
"Maksud kamu apa, Nak?" tanya sang ibu penuh selidik.
"Sepertinya tuan Anthony berhubungan dengan kematian Amira."
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba tuan Anthony begitu gencar mencari siapa pejalan kaki yang pernah ditabrak mobilnya sepuluh tahun silam."
"Sungguh?"
"Dia mengatakan bersedia dituntut jika ternyata pejalan kaki itu tewas, dan bersedia memberikan apapun keinginan keluarga pejalan kaki jika ternyata pejalan kaki itu masih hidup."
"Apa tuan Anthony menemukan di mana pejalan kaki itu?" tanya sang ibu.
"Ya. Silvia menemukan keluarga itu."
"Jika pejalan kaki itu sudah ditemukan, lantas, apa hubungannya dengan ibu?"
"Dengar dulu, Bu. Aku belum selesai bicara," ucap Fabian.
"Pejalan kaki yang ditemukan Silvia ternyata bukan yang asli. Silvia rupanya sengaja membayar dua orang untuk berpura-pura menjadi gadis bernama Amira dan ibunya."
"Astaghfirullahaldzim. Untuk apa Silvia melakukan semua itu?"
"Silvia takut jika ternyata pejalan kaki itu benar-benar meninggal dan keluarganya akan menuntut tuan Anthony. Itulah sebabnya ia membuat sandiwara Amira palsu dan ibunya."
"Apakah pejalan kaki yang asli sudah ditemukan?" tanya sang ibu.
Fabian menggelengkan kepalanya.
"Meski belum yakin 100%, aku menduga jika Amira yang dimaksud tuan Anthony memang lah Amira kita. Hanya saja, kita tidak memi bukti apapun."
"Siapa bilang? Ibu punya buktinya kok."
"Sungguh? Ibu tidak sedang bercanda 'bukan?"
"Tunggu sebentar."
Sang ibu beranjak dari ruang tempat duduknya, ia lantas masuk ke dalam kamar. Tidak berselang lama ia kembali dengan membawa secarik kertas.
"Apa ini, Bu?"
"Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Amira sempat menyuruh ibu mencatat nomor plat mobil yang sudah menabraknya." Bu Kinanti menyodorkan secarik kertas itu pada Fabian.
"Jika memang Amira yang dimaksud tuan Anthony adalah Amira adikmu, seharusnya nomor plat mobil itu sama dengan nomor plat mobil tuan Anthony."
"Tapi, kejadiannya sudah sepuluh tahun silam. Aku tidak yakin tuan Anthony belum mengganti mobilnya. Lagipula sekarang hubunganku dan Silvia sedang memburuk. Rasanya cukup sulit mencari tahu apakah plat nomor ini cocok dengan kendaraannya atau tidak."
"Kenapa kamu harus pusing? Gunakan akalmu dong."
"Apa maksud Ibu?"
"Bu Kinanti mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Fabian.
"Yang benar saja, masa aku disuruh menjadi kurir makanan," protes nya.
"Hanya cara itu yang bisa kita lakukan. Dengan menyamar sebagai kurir, kamu bisa menyelidiki plat mobil di rumah itu ataupun yang ada di dalam garasi."
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Ibu secerdas ini."
"Jika memang plat mobil ini cocok dengan salah satu mobilnya, kita harus memanfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan mereka," ucap sang ibu.
"Hari ini juga kita akan menjalankan rencana kita."
"Memangnya kamu tidak masuk kerja?"
"Aku bisa minta izin tidak bekerja dengan alasan ada keperluan," ucap Fabian. Sang ibu mengangguk paham.
*****
Sementara itu di rumah Silvia.
"Ayah jadi menjual mobil lama Ayah?" tanya Silvia.
"Ya. Ayah sudah mendapatkan pembelinya. Mungkin tidak lama lagi dia datang."
Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah halaman rumah.
"Itu pasti dia."
Silvia pun lantas mendorong kursi roda Anthony dan mengarahkannya ke halaman. Tampak dua orang pria berkemeja lengan panjang keluar dari dalam mobil berwarna silver itu.
"Selamat siang, Tuan Anthony." Pria berkemeja biru mengulurkan tangannya ke arah tuan Anthony.
"Selamat siang, Pak Tommy. Apa kabar?"
"Cukup baik."
"Punya berapa istri sekarang?" tanya tuan Anthony.
"Ah! Sudah tua begini mana ada yanh mau. Lagipula saya sudah tidak kuat lagi bermain di ranjang," kelakar tuan Anthony.
Dari tuan Anthony, pandangan Tommy beralih pada Silvia yang berdiri persis di belakang kursi roda.
"Ini puteri anda 'bukan?"
"Ya. Namanya Silvia."
"Padahal terakhir kita bertemu saat dia masih SMP."
"Silvia yang sekarang menggantikan posisi saya sebagai direktur perusahaan."
"Wow! Sudah cantik, kaya, karir cemerlang. Pasti banyak laki-laki yang mengejar-ngejar dia."
Silvia hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Kenapa anda mau menjual mobil ini?" tanya Tommy.
"Oh, tidak apa. Mobil ini sudah terlalu lama tak terpakai. Lagipula saya sudah membeli beberapa unit mobil baru," jelas Anthony.
Setelah Anthony setuju dengan harga yang ditawarkan, Anthony pun lantas mencoba mobil tersebut. Lantaran terlalu lama tidak digunakan, mesin mobil itu tidak bisa menyala.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membawa mobil ini sekarang. Mungkin Tuan bisa memperbaikinya lebih dulu di bengkel," ucap Tommy.
"Tidak masalah."
__ADS_1
"Kami permisi dulu."
Kedua pria itu pun lantas meninggalkan rumah tersebut.
"Suruh Evan membawa mobil ini ke bengkel," ucap tuan Anthony.
"Oh ya. Tidak lama lagi aku dan Evan akan menikahi. Apa Ayah tidak terpikir untuk mencari asisten baru? Tidak mungkin 'bukan, menantu sendiri menjadi asisten," ucap Silvia.
"Ya, mungkin nanti ayah akan mencari asisten baru dari salah satu karyawan."
Silvia baru saja hendak kursi roda sang ayah kembali ke dalam rumah ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di halaman rumah. Pengendaranya seorang laki-laki mengenakan helm dan masker kain.
"Permisi, ada kiriman makanan atas nama nyonya Silvia," ucap kurir itu.
"Maaf. Tapi saya tidak memesan makanan."
"Saudara Evan yang memesannya."
"Kenapa Evan tidak bilang padaku?" gumam Silvia.
"Sudahlah, terima saja. Mungkin dia ingin memberi kejutan untukmu."
Meski sedikit ragu, Silvia pun akhirnya menerima kiriman makanan tersebut.
"Kenapa sedari tadi anda memperhatikan mobil ini?" tanya tuan Anthony saat mendapati kurir itu tak berhenti mengamati mobilnya.
"Ti-ti-tidak, Tuan. Saya hanya mengagumi mobil ini."
"Mobil ini harganya mahal. Seumur hidup dari gajimu bekerja tidak akan mampu membelinya," ketus Silvia.
"I-i-iya, Nyonya. Saya memang miskin. Tapi roda kehidupan itu berputar. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita. Mungkin hari ini si A berada di titik tertinggi, bukan tidak mungkin besok atau lusa dia berada di titik paling bawah."
"Ah! Omong kosong. Karyawan rendahan sepertimu tidak pantas berceramah di depan kami."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
Kurir itu pun lantas meninggalkan tempat tersebut.
Satu jam kemudian.
"Tuan, Nona. Ada tamu yang ingin bertemu kalian," ucap dan asisten rumah tangga.
"Siapa, Bi?"
"Ehm … anu-anu, itu, …"
"Siapa? Kalau bicara yang jelas!"
Silvia meletakkan ponselnya di atas sofa lalu melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya. Ia tercengang saat mendapati siapa tamunya pagi itu.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰