
Pencarianku di sekitar rumah yang tidak membuahkan hasil, memaksaku untuk melanjutkan pencariannya Lyra dan Anisa di komplek perumahan. Aku bertanya pada setiap orang yang melintas, namun tak ada yang mengetahui di mana keberadaan dua gadis kecil itu.
"Apa mungkin mereka diculik, Ra?" tanya Fatimah.
"Sepertinya tidak mungkin. Pos security selalu dijaga 24 jam, setiap tamu yang berkunjung juga akan ditahan kartu identitas nya. Tadi KTP kalian ditahan juga 'bukan?"
Fatimah menganggukkan kepalanya.
"Bu Zura … kelihatannya Ibu bingung sekali. Ada apa, Bu?" sapa salah satu warga penghuni perumahan saat berpapasan dengan kami.
"Ehm … saya … saya mencari puteri saya, Lyra dan keponakan saya. Tadi mereka bermain di teras, tapi tiba-tiba saja menghilang," jelasku.
"Oh … Lyra sama anak perempuan seusianya ya?"
"Benar, Bu. Apa Ibu melihat mereka?"
"Barusan saya melihat mereka sedang bermain di sekolah."
"Sekolah mana, Bu?"
"TK Ceria."
"Alhamdulilah, saya sudah mikir yang tidak-tidak," ujar Fatimah.
"Terima kasih banyak untuk informasinya, Bu. Kalau begitu kami susul mereka dulu."
Aku dan Fatimah mempercepat langkah kami menuju taman kanak-kanak tempat Lyra bersekolah. Aku bernafas lega saat mendapati dua gadis kecil itu tengah asyik bermain di taman bermain sekolah Lyra dengan seekor kelinci.
"Masyaallah, Lyra … Anisa. Kalian sudah membuat jantung kami mau copot," ucapku.
"Kenapa kalian bermain sejauh ini tanpa izin dulu pada kami? Kami semua panik mencari kalian." Fatimah menimpali.
"Maaf, Bu, … Bi Fatimah. Tadi kami mengejal kucing ini," ucap Lyra seraya membelai lembut bulu kelinci berwarna putih kecoklatan itu.
"Memangnya kelinci itu punya siapa?" tanyaku. Kedua bocah perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Bu, Lyla ingin kelinci ini," rengeknya.
"Kelinci ini pasti ada pemiliknya, dia sampai di sini karena terlepas dari kandangnya."
"Jadi, Lyla tidak boleh bawa pulang?"
Aku mengulas senyum.
"Kalau Lyra memang ingin memelihara kelinci, besok kita beli ya, Sayang," ucapku. Lyra mengangguk setuju.
"Sekarang kita pulang. Ibu akan mencari tahu siapa pemilik kelinci ini," ucapku.
Kami berempat pun lalu meninggalkan sekolah Lyra.
Aku telah menanyakan siapa pemilik kelinci itu pada hampir semua penghuni perumahan, namun tidak ada seorang pun yang mengaku sebagai pemiliknya.
"Mungkin kelinci itu kelinci liar dari hutan kecill di belakang perumahan ini. Kalau Lyra ingin memelihara, tidak apa," ucap ketua RT.
"Asyik! Lyla punya kelinci!" sorak Lyra.
"Oh ya, kelinci ini makanannya apa? Lyra tahu nggak?" tanyaku.
"Ehm … rumput."
"Memangnya Lyra bisa mencari rumput untuk pakan kelinci ini?" Fatimah menimpali.
"Bisa."
"Hmmm?"
"Bisa minta tolong pak Amin." Lyra terkekeh.
"Kenapa pak Amin yang harus mencari makan? Bukannya Lyra yang ingin memeliharanya," protesku.
"Kita beli saja lumput nya, Auntie," ucap Anisa.
"Mana ada di sini yang jual rumput, Sayang?"
"Kelinci nya satu ekol saja kok Bu. Ya Bu ya, ya Bu ya," rengek Lyra lagi."
"Kebetulan saya memiliki kebun kosong tidak jauh dari perumahan ini. Silahkan kalau pak Amin mengambil rumput dari sana," ucap sang ketua RT.
"Boleh ya, Bu. Lyla bawa pulang kelinci ini," rengeknya lagi.
__ADS_1
"Boleh nggak ya?"
"Bu … boleh ya?"
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Terima kasih, Bu." Tiba-tiba saja Lyra mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi kananku.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Sesampainya di rumah. Kulihat kak Darren dan ibu menunggu kedatangan kami di teras rumah.
"Alhamdulillah. Di mana kalian menemukan mereka?" tanya ibu.
"Mereka mengejar kelinci ini hingga sampai di sekolah Lyra, Bu."
"Kalian sudah membuat ibu kalian panik."
"Maaf Nek," ucap kedua bocah perempuan kecil itu bersamaan.
"Ya sudah kita ke dalam dulu. Bi Ami sudah selesai memasak," ucap ibu.
"Maaf Bu, Ra, kami jadi merepotkan," ucap Fatimah.
"Tidak usah bilang begitu, lagipula tidak setiap hari 'bukan, kita bisa makan bersama?" tukasku.
"Pak Amin," panggilku pada pak Amin yang tengah membersihkan halaman depan.
"Ya, Bu."
"Tolong pak Amin buat buatkan kandang untuk kelinci ini, ya. Untuk pakannya, pak RT memperbolehkan mengambil rumput dari kebun kosong miliknya yang berada tidak jauh dari perumahan ini."
"Baik, Bu."
"Kelinci nya mau dikasih nama siapa, La?" tanya Anisa.
"Ehm … siapa ya?"
"Bagaimana kalau Rara," usul ibu.
"Nanti jadinya Lala dong Bu. Lyra belum bisa menyebut huruf R." Kak Darren terkekeh.
"Mulai hali ini namamu si belang, ya," ucap Lyra sembari membelai lembut bulu kelinci itu.
"Mari kita makan siang dulu, nanti masakannya keburu dingin," ucap ibu.
Kami pun beranjak dari teras lalu menuju ruang makan.
Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa makan satu meja dengan kakak laki-lakiku, kak Darren. Namun, tetap saja semua ini terasa kurang lengkap tanpa kehadiran kakak perempuanku, kak Maureen.
"Oh ya, bagaimana kabar Karmila? Di mana dia sekarang? tanya Fatimah setelah makan siang selesai.
"Karmila atau kak Maureen sekarang tinggal bersama Fabian."
"Bukankah Maureen seharusnya masih di dalam penjara?"
"Kak Maureen mendapatkan remisi. Masa hukumannya yang seharusnya empat tahun menjadi hanya tiga tahun saja."
"Apa Maureen pernah datang ke rumah ini?" Kak Darren menimpali.
Aku dan ibu saling menatap sejenak sebelum aku memberikan jawaban.
"Ehm … beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja kak Maureen mendatangi rumah ini. Niatnya untuk melamar pekerjaan di konveksi milikku. Tapi, …"
"Tapi kenapa, Ra?"
"Awalnya kami mengobrol baik-baik, hingga pada akhirnya kami memperdebatkan sebuah masalah yang membuat emosi kak Maureen meledak. Dia pun akhirnya meninggalkan rumah ini," ungkapku.
"Aku pikir penjara akan membuat sifat Maureen berubah, ternyata tidak," ujar Fatimah.
"Anisa Sayang, sudah hampir sore. Ayo kita pulang, Nak," ucap kak Darren dengan suara sedikit nyaring, sengaja agar terdengar sampai ke kamar Lyra.
Tidak berselang lama Anisa pun muncul.
Namun, raut wajahnya terlihat begitu murung.
"Ayah, Anisa ingin bobok di sini baleng Lyla," ucapnya.
"Lain kali saja ya, Sayang."
__ADS_1
"Tapi, Yah. Anisa masih ingin main," rengeknya. Kulihat sorot matanya mulai berkaca-kaca.
"Biarkan saja dia menginap di sini, satu atau dua malam. Besok Lyra 'kan libur sekolah," ucap ibu.
"Benar, Kak. Lihat wajahnya, sedih begitu. Mungkin dia masih kangen sama Lyra." Aku menimpali.
"Tapi, Anisa nggak bawa baju ganti," ucap Fatimah.
"Kamu lupa ya? Anisa dan Fatimah 'kan seumuran? Baju Lyra pasti muat di badannya," ucapku.
"Ya sudah, ayah dan ibu izinkan Anisa menginap di sini. Tapi Anisa jangan nakal. Ikuti kata-kata auntie Zura dan nenek," ucap kak Darren.
"Hole! Kita tidul baleng!" sorak kedua bocah perempuan itu seraya melompat kegirangan.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati, Kak … Fat."
Keduanya pun lantas meninggalkan rumahku.
*****
Keesokan paginya.
Aku berada di ruang produksi untuk menggantikan posisi Handoko yang masih beristirahat di rumah lantaran jari tangannya putus lantaran terkena mesin pemotong kain.
"Kenapa Ibu tidak mencari karyawan baru lagi saja? Masa bos ikut bekerja," ucap Seto seraya memeriksa satu persatu pakaian yang baru selesai dijahit.
"Tidak apa, nanti setelah Handoko pulih, dia kembali bekerja di sini."
Beberapa saat kemudian ibu muncul di ruangan itu.
"Di teras ada tamu mencarimu, Nak?"
"Siapa, Bu?"
"Perempuan. Ibu belum pernah melihatnya."
"Seto, kamu handle mesin pemotong kain ini dulu, biar ibu yang memeriksa pakaian-pakaian itu," ucapku. Laki-laki itu mengangguk paham. Seto menggantikan posisiku, sementara ibu memeriksa pakaian yang sudah siap dipasarkan.
Aku beranjak meninggalkan ruang produksi lalu menuju teras rumah. Tampak seorang perempuan berdiri membelakangiku.
"Maaf, ada perlu apa ya?" tanyaku pada perempuan berambut sebahu itu. Detik kemudian perempuan itu pun membalikkan badannya. Rupanya Eva, istri Handoko.
"Kamu? Ada perlu apa mencari saya?" tanyaku.
"Aku minta uang."
"Maksudmu?"
"Masa begitu saja tidak paham. Aku minta uang."
"Buat apa? Dua hari yang lalu saya sudah memberimu uang. Saya rasa jumlahnya lebih dari cukup untuk kebutuhan dapur kalian selama satu Minggu. Kenapa sekarang kamu minta uang lagi?"
"Uangnya sudah habis."
"Tentu saja. Uangnya pasti kamu gunakan untuk keperluan yang tidak penting, makanya langsung habis."
"Suamiku mengalami kecelakaan kerja di konveksi ini, jadi anda harus bertanggung jawab."
"Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian Handoko sendiri, dia bekerja sambil melamun. Saya pun sudah berbaik hati memberi uang santunan agar bisa kalian gunakan untuk kebutuhan dapur. Tapi kamu sendiri malah menyalahgunakannya."
"Cepat beri saya uang! Atau saya akan mengatakan pada semua orang jika konveksi ini memakai tumbal!" ancam Eva.
"Kamu pikir saya takut? Saya justru akan melaporkanmu pada polisi atas tuduhan pemerasan!" Aku balik mengancamnya.
Meskipun hanya sebuah ancaman, ternyata berhasil membuat Eva ketakutan. Tanpa mengucap apapun lagi, dia berlalu begitu saja dari hadapanku.
"Aku bukan Azzura yang lemah, tidak akan ada seorang pun yang bisa menindasku," gumamku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1