
Waktu terus berjalan, kini Lyra sudah berusia tujuh tahun dan mulai memasuki Sekolah Dasar. Sementara Fina melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.
Selain mengawasi kegiatan produksi di konveksi, sesekali aku juga mengunjungi toko kue yang berada tidak jauh dari kampus tempat kak Darren mengajar yang juga menjadi tempat kuliah Fina.
"Aku ke toko kue ku dulu, Bu," ucapku pada ibu.
"Diantar pak Amin 'kan?"
"Nggak, Bu. Nanti pak Amin harus jemput Lyra. Aku naik taksi saja."
"Baiklah, hati-hati."
Setelah berpamitan pada ibu, aku pun meninggalkan rumahku untuk kemudian menuju toko kue milikku.
"Selamat pagi, Bu," sapa karyawanku saat aku memasuki toko.
"Selamat pagi. Rajin sekali kamu. Ini bahkan baru jam setengah delapan pagi."
"Iya, Bu. Di jam-jam segini sering ada anak kost yang membeli kue untuk sarapan."
"Begitu ya."
"Oh ya, Bu. Ini laporan penjualan kue bulan Ini dan uangnya. Silahkan Ibu hitung dulu." Gadis berhijab itu menyodorkan buku dan sejumlah uang padaku.
Gadis tamatan SMK itu bernama Ririn. Selain rajin, dia juga karyawanku yang jujur. Sejauh ini dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Antara laporan penjualan dan hasilnya pun tidak pernah sekalipun mengalami selisih.
"Alhamdulillah, penjualan bulan ini mengalami kenaikan," ucapku setelah mengamati laporan di buku itu.
"Iya, Bu. Banyak pelanggan yang bilang kue yang dijual di toko ini enak dan bikin ketagihan. Itulah alasan mereka ingin kembali lagi ke toko ini," papar gadis berhijab itu.
"Alhamdulillah."
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang yang baru saja memasuki toko. Gadis yang juga tamatan SMK jurusan tata boga itu bernama Ana, karyawanku yang bertugas di bagian pembuatan kue.
"Wa'alaikumsalam," sahutku.
"Eh, ada Bu Zura."
"Iya, Na. Saya datang ke sini untuk memeriksa hasil penjualan bulan ini sekaligus stock bahan-bahan di dapur," jelasku.
"Sepertinya stock bahan-bahan kue di dapur masih aman, hanya pewarna makanan dan soda kue saja yang hampir habis."
"Baiklah, nanti kamu buat daftar belanja saja. Untuk uangnya saya titipkan pada Ririn," ucapku. Ana mengangguk paham.
"Oh ya, ini uang bonus untuk kalian karena penjualan kue bulan ini meningkat," ucapku seraya menyodorkan empat lembar uang pecahan seratus ribu pada mereka.
"Apa ini, Bu? Kami baru lima hari yang lalu menerima gaji," ucap Ririn.
"Tidak apa, ini bonus tambahan agar kalian semakin semangat bekerja di toko kue ini."
"Alhamdulillah, bisa buat beli skincare," ujar Ana yang kutanggapi dengan senyum tipis.
"Oh ya, Rin. Apa ada pesanan kue hari ini?" tanyaku.
"Sebentar, Bu."
Ririn yang bertugas sebagai kasir itu pun lantas mengambil sebuah buku pesanan lalu memberikannya padaku.
"100 cup bolu kukus, dan dua box kue brownies dan satu kue bolu ulang tahun. Sepertinya kamu akan cukup sibuk jika harus mengerjakannya sendiri. Hari ini saya bantu kamu di dapur," ucapku.
"Wah, mimpi apa saya semalam. Sudah dapat uang bonus, sekarang dibantu bos."
"Tidak usah panggi saya begitu. Oh ya, Jika sekiranya kamu kewalahan mengerjakan pesanan kue, kamu bilang saja. Nanti saya akan mencari tambahan karyawan," ucapku.
"Sejauh ini saya masih bisa mengerjakan semua pesanan kue sendiri. Tapi, jika Ibu mau memberi saya kawan di dapur, akan saya terima dengan senang hati." Ana terkekeh.
"Huuuu … bilang saja kamu senang jika ada yang membantumu di dapur." Ririn menimpali.
"Baiklah, nanti saya cari karyawan tambahan untuk membantumu di dapur."
"Siap, Bos!"
"Sudah kubilang, jangan panggil saya bos," protesku.
"Baik, Bu."
"Ya sudah, ayo kita buat pesanan pelanggan kita. Mereka pasti senang jika kue pesanan mereka siap lebih awal," ucapku.
Aku dan Ana pun lantas beranjak dari bagian depan toko lalu menuju dapur.
Kami tengah sibuk membuat kue di dapur ketika tiba-tiba terdengar obrolan Ririn dengan seorang pembeli.
"Apa di sini menjual kue lapis legit, Mbak?"
"Maaf, kue lapis legit di toko ini kebetulan sedang kosong. Pembuatnya sedang sakit katanya," jelasnya.
"Wah, sayang sekali. Padahal ini keinginan istri saya yang sedang ngidam."
__ADS_1
Demi menjawab rasa penasaranku, aku pun meninggalkan dapur lalu menuju ruang depan.
"Maaf, ada apa ini?" tanyaku.
Pria itu pun lantas menoleh ke arahku.
"Masyaallah, Pak Hasan?"
Ya, pria itu adalah pak Hasan, mantan tetanggaku saat aku dan Fabian masih tinggal bersama di perumahan Dahlia tujuh tahun silam.
"Nak Zura? Ini benar Nak Zura 'kan?"
"Iya, Pak. Ini saya Azzura."
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan keluargamu?"
"Alhamdulillah kabar kami baik. Oh ya, tadi saya dengar Bapak mencari kue lapis legit untuk istri Bapak yang sedang ngidam. Apa bu Murni, …"
"Alhamdulillah, Nak. Setelah penantian panjang kami, Akhirnya istri saya hamil."
"Subhanallah, saya turut bahagia mendengar kabar ini."
"Terima kasih, Nak. Saya sudah mendatangi beberapa toko kue, tapi saya tidak menemukan kue lapis legit seperti yang diinginkan istri saya. Di toko ini pun stock nya sedang kosong."
"Apa benar begitu, Rin?" tanyaku pada Ririn.
"Benar, Bu. Saya dengar pembuat kue lapis legit nya sedang sakit."
"Harus di mana lagi saya mencari kue lapis legit itu? Selama ini istri saya tidak pernah minta macam-macam, masa hanya minta kue lapis legit saja saya tidak bisa membelikannya," ucap pak Hasan.
"Ehm … begini saja, Pak. Bagaimana jika saya saja yang membuat kue lapis legit untuk bu Murni? Insyaallah saya bisa."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Tapi, proses pembuatan kue lapis legit ini cukup memakan waktu, jadi Bapak bisa pulang dulu. Nanti saya sendiri yang akan mengantar sendiri kue nya ke rumah Bapak," paparku.
"Maaf ya, Nak, saya jadi merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan. Nanti Bapak bilang saja pada bu Murni jika kue lapis legit nya sedang dibuat dan akan diantarkan siang ini. Tapi Bapak jangan memberitahu jika saya yang akan mengantar kue nya. Saya ingin memberi kejutan."
"Baiklah, berapa harga kue lapis legit nya, Nak?"
"Ah, tidak perlu membayar. Anggap saja ini sebagai ucapan selamat saya atas kehamilan bu Murni."
"Nak Zura ini dari dulu memang tidak pernah berubah. Selalu baik dan tulus pada setiap orang. Pantas saja hidup Nak Zura semakin membaik meskipun sudah berpisah dengan nak Fabian," ujar pak Hasan.
"Ya sudah saya permisi dulu, Nanti kue nya diantar langsung ke rumah saya saja. Nak Zura masih ingat 'kan alamatnya?"
Aku mengulas senyum.
"Tentu saja masih ingat, Pak."
"Ya sudah, saya pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Hasan pun lantas meninggalkan toko kue ku.
*****
Tepat pukul 1 siang aku dan Ana sudah menyelesaikan semua pesanan kue termasuk kue lapis legit yang diinginkan bu Murni.
"Kue-kue ini pelanggan sendiri yang ambil 'kan, Na?" tanyaku.
"Iya, Bu."
"Ya sudah, saya mau mengantar kue lapis legit ini untuk bu Murni. Saya tahu betul bagaimana nikmatnya masa ngidam," ucapku.
"Ibu nggak diantar pak Amin?" tanya Ririn.
"Tidak, pak Amin harus menjemput Lyra. Saya ke sini naik taksi," jawabku.
Kasir itu mengangguk paham.
"Saya pamit dulu, sekalian pulang. Assalamu'alaikum."
Aku pun lantas meninggalkan toko.
Dua puluh menit kemudian aku tiba di depan rumah pak Hasan.
Aku baru saja hendak mengetuk pintu rumah bercat biru muda itu, di saat bersamaan pintu terbuka. Tampak seorang laki-laki berusia sekitar 20 tahun an keluar dari dalam rumah itu.
"Siapa laki-laki ini? Bukankah pak Hasan dan bu Murni hanya tinggal berdua saja?" batinku.
"Assalamu'alaikum," sapaku.
"Wa'aalaikumsalam. Maaf, Ibu ini siapa, dan ada perlu apa?"
__ADS_1
"Saya ingin bertemu bu Murni."
"Oh, Budhe Murni. Sebentar, saya panggilkan."
Laki-laki yang belum kuketahui namanya itu pun lantas masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama ia kembali ke teras bersama bu Murni. Ia begitu terkejut saat melihatku berada di teras rumahnya.
"Masyaallah, Mbak Zura? Apa benar ini Mbak Zura?"
"Benar, Bu, saya Azzura. Saya datang ke rumah Ibu untuk mengantarkan kue lapis legit ini," jawabku.
"Kue lapis legit? Bagaimana bisa Mbak Zura yang mengantarnya?"
Aku mengulas senyum.
"Saya yang membuat kue lapis legit ini ."
"Tadi bapak sudah mendatangi beberapa toko kue termasuk toko kue milik nak Zura ini, tapi bapak tidak menemukan kue lapis legit seperti yang Ibu inginkan. Jadi nak Zura yang menyempatkan diri untuk membuat kue lapis legit ini khusus untuk Ibu," papar pak Hasan.
"Masyaallah, Mbak Zura sampai harus repot-repot membuat kue ini untuk saya. Saya minta maaf sudah merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan. Anggap saja ini sebagai ucapan selamat dari saya atas kehamilan Ibu."
"Iya, Mbak. Setelah penantian lebih dari 15 tahun, Akhirnya Allah mempercayai kami untuk memiliki momongan."
"Alhamdulillah. Oh ya, sudah berapa bulan usia kandungannya, Bu?" tanyaku seraya mengusap lembut perutnya yang sudah mulai membuncit itu.
"Hampir empat bulan, Mbak."
"Semoga semuanya dilancarkan sampai hari persalinan ya, Bu," ucapku.
"Aamiin … terima kasih atas do'anya. Oh ya, bagaimana kabar Lyra?"
"Alhamdulillah Lyra sehat, Bu. Dia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Oh ya, siapa laki-laki yang tadi membuka pintu?"
"Oh, dia keponakan pak Hasan, namanya Rizal. Sudah hampir enam bulan dia tinggal di sini. Rumahnya di kota B, dan dia kuliah di universitas G."
"Oh, kebetulan putri angkat saya juga kuliah di tempat di sana. Dia baru mengambil jurusan ekonomi."
"Kalau saya boleh tahu, siapa nama putri Ibu?" tanya Rizal yang sedari tadi belum beranjak dari ruang tamu.
"Namanya Fina, nama panjangnya Fina Hastuti."
"Oh, Fina. Dia satu kelas dengan saya."
"Dunia sempit sekali di rupanya," ujarku.
"Ya sudah, permisi dulu," ucapku.
"Loh, kok buru-buru."
"Saya tidak pamit pada Lyra, dia pasti terus bertanya saya pergi kemana."
"Rumah Ibu di mana?" tanya Rizal.
"Di perumahan Eddelweiss."
"Kebetulan saya mau ke toko buku. Sepertinya melewati perumahan itu. Kalau Ibu tidak keberatan, bareng mobil saya saja," ucap Rizal.
"Tidak usah, saya bisa naik taksi."
"Saya sakit hati kalau Ibu menolak niat baik saya," ucap Rizal.
"Bu-bu-bukan begitu. Saya hanya tidak ingin merepotkan."
"Saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Ibu 'kan sudah susah payah membuat kue untuk budhe Murni dan jauh-jauh mengantarnya. Jadi, jika Ibu mau saya antar 'kan jadinya impas."
Karena merasa tidak enak hati, aku pun akhirnya menerima tawaran Rizal untuk mengantarku pulang.
****
Aku duduk di bangku depan persis di sebelah bangku kemudi. Suatu ketika mobil yang kutumpangi ini berhenti di perempatan jalan lantaran lampu lalu lintas berwarna merah. Kebetulan mobil Rizal berbentuk Jeep tanpa penutup di bagian atasnya. Jadi siapapun bisa melihatku penumpangnya dari luar.
Aku mengedarkan pandangan di jalanan itu hingga tiba-tiba sepasang netraku bertemu dengan sepasang netra seseorang yang begitu kukenal. Dia juga duduk di dekat bangku kemudi mobilnya.
"Kak Maureen?"
"Zura? Siapa laki-laki itu? Kenapa Wajahnya beda dengan suami kamu? Jangan-jangan kamu selingkuh ya?"
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1