Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Risau


__ADS_3

"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Aku hanya ingin tahu saja. Ibu dan mas Keenan 'kan sudah sering bertemu, siapa tahu perasaan itu mulai tumbuh."


"Perasaan apa maksudmu?"


"Ah, masa Ibu tidak paham juga. Aku yakin seseorang yang dimaksud mendiang mas Gibran dalam mimpi Ibu adalah mas Keenan. Sepertinya kedua orangtua mas Keenan tidak akan keberatan jika Ibu dan mas Keenan menjalin hubungan."


"Masih jam tiga pagi, tidur lagi sana," ucapku.


"Ibu yang membuatku terbangun tadi. Aku pasti kesulitan untuk tidur lagi."


"Maaf, ibu tidak bermaksud membangunkanmu."


"Ya sudah, aku buat kopi saja dan makan camilan sambil nonton drama Korea."


"Fin … Fin. Susah tidur kok malah buat kopi."


"Ibu gak ingin ikut nonton drama Korea? Seru loh."


"Tidak perlu, hidup ibu juga sudah dramatis."

__ADS_1


"Astaga." Fina terkekeh.


"Ya sudah sana kalau mau nonton drama Korea, ibu mau shalat malam."


"Shalat malam untuk apa, Bu? Yang wajib 'kan shalat lima waktu saja."


"Shalat malam hukumnya memang sunat, tapi faedahnya sangat luar biasa."


"Sungguh?"


"Salah satu do'a yang diijabah oleh Allah adalah do'a ketika shalat di sepertiga malam yang terakhir."


"Aku mau shalat bareng ibu tapi lagi datang bulan. Ya sudah, saya titip do'a saja biar cepat dapat pacar." Lagi-lagi Fina terkekeh. Aku menanggapinya dengan nyengir kuda.


Aku menutup pintu kamarku lalu berjalan menuju mushola yang berada di bagian belakang rumah. Setelah mengambil air wudhu aku pun masuk ke dalam ruangan itu. Aku cukup kaget saat mendapati seseorang berada di dalam ruangan itu.


Rupanya pak Amin tengah berdo'a. Entah apa do'a nya, sopir pribadiku terlihat begitu sedih bahkan terisak.


"Pak Amin," panggilku.


"Oh, Ibu shalat malam juga."

__ADS_1


"Ya, Pak. Tadi saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Pak Amin sendiri memang baru bangun atau memang semalaman terjaga?"


"Saya-saya, …" Tiba-tiba pak Amin tergugu.


"Pak Amin kenapa?" tanyaku.


"Saya sedang shalat taubat karena saya merasa waktu itu sudah dekat."


"Astaghfirullahaldzim, kenapa Pak Amin bicara begitu?"


"Entah sudah berapa kali saya bermimpi tentang kematian. Ditambah lagi mendiang istri saya juga sudah dua kali ini datang dalam mimpi saya seolah mengajak saya pergi bersamanya," papar pak Amin.


Entah mengapa kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut pak Amin membuatku merasa sedih. Pak Amin bukan hanya kuanggap sebagai sopir, namun aku menganggapnya seperti keluargaku sendiri.


"Pak Amin jangan terlalu mempercayai mimpi. Mimpi itu hanya bunga tidur 'bukan?"


"Tapi mimpi ini berbeda dengan mimpi yang biasanya. Mimpi itu seperti nyata."


"Pak … kematian memang misteri Allah. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana ajal itu akan datang menjemput kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdo'a semoga Allah memanggil kita dalam keadaan yang baik dan Khusnul khatimah. Selama ini Pak Amin selalu berbuat baik, jadi Pak Amin tidak perlu merisaukan tentang mimpi-mimpi itu. Mendiang istri Pak Amin datang dalam mimpi pasti karena pak Amin begitu merindukannya. Sekarang kita kirim do'a saja untuknya," ucapku. Sopir pribadiku itu mengangguk paham. Kami pun lantas membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an yang kami tujukan untuk almarhumah istri pak Amin.


"Terima kasih, Bu. Perasaan saya sekarang sudah jauh lebih tenang. Saya juga minta maaf jika selama ini saya banyak melakukan kesalahan."

__ADS_1


Aki terdiam merenungi kata-kata pak Amin. Apakah memang benar waktu itu sudah tiba? Apakah pak Amin memang akan pergi?


Bersambung …


__ADS_2