
"Ehm!" Ibu yang baru saja masuk ke ruang tamu berdehem.
"Saya permisi dulu," ucap Keenan.
"Terima kasih, Nak Keenan sudah menemani kami jalan-jalan hari ini," ucap ibu. Keenan menanggapinya dengan senyum tipis.
"Assalamualaikum."
"Wa'aalaikumsalam," jawab kami serentak.
"Lyra di mana, Bu?" tanya Fina.
"Tidur di kamarnya."
"Pasti anak itu kecapean. Ya sudah, aku mandi dulu, bau asem". Fina lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Mau saya buatkan minum, Bu?" tanya bi Ami yang baru saja muncul dari arah dapur.
"Boleh, Bu. Dua gelas sirup dingin ya," ucapku.
Aku duduk di sofa yang kemudian diikuti ibu.
"Ehm … Bu. Saat berhenti di lampu merah tadi aku melihat Fabian sedang mengendarai sepeda motor." Aku memulai obrolan.
"Dia kan punya mobil. Kenapa aku panas-panasan di jalan pakai sepeda motor?"
"Bukan itu masalahnya, tapi perempuan yang diboncengnya."
"Memangnya siapa lagi yang diboncengnya kalau bukan Maureen?"
"Aku yakin sekali perempuan itu bukan kak Maureen."
__ADS_1
"Karyawannya mungkin."
"Ini hari Minggu 'bukan? Konveksi nya libur."
"Benar juga."
"Dari cara perempuan itu berpegangan saja aku yakin mereka punya hubungan."
"Fabian selingkuh maksudmu?" tanya ibu. Aku mengangkat kedua bahuku.
"Ada yang bilang, selingkuh itu seperti candu. Sekali selingkuh, seseorang akan mengulanginya lagi. Tapi bisa jadi ini karma bagi kakakmu itu. Dia sudah merebut Fabian darimu, mungkin sekarang dia akan merasakan hal yang sama."
Tidak berselang lama bi Ami muncul. Dia terlihat membawa nampan berisi dua gelas minuman sirup dingin dan satu toples camilan rengginang.
"Sudah lama sekali saya tidak makan camilan ini," ucapku.
"Oh, ini tadi dikasih bu RT yang baru pulang kampung, Bu. Oh iya, tadi juga ada kurir yang mengirim surat undangan untuk Ibu."
Bi Ami mengambil sepucuk surat undangan dari atas bufet lalu memberikannya padaku. Ah, undangan dari Seto rupanya.
"Seto, Bu."
"Akhirnya setelah bertahun-tahun menduda dia menikah lagi," ujar ibu.
"Aku berjanji akan membuatkan baju pengantin sebagai kado pernikahan untuk mereka."
"Ibu setuju, selama ini Seto sudah bekerja cukup baik di konveksi milikmu. Tidak ada salahnya kamu memberi sesuatu untuknya."
"Oh ya, Bi. Apa Bibi sudah dapat orang yang mau bekerja di toko kue saya?"
"Kemarin saat saya di pasar saya ngobrol-ngobrol dengan penjual daging ayam. Dia bilang anaknya lulusan SMA setahun lalu tapi kalau kerja mudah bosan. Dalam satu tahun ini saja dia sudah lima kali pindah tempat kerja. Lalu saya tawari mau nggak kerja di toko kue. Ibu itu bilang kalau anaknya memang suka memasak. Mungkin besok dia akan datang menemui Ibu," papar bi Ami. Aku mengangguk paham.
__ADS_1
Aku meraih gelas berisi minuman sirup rasa melon dingin lalu meneguknya. Rasa dahaga sekaligus gerah yang sedari tadi menguasaiku pun seketika sirna.
"Aku mau mandi sekalian shalat Ashar," ucapku seraya berjalan menuju kamarku.
****
"Zura! Zura! Kesini sebentar!" teriak ibu dari arah ruang tengah.
Aku yang sedang menemani Lyra belajar di kamarnya pun bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Bu?"
"Lihat berita itu."
Ibu meraih remote lalu menambah volume televisi yang saat itu tengah menayangkan siaran berita.
"Pemirsa, petang tadi polisi membekuk seorang laki-laki berinisial D yang diduga melakukan aksi penipuan. Tersangka ditangkap setelah munculnya banyak pengaduan dari beberapa pengusaha tekstil dan konveksi. Dari pengakuannya, tersangka telah meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Berikut daftar perusahaan konveksi dan tekstil yang menjadi korban penipuan tersangka."
Aku sedikit menggeser langkahku mendekati layar televisi demi mengamati tulisan yang terpampang di layar televisi.
Dari puluhan nama perusahaan tekstil dan konveksi, mataku tertuju pada sebuah nama konveksi yang begitu kukenal.
"FABIAN KONVEKSI"
Astaghfirullahaldzim. Bukankah ini nama konveksi milik Fabian?" batinku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰