun seketika buyar. Lekas kuambil ponsel itu dari atas meja. Rupanya telepon dari pak Prayoga. Aku pun bergegas menjawab panggilan tersebut.
[Halo, Assalamu'alaikum, Pak]
[Waalaikumsalam]
[Bagaimana keadaan ibu saya, Pak?]
[Ehm, ibumu belum sadarkan diri, Nak]
[Astaghfirullah. Memangnya apa yang terjadi pada ibu saya?]
[Kata mbok Sumi yang juga berada di ruangan itu, ibumu terjatuh dari atas ranjang dengan posisi terlentang. Dokter mengatakan hal itu berpotensi menyebabkan kerusakan bagian tempurung kepalanya]
[Ya Allah. Apa yang harus kita lakukan?]
[Tidak ada hal yang bisa kita lakukan selain berdo'a. Hanya Allah yang mampu mengangkat segala penyakit ibumu]
[Saya minta maaf tidak bisa menemani Bapak di rumah sakit. Insyaallah besok pagi saya datang menjenguk ibu]
[Tidak perlu meminta maaf. Saya paham kondisi nak Zura sekarang]
[Terima kasih, Pak]
[Ya sudah, saya tutup dulu teleponnya. Saya mau pulang dulu. Kasihan putri saya sendirian di rumah. Saya sudah meminta perawat untuk menghubungi nomor telepon saya mengenai perkembangan ibumu. Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam, Pak]
-Panggilan terputus-
"Ya Rabb, berikan kesembuhan pada ibu hamba. Hanya Engkau lah dzat yang Maha menyembuhkan. Aku ingin kami berkumpul kembali seperti dulu," gumamku.
Adzan subuh membangunkanku dari tidurku yang lebih nyenyak ini. Lekas kisibak selimut tebalku lalu beranjak dari tempat tidur. Hujan semalam rupanya masih menyisakan hawa dingin. Namun, hal itu tidak akan menghalangiku menjalankan ibadah dua rakaat wajibku. Miris memang, aku yang biasa menjadi makmum, kini harus terbiasa beribadah seorang diri tanpa adanya imam dalam shalat ku.
Lyra bangun tepat di saat aku selesai menjalankan ibadah subuhku.
"Assalamu'alaikum, solehah nya ibu," sapaku.
Putri kecilku itu membulatkan mulutnya seolah ingin membalas salamku. Lekas kuganti popoknya yang penuh menampung air seninya semalaman.
Persediaan popok Lyra yang kupikir masih cukup untuk beberapa hari ternyata hanya tinggal dua pcs saja. Belum lagi bedak dan minyak telon yang juga hampir habis.
Aku meraih dompetku, lantas kulihat isi di dalamnya. Hanya tinggal dua lembar uang pecahan lima puluh ribu saja. Bagaimana ini? Bisa saja uang ini kupakai untuk membeli keperluan Lyra. Tapi, bagaimana dengan urusan perut? Sisa uang dari membeli perlengkapan Lyra hanya cukup untuk dua kali makan. Itu pun hanya nasi dengan lauk sederhana saja. Puasa. Ya, dengan berpuasa aku hanya perlu sekali makan. Jadi, dengan cara itu aku bisa membelanjakan uangku sampai besok.
Setelah mandi dan juga memandikan Lyra, aku baru keluar dari dalam kamarku untuk mengajaknya berjalan-jalan sekaligus berjemur.
__ADS_1
Aku baru saja keluar dari pintu gerbang ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapanku. Rupanya Rahma yang baru saja kembali dari rumah kakaknya.
"Mbak Zura mau kemana?" tanyanya.
"Mau jalan-jalan sekaligus berjemur," jawabku.
"Hemm, Dek Lyra sudah wangi. Pasti sudah mandi ya?" ucap Rahma sembari mencium kening putri kecilku itu.
"Sudah, Auntie."
"Ehm, Mbak."
"Ya, ada apa, Rahma?"
"Kita bisa bicara nggak?"
"Kamu mau bicara apa?"
"Kita ke dalam saja. Nggak enak ngobrol di pinggir jalan."
Rahna menggandeng tanganku lalu mengajakku masuk kembali ke dalam tempat kost.
"Kamu mau bicara apa? Kelihatannya penting banget," ucapku.
"Ehm, kakakku ingin tinggal bersamaku di sini, Mbak. Selama ini kakakku hanya tinggal di rumah kontrakan. Tapi, sekarang suaminya sudah meninggal. Kakakku bingung bagaimana cara membayar biaya kontrakan sementara dia sendiri sedang hamil. Aku bingung, Mbak," ungkap Rahma.
"Aku terbiasa menabung sebagian gajiku. Rencananya tabungan itu akan kupergunakan untuk membeli sepeda motor agar setiap hari aku tidak perlu naik ojek. Kalau kak Salma tinggal bersamaku, sudah pasti pengeluaranku akan lebih besar. Lalu, bagaimana aku bisa menabung agar bisa cepat membeli sepeda motor?"
Aku tersenyum.
"Rahma, kamu percaya 'kan dengan kalimat rezeki sudah ada yang mengatur? Kamu tidak perlu khawatir kekurangan meskipun kamu tinggal bersama kakakmu. Lagipula apa kamu tega membiarkan kakakmu hidup terlantar tanpa tempat tinggal? Apa kamu tega kalau kakakmu melahirkan anaknya di jalan? Hanya kamu yang bisa membantunya," ucapku.
"Mbak Zura benar. Maafkan aku ya Allah, aku sudah berpikiran buruk tentang jaminan rezeki dari Allah kepadaku," ujar Rahma.
Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Terima kasih untuk nasehatnya. Sekarang pikiranku sudah terbuka. Ya sudah, aku masuk ke dalam dulu, ganti baju terus berangkat kerja," ucap Rahma.
"Aku juga mau jalan-jalan ke taman sebentar sekalian membeli popok Lyra. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Jarak dari tempat kostku menuju taman tidak begitu jauh. Aku memilih menempuhnya dengan berjalan kaki. Selain irit, tentunya berjalan kaki juga menyehatkan 'bukan?
Hari ini adalah hari Sabtu. Taman cukup ramai pengunjung lantaran banyak anak sekolah ataupun pekerja kantoran yang libur. Dari beberapa pengunjung, pandanganku tertuju pada seorang laki-laki yang tengah menggendong bayi. Usianya mungkin belum genap enam bulan. Sementara tangan kanannya menggandeng tangan bocah perempuan yang mungkin baru duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Kenapa mereka hanya berjalan-jalan dengan ayahnya? Di mana ibunya?" gumamku.
__ADS_1
Laki-laki berkemeja lengan pendek itu berjalan mendekat ke arahku. Dia melempar senyum padaku sebelum mengajak bocah perempuan itu duduk di sebuah bangku.
"Kalau makan sambil duduk. Sini, ayah buka permennya," ucap laki-laki itu.
Bocah perempuan berkuncir dua itu pun memberikan permennya pada sang ayah agar dibuka plastik pembungkusnya. Dengan senyum ceria, bocah perempuan itu pun mulai menghisap permen lollipop nya.
"Sepertinya permennya lezat sekali," ucapku yang sontak membuat bocah perempuan itu menoleh ke arahku.
"Iya, Bu. Ini permen kesukaanku."
"Jangan kebanyakan makan permen, nanti gigimu berlubang dan sakit," ucapku.
"Nggak banyak kok, sehari satu saja."
Kutanggapi ucapannya dengan mengusap lembut rambut panjangnya.
"Oh ya, siapa namamu?" tanyaku.
"Maureen."
"Maureen?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa. Nama itu mengingatkan ibu pada seseorang."
"Kalian hanya bertiga saja. Mana ibumu?"
tanyaku.
Pemilik mata polos itu memandang wajah sang ayah sebelum menjawab pertanyaan dariku.
"Kata ayah ibu sudah di surga," jawabnya.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Maaf, ibu tidak tahu."
"Tidak apa, Bu. Awalnya Maureen juga belum paham, tapi sekarang dia sudah paham jika ibunya sudah meninggal dunia." Sang ayah menimpali.
Aku pun mengamati wajah laki-laki itu. Tunggu. Kenapa wajahnya tidak asing bagiku?
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1