Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Belajar acuh


__ADS_3

"Zura? Kamu sudah lama menunggu?" 


Aku menoleh ke arah suara itu. Rupanya Fatimah sudah datang.


"Baru sekitar sepuluh menit," jawabku.


"Maaf, tadi lama nunggu taksinya."


"Gak apa-apa kok."


"Kamu cari siapa?" tanya Fatimah. Sepertinya dia keheranan melihatku celingukan seolah tengah mencari keberadaan seseorang.


"Ehm, tadi aku mendengar obrolan dua orang di bangku itu. Perempuan itu sempat menyebut nama Bian."


"Lantas?"


"Aku pikir laki-laki yang mengobrol dengan perempuan itu adalah Fabian. Aku berniat menghampiri mereka bersamaan saat kamu datang."


"Mana, Ra? Tak ada siapapun di bangku itu," ucap Zura.


"Aku serius, Fat. Aku bahkan sempat mendengar obrolan mereka yang cukup panjang."


"Memangnya siapa perempuan itu? Dan apa yang mereka bicarakan?" tanya Fatimah.


"Aku yakin jika perempuan itu adalah Silvia, atasan Fabian. Ia pernah secara terang-terangan mengatakan menyukai Fabian. Bahkan tadi aku mendengar Silvia mengajaknya menikah."


"Memangnya Silvia nggak tahu kalau Fabian punya istri?"


"Sepertinya Silvia tahu. Dia meminta Fabian berpisah dengan Mila setelah ia melahirkan."


"Lantas, bagaimana tanggapan Fabian?"


"Sepertinya dia kebingungan memberi jawaban."


"Aku tak habis pikir. Kenapa perempuan sekelas bos bisa tergila-gila pada bawahannya sendiri. Jangan-jangan suamimu itu memakai ajian khusus pemikat." Fatimah terkekeh.


"Ngarang kamu. Mungkin ada sesuatu dari Fabian yang begitu menarik baginya."

__ADS_1


"Kamu nggak cemburu, Ra? Kalau Fabian menikah lagi?" 


"Kenapa aku harus cemburu? Setelah apa yang dia lakukan padaku, tidak ada alasan bagiku untuk cemburu. Aku hanya tidak setuju jika dia menikah diam-diam lagi. Kasihan Karmila."


"Kenapa kamu harus memikirkan perasaan Karmila? Dia aja nggak mikirin perasaan kamu waktu dia menikahi Fabian."


"Bagaimana jika Fabian benar-benar menceraikan Karmila demi jabatannya di kantor?"


"Sudahlah, jangan menambah beban pikiranmu dengan hal yang tidak penting. Biarkan saja Fabian berbuat semaunya. Mungkin ini saatnya Karmila mendapatkan balasan dari Allah karena dia sudah menyakiti perasaanmu."


Aku membuang nafas.


"Allah memang sebaik-baik pembuat skenario. Tugas kita hanya menjalaninya," ujarku.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Fatimah.


"Belakangan ini ibu membuat kepalaku pusing."


"Pusing kenapa, Ra?"


"Ibu punya pacar baru lagi."


"Memang begitu kenyataannya. Ibu sekarang tengah dekat dengan seorang laki-laki bernama Irwan yang usianya jauh lebih muda darinya."


"Ibu 'kan memang masih cantik. Dia masih pantas menikah lagi."


"Bukan itu masalahnya."


"Lantas?"


"Beberapa hari yang lalu ibu pergi pada malam hari dan pulang menjelang pagi dalam keadaan mabuk berat. Saat kutanya, ibu justru memaki laki-laki bernama Irwan itu lantaran dia telah berbuat tidak senonoh pada ibu."


"Astaghfirullah! Irwan ngapain?"


"Irwan memasukkan sesuatu ke dalam minuman ibu hingga membuatnya tak sadarkan diri. Saat bangun, ibu mendapati dirinya dalam keadaan telanjang. Namun Irwan pergi meninggalkan ibu begitu saja. Aku sudah mencoba menghubungi nomornya tapi sepertinya dia sengaja memblokir nomor ibu."


"Brengs*k banget si Irwan itu! Bagaimana kalau ibu sampai hamil?"

__ADS_1


"Itulah yang ibu takutkan. Walaupun sekarang muncul lagi masalah baru."


"Masalah apa lagi, Ra?"


"Sebelum mengenal laki-laki bernama Irwan, ibu sudah memiliki hubungan dengan seorang laki-laki bernama pak Prayoga. Di saat ibu khawatir dirinya hamil gara-gara Irwan, pak Prayoga datang dan berniat untuk melamarnya."


"Lantas, bagaimana tanggapan ibu?"


"Tentu saja ibu menerima lamaran itu dengan senang hati. Meskipun aku tahu ibu tidak benar-benar tulus mencintai pak Prayoga."


"Sepertinya masalah tak pernah berhenti menghampiri kamu, Ra. Aku hanya bisa membantu do'a agar kamu bisa melewati semua ini. Aku yakin kamu perempuan yang kuat," ujar Fatimah.


Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya. Bagaimana kabar kak Darren?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Kabarnya baik, Ra. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Fat?" tanyaku.


Fatimah terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Mas Darren…"


"Kenapa dengan mas Darren?"


"Akhir-akhir ini sikap mas Darren berubah. Dia begitu dingin dan acuh padaku. Awalnya aku berpikir karena dia sudah lelah bekerja. Namun, kemarin malam aku mendapatinya sedang menelpon seseorang di dalam kamar mandi. Saat dia tidur aku pun memeriksa ponselnya."


"Apa kamu menemukan nomor telepon yang mencurigakan di ponsel kak Darren?"


"Sepertinya mas Darren sudah tergoda dengan perempuan lain, Ra," ucap Fatimah dengan suara bergetar.


"Memangnya siapa nomor telepon yang kamu temukan di ponsel mas Darren?"


"Nama perempuan itu ehm, …"


Bersambung…

__ADS_1


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2