
"Widya."
"Apa maksud Mas, Widya mantan mahasiswa Mas itu?"
"Ya, siapa lagi."
"Sudah lama dia menghilang, kenapa sekarang dia muncul lagi? Aku jadi khawatir pada Anisa. Mungkin kali ini dia gagal menculiknya, bagaimana kalau dia mengulangi niat jahatnya itu?"
"Jadi, Pak Darren dan Bu Maureen kenal dengan perempuan yang nyaris menculik puteri kalian ini?" tanya salah satu warga.
"Ya, Pak. Dia adalah mantan mahasisa suami saya."
"Memangnya kalian ada masalah apa dengan perempuan itu sampai dia punya niat buruk untuk menculik Anisa?" Warga lainnya menimpali.
"Ehm … sebelumnya kami mau mengucapkan terima kasih, berkat bantuan Bapak-bapak semua puteri kami selamat dari orang yang sudah berniat jahat padanya. Bapak-bapak sekalian bisa tinggalkan tempat ini sekarang," ucap Darren.
"Ya sudah, kami permisi dulu. Mungkin ada baiknya jika Ibu mengantar Anisa ke sekolah agar kejadian serupa tidak terulang," ucap salah satu warga. Tidak lama mereka pun beranjak meninggalkan tempat tersebut.
"Widya itu siapa, Yah, Bu?" tanya Anisa dengan mata polosnya.
"Dia kawan ayah dan ibu. Ya sudah, mulai sekarang ibu antar kamu ke sekolah ya."
"Selamat pagi," sapa seorang pengendara sepeda motor yang kebetulan melintas di hadapan mereka.
"Selamat pagi, Pak guru," sahut ketiganya serentak.
"Anisa kok masih di sini?" tanya guru itu.
"Ehm … iya, Pak. Ada sedikit masalah tadi. Anisa nyaris diculik."
"Astaghfirullahaldzim!"
"Beruntung ia ditolong warga dan bisa selamat dari penculikan."
"Syukurlah kalau begitu."
"Mulai sekarang saya akan mengantar jemput Anisa ke sekolah."
"Ya, saya setuju. Jangan sampai kejadian serupa kembali terulang," ujar guru tersebut. "Oh ya, biar lebih cepat Anisa membonceng pak guru saja ya," imbuhnya. Anisa menganggukkan kepalanya.
"Ayah, Ibu. Anisa berangkat sekolah dulu, Assalamu'alaikum." Anisa lalu menyalami kedua orangtuanya secara bergantian.
"Saya permisi dulu, Pak, Bu."
"Terima kasih, Pak sudah membonceng Puteri kami," ujar Darren.
"Tidak masalah. Selamat pagi, assalamu'alaikum."
__ADS_1
Guru berkacamata itu pun lantas melajukan kembali sepeda motornya menuju sekolah.
"Syukurlah, puteri kita selamat dari Widya," ucap Fatimah sesaat setelah guru dan Anisa berlalu dari tempat itu.
"Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati. Widya adalah gadis yang nekat," ujar Darren.
Keduanya saling terdiam sejenak.
"Ini semua salahku. Dulu aku bermain api, dan sekarang api itu membakarku," ujar Darren.
"Sudahlah, tidak usah mengungkit masalah itu. Aku sudah melupakannya," ucap Fatimah sembari menggandeng tangan laki-laki yang telah menikahinya lebih dari delapan tahun itu.
"Terima kasih, Sayang. Kamu mau memberi kesempatan ke dua bagiku." Darren menggenggam tangan Fatimah lalu mengecup punggung tangannya.
"Sudah hampir jam setengah delapan. Mas harus berangkat ke kampus 'bukan?"
"Ya."
"Ya sudah, Mas berangkat sekarang saja, jangan sampai terlambat."
"Iya, Sayang. Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum," ucap Darren. Ia lantas mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Fatimah.
"Hati-hati."
Darren masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya menuju kampus. Sementara Fatimah berjalan pulang ke rumahnya.
Darren menginjak rem mobilnya secara mendadak lantaran seorang perempuan tiba-tiba saja melintas tepat di hadapannya. Darren berkali-kali membunyikan klakson, bukannya menghindar, ia justru merentangkan kedua tangannya seolah menghalangi laju mobil Darren.
Darren semakin kesal lantaran perempuan itu masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Hal itu lah yang memaksanya untuk keluar dari dalam mobil dan menghampiri perempuan tersebut.
"Apa kamu sudah kehilangan akal?!"
"Ya, Bapak lah yang sudah membuat saya gila!"
"Kamu?"
Darren tercengang saat memandang wajah di balik masker itu.
"Ya. Saya Widya, mantan kekasih gelap anda, Bapak dosen."
"Jadi benar dugaan saya, kamu yang tadi ingin menculik Anisa. Apa salah puteri saya?"
Widya menyeringai kecut.
"Puteri Bapak tidak salah, tapi Bapak yang salah."
"Ya, saya bodoh pernah menjalin hubungan yang salah dengan gadis sepertimu. Seandainya di dunia ini hanya ada seorang perempuan sepertimu pun aku tidak akan memilihmu."
__ADS_1
"Bapak bicara seperti itu seolah begitu jijik pada saya. Apa Bapak lupa apa yang sudah pernah kita lakukan? Bapak lah laki-laki yang pertama kali menikmati keperawanan saya."
"Widya, cukup! Saya melakukannya karena saya khilaf," ucap Darren.
"Bapak mudah saja bicara begitu, tapi saya ini perempuan, Pak. Apa yang pernah Bapak lakukan pada saya akan berdampak besar bagi hidup saya."
"Jadi, apa maumu sekarang? Saya dan keluarga saya sudah hidup tenang, saya mohon jangan mengusik kebahagiaan kami."
"Bapak ingin tahu apa keinginan saya?
Nikahi saya."
"Itu tidak mungkin, Widya. Saya sangat mencintai istri saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati apalagi menduakannya."
"Lantas, Bapak akan membuang saya begitu saja?"
"Sudah begitu lama kamu menghilang, kenapa kamu harus muncul lagi?"
"Bertahun-tahun saya mencoba melupakan Bapak, tapi saya selalu gagal. Bapak mungkin tidak pernah tahu jika akhir-akhir ini saya selalu mengawasi keluarga Bapak. Saya sakit hati melihat keluarga Bapak begitu bahagia hingga saya berpikir untuk menculik puteri Bapak," ungkap Widya.
"Kenapa harus Anisa yang menjadi sasaranmu? Dia masih kecil, belum tahu apa-apa."
"Jika puteri kalian hilang, hidup kalian tidak akan tenang apalagi bahagia. Itulah alasan saya menculiknya."
"Benar-benar perempuan tidak waras!"
"Bapak lah yang membuat saya tidak waras."
"Saya tidak punya banyak waktu untuk melayani perempuan gila sepertimu!" Darren membalikkan badannya lalu menarik handle pintu mobilnya. Tanpa diduga, Widya justru memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Menjauh dariku! Jangan membuat orang lain salah paham!" seru Darren seraya melepas paksa kedua tangan Widya dari pinggangnya.
"Nikahi saya, Pak. Saya tidak bisa melupakan Bapak. Saya sangat mencintai Bapak," ucap Widya. Ia justru mengeratkan pelukannya.
"Lepas! Atau saya akan meneriakimu orang gila!" ancam Darren.
"Saya memang sudah gila, Pak. Bapak lah penyebabnya. Saya tidak akan pergi dari tempat ini sebelum Bapak mengabulkan permintaan saya."
"Itu permintaan gila! Saya tidak akan pernah mengabulkannya!"
"Kau kita tidak bisa hidup bersama, bagaimana kalau kita mati bersama?"
Tiba-tiba saja Widya mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku belakang celananya."
"Jangan gila kamu! Jauhkan pisau itu dariku!" sentak Darren.
"Kita akan mati bersama, Bapak Dosen tersayang."
__ADS_1
"Widya!" seru seseorang yang baru saja muncul di tempat itu.
Bersambung …