
Keesokan paginya.
Suara klakson terdengar dari arah halaman rumahku. Lyra yang memang sedari tadi sudah selesai bersiap itu pun sontak berlari menuju halaman.
"Hole! Paman Giblan sudah sampai!" soraknya.
"Non Lyra mau kemana?" tanya bi Ami yang baru selesai membereskan kamar Lyra.
"Lyla mau jalan-jalan sama paman Giblan."
"Sama Ibu juga?" Bi Ami menoleh ke arahku.
"Tidak, Bi. Sama Lyra saja kok."
"Saya pikir Ibu ikut juga."
"Assalamu'alaikum," sapa Gibran.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaanku saat ini. Senang, deg-degan, dan gugup bercampur jadi satu.
"Lyra sudah siap?" tanyanya.
"Lyra mandi dari jam enam pagi, dan kamu baru datang jam delapan pagi."
"Maaf, kemarin aku lupa bilang mau menjemput Lyra jam delapan pagi."
"Kamu mau ajak Lyra kemana?" tanyaku.
"Ehm … Lyra mau kemana? Taman bermain, kedai es krim, atau kolam renang?"
"Semuanya kalau boleh." Lyra terkekeh.
"Pintar sekali kamu. Anak siapa sih?" Gibran memegang hidung Lyra lalu sedikit menariknya.
"Anak ibu Azzura dan ayah Fabian."
Aku bisa menangkap ekspresi tidak suka di wajah Gibran saat Lyra menyebutkan nama itu.
"Lyra sayang, kalau semua tempat kamu kunjungi, bagaimana dengan pekerjaan paman Gibran? Dia orang sibuk."
"Ah! Tidak apa. Sudah ada karyawan yang berjaga di toko pakaian milikku."
"Jadi, Lyla boleh ke taman belmain, kedai es klim, dan kolam lenang?" tanya Lyra dengan sorot mata berbinar.
"Boleh, Sayang."
"Ibu ikut ya." Tiba-tiba Lyra merengek.
Ini di luar rencana. Bukankah Gibran hanya mengajak Lyra saja? Kenapa Lyra jadi mengajakku?
"Ehm … ibu harus mengawa- …"
"Ayolah, Bu. Ibu 'kan tidak pelnah piknik. Ibu kelja telus," bujuk Lyra.
"Ibu kan harus mengawasi konveksi, Sayang."
"Kan ada nenek."
Skak mat!
"Sudahlah, turuti saja kemauan Lyra. Selama ini kamu terlalu sibuk bekerja dan hampir tidak pernah bersenang-senang dengannya," ucap ibu yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"T-t-tapi, Bu. Bagaimana dengan konveksi?"
"Apanya yang bagaimana? Hari ini tidak ada pengiriman barang 'kan? Lagipula ibu kan sudah terbiasa mengawasi proses produksi."
__ADS_1
"Ehm … tiba-tiba aku pusing," ucapku.
"Tidak usah pura-pura begitu. Sudahlah, sana bersenang-senang. Sesekali kamu juga butuh hiburan," tukas ibu.
"Ayolah, Bu. Lyla mohon," ucap puteriku penuh harap.
"Ibu tidak bisa."
"Hu … hu … hu… "
Entah berpura-pura atau tidak, puteri semata wayangku itu tiba-tiba menangis.
Dia lantas menghambur ke dalam pelukan ibu.
"Ya Allah, Zura. Kamu tega sekali membuat Lyra menangis," ucap ibu.
"Ibu ikut saja. Kasihan Lyra menangis." Bi Ami menimpali.
Saat ini aku bagaikan seorang pesakitan yang tengah dihakimi di ruang persidangan, terpojok.
"Ibu tidak sayang Lyla. Hu … hu … hu …"
"Siapa yang tidak sayang Lyra? Ibu sayang sekali sama Lyra."
"Kalau Ibu sayang ikut. Hu … hu … hu …"
"Apa kamu akan terus membiarkan Lyra menangis?" desak ibu.
"Sudah, berhenti menangis nya, ibu ikut," ucapku."
"Hole!" sorak Lyra.
Apa-apaan ini. Tadi menangis, tiba-tiba saja begitu bersemangat.
"Nah, begitu dong. Lyra kan langsung diam," ucap ibu.
Aku mendengus kesal, namun Lyra dan ibu justru beradu tos. Ah! Ini pasti rencana mereka berdua agar aku mau ikut.
"Jaga putri dan cucuku baik-baik. Jangan sampai mereka lecet sedikit pun."
"Pasti, Bu. Saya akan menjaga Zura dan Lyra dengan segenap jiwa dan raga saya," ucap Gibran. Aku bisa menangkap binar di sorot matanya.
"Nggak usah lebay," ucapku.
"Ayo, Bu … Paman. Kita belangkat." Lyra menggandeng tangan kananku dan tangan kiri Gibran lalu mengajak kami meninggalkan ruang tamu.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, selamat bersenang-senang," ucap ibu.
Kami telah berada di depan mobil berwarna hitam itu. Aku kembali dibuat kesal lantaran Lyra enggan duduk di bangku depan. Dia justru memilih duduk di kursi belakang.
"Aku pindah di kursi belakang saja," ucapku.
"Memangnya aku pak Amin?" gerutunya.
"Ibu di depan saja. Lyla belani di belakang sendili."
"Ibu pindah ke belakang saja menemai Lyra."
"Sudahlah, mengalah sama anak kecil. Pakai sabuk pengamannya."
Aku tak bisa berbuat banyak saat Gibran mulai melajukan mobilnya.
"Kita kemana dulu?" tanyanya.
"Kamu kan yang mengajak Lyra. Masa tidak tahu tujuannya."
__ADS_1
"Ehm … bagaimana kalau kita ke taman bermain, kolam renang, dan terakhir ke kedai es krim."
"Terserah!"
"Kamu ini kenapa? Masa jalan-jalan kok wajahnya cemberut begitu."
Aku memonyongkan bibirku.
"Sepertinya kita harus berhenti di SPBU untuk mengisi bensin," ucap Gibran.
"Kenapa tadi tidak diisi dulu? Bukankah rumahmu dekat pom bensin juga?"
"Tadi aku buru-buru."
Gibran pun lantas melajukan mobilnya menuju sebuah pom bensin.
"Bu, pipis," ucap Lyra.
"Aku antar Lyra ke toilet sebentar."
Aku dan Lyra baru saja turun dari mobil Gibran dan hendak melangkah menuju toilet. Di saat itulah sebuah mobil sedan melaju cukup kencang dan nyaris menabrak kami.
"Kalau mau jalan itu lihat kanan kiri dulu!" sentaknya.
Aku yang tadinya menundukkan wajahku pun lantas memandang ke arah pengemudi mobil itu. Aku tersentak kaget saat memandang wajah pria itu.
"Fab-Fab-Fabian?"
"Ayah!" panggil Lyra. Dia lantas berlari menghampiri mobil itu.
Bukankah Fabian jatuh bangkrut? Kenapa dia bisa menaiki mobil semewah itu? Tiba-tiba aku teringat obrolan dengan laki-laki yang tengah mengangkat meja jahit di dekat supermarket beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan jika pemilik konveksi itu baru saja mendapatkan rejeki nomplok. Apa sebenarnya arti rejeki nomplok itu?
"Ini mobil balu Ayah, ya?" tanya Lyra seraya mengusap bagian samping mobilnya.
"Jangan dipegang! Nanti kotor!" sentaknya.
"Astaghfirullahaldzim. Lyra ini putri kamu. Dia hanya ingin menyapamu. Kenapa kamu kasar begitu?"
"Minggir! Aku mau lewat!" sentaknya lagi.
"Kenapa ayah malah-malah pada kita, Bu?" tanya Lyra.
"Minggir kubilang! Apa kalian tidak punya telinga hah!"
"Keluar kamu!"
Aku kaget mendapati Gibran yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di hadapan mobil Fabian.
"Kenapa kamu teriak-teriak? Memangnya kamu pikir kamu ini siapa?"
"Kamu yang tadi hampir menabrak Zura dan Lyra, bukannya meminta maaf, malah memaki-maki mereka," ucap Gibran.
"Memangnya apa urusanmu? Kamu bukan apa-apanya mereka 'bukan?"
Tangan Gibran terulur.
"Aku Gibran, calon suami Azzura."
"Ap-ap-apa? Ca-ca-lon suami?"
Fabian tercengang, begitupun aku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰