Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Operasi


__ADS_3

"Ehm … ehm … "


"Oh ya, warna kesukaan Lyra apa?" Keenan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.


"Aku suka warna hijau tosca," jawabnya.


"Bukankah kebanyakan anak perempuan biasanya menyukai warna merah muda? Kenapa Lyra menyukai warna itu?"


"Walna hijau tosca bagus."


"Jadi, kamu ingin gaun yang akan kamu pakai saat pernikahan paman Gibran dan ibumu berwarna hijau tosca?" tanya Gibran. Gadis kecilku itu menganggukan kepalanya.


"Sepertinya pertemuan malam ini sudah cukup. Untuk tanggal hari pernikahan kita bicarakan lagi besok," ucap pak Yudha.


"Baik, Pak … Bu," ucap ibuku.


"Sampai bertemu lagi, calon istriku," ucap Gibran setengah berbisik. Aku menanggapinya dengan senyum tipis.


"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum," ucap pak Yudha. Beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan rumahku.


"Kenapa kalian tidak bilang padaku jika Gibran dan keluarganya mau datang?" protesku setelah Gibran dan keluarganya berlalu.


"Maaf, Nak. Bukannya apa, kami hanya bermaksud memberi kejutan untukmu."


"Ya, kejutan yang mengejutkan."


"Ibu merasa begitu lega karena kamu menerima lamaran mereka," ucap ibu.


"Semoga ini keputusan yang benar dan terbaik bagi semuanya."


"Aamiin."


"Oh ya, bagaimana dengan kinerja lima karyawan yang baru mulai bekerja hari ini?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Ibu menempatkan Fahmi di bagian pemotongan kain. Dua orang di bagian mesin jahit, dan dua orang lagi di bagian packing," jelas ibu. Aku mengangguk paham.


"Mungkin besok Handoko mulai bekerja kembali. Sepertinya aku akan menempatkannya di bagian packing saja."


"Ya, ibu setuju."


"Ibu, Lyla ngantuk. Lyla mau bobok sama Ibu," ucap Lyra sembari mengucek matanya.


"Ehm … boleh. Ayo kita tidur. Aku menggendong tubuh kecil itu lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Ah, hari yang begitu melelahkan meskipun ditutup dengan sesuatu yang manis. Kupandangi cincin yang melingkar di jari manisku, entah mengapa malam ini aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Sekuat apapun memberontak, pada akhirnya aku aku harus mengakui jika hati ini telah terpaut pada seorang pria. Pria yang di mataku begitu baik, tulus , pengertian, dan mau menerimaku apa adanya. Ya Rabb … hamba hanya menurut jalan yang harus hamba lalui, namun Engkau lah yang mengatur ceritanya. Kuharap cerita ini berakhir manis pada nantinya.


Kurebahkan tubuhku di atas ranjang,


kutatap wajah malaikat kecilku itu lantas kukecup lembut keningnya.


"Ibu bersyukur memilikimu, Nak.


Karena mu lah ibu bisa kuat dan terus bertahan," lirihku.


Keesokan paginya.

__ADS_1


Aku terbangun dari tidurku dengan perut mual luar biasa, bahkan tubuh ini pun rasanya begitu lemas. Tiba-tiba saja aku teringat nasehat dokter beberapa hari yang lalu yang menyarankan agar aku melakukan operasi secepatnya. Ya, sepertinya aku memang tidak boleh menganggap remeh nasehatnya itu. Sebagai dokter, beliau pasti tahu apa yang terbaik untuk pasiennya.


"Ibu kenapa?" tanya bi Ami saat aku berpapasan dengannya di dapur.


"Ehm … tidak apa kok Bi."


"Wajah ibu terlihat pucat, apa Ibu sakit?"


"Nggak, Bi. Ayo kita shalat subuh di mushola. Pak Amin pasti sudah menunggu," ucapku. Kami pun lantas beranjak dari dapur dan menuju mushola kecil yang berada di bagian belakang rumahku.


"Ibu makannya sedikit sekali," tegur Lyra saat mendapatiku hanya menuangkan satu centong nasi goreng ke dalam piringku saat sarapan.


"Ehm … ibu kalau sarapan memang sedikit. Nanti setelah mengantar Lyra berangkat sekolah ibu makan lagi," tukasku. Putri semata wayangku itu mengangguk paham.


"Oh ya, bagaimana dengan tugas sekolah yang kemarin?" tanyaku.


"Bu guru Syifa membeli bintang lima," jawabnya penuh semangat.


"Oh ya?"


"Bu gulu bilang pohon keluarga Lyla yang paling bagus."


Kutanggapi celotehnya dengan senyum simpul di bibir.


"Bu … kalau Ibu dan paman Giblan menikah nanti, ayah Fabian diundang 'kan?"


Ah, kenapa Lyra harus mengulang pertanyaannya semalam? Putriku ini masih ingat saja jika aku belum memberinya jawaban.


Aku mengulas senyum.


"Belalti nanti Lyla panggil paman Giblan ayah ya?" tanyanya lagi.


"Iya, Lyra Sayang. Dari tadi kamu bicara terus, kapan makananmu habis," ucap ibu.


"Kamu ini banyak tanya deh." Fina menimpali. Lyra menanggapinya dengan menjulurkan lidahnya ke arahnya.


"Sudah, cepat habiskan sarapannya, nanti kalian terlambat," ucapku.


Fina balas menjulurkan lidahnya ke arah Lyra.


****


"Aku minta doanya, Bu. Hari ini aku akan melakukan operasi," ucapku pada ibu saat aku kembali ke rumah usai mengantar Lyra ke sekolahnya.


"Operasi? Hari ini?"


"Ya, Bu. Dokter menyarankanku melakukan operasi secepatnya agar penyakit usus buntu ini benar-benar hilang dengan sempurna.


"Apa tidak sebaiknya kamu memberitahu Gibran?"


"Tidak, Bu. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."


"Ya sudah, ibu temani kamu. Nanti ibu bilang pada Seto untuk mengawasi produksi. Dia bisa dipercaya kok."


"Tidak perlu, Bu. Aku bisa ke rumah sakit dengan pak Amin."

__ADS_1


"Memangnya kalau ada perlu Iki itu kamu tidak sungkan untuk minta bantuannya? Sudah lah, biar ibu temani kamu. Nanti bi Ami yang jemput Lyra."


Akhirnya aku mengangkat setuju.


Setelah berpamitan pada bi Ami, kami pun meninggalkan rumah.


"Kemarin aku bertemu Silvia," ucapku saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Di mana?"


"Di pom bensin. Aku berterima kasih padanya karena dia sudah membantu merekomendasikan konveksiku pada kawan-kawannya. Ternyata ada maksud lain di balik sikap baiknya itu."


"Maksud lain?"


"Ya, Silvia ingin melihat Fabian hancur."


"Sepertinya Silvia memiliki dendam kesumat pada mantan suaminya itu. Dia yang dulu tergila-gila pada Fabian sekarang membuangnya begitu saja seperti sampah," ucap ibu.


Sekitar lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Tidak ada antrean di depan ruangan dokter Zain. Aku pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi, Dok," sapaku.


"Selamat pagi. Ibu Azzura ternyata. Ada keluhan apa, Bu?"


Aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Insyaallah saya siap menjalani operasi hari ini."


"Ibu memang pasien saya yang luar biasa. Baiklah, kami akan segera menyiapkan ruang perawatan. Ibu harus berpuasa beberapa jam sebelum memasuki ruang operasi," jelas dokter. Aku mengangguk paham.


Beberapa jam kemudian.


"Doakan aku, Bu. Agar operasi nya lancar," ucapku pada ibu saat aku sudah berada di depan ruang operasi.


"Pasti, Nak," ucap ibu seraya menggenggam tanganku. Aku bisa melihat kekhawatiran di sorot matanya.


Perlahan ibu melepas genggaman tangannya saat perawat mulai mendorong trolly ku menuju ruang yang mungkin


paling ditakuti semua orang itu.


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memasuki ruangan itu. Lampu berukuran besar yang entah berapa banyak jumlahnya, sementara tidak jauh dari ranjang pasien, tampak puluhan bahkan ratusan alat medis yang berjejer rapi di atas meja berukuran panjang.


"Ibu Zura sudah siap?" tanya dokter Zain yang kini telah mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hijau.


Aku menghela nafas.


"Bismillah … insyaallah saya siap, Dok."


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2