
"Masyaallah. Mbak Zura? Mas Fabian? Ini benar kalian? Mimpi apa saya semalam tiba-tiba hari ini bertemu kalian?"
Aku bisa menangkap binar di sorot mata wanita itu.
Ya. Aku mengajak Fabian ke rumah Bu Murni di perumahan yang pernah menjadi tempat tinggal kami.
"Benar, Bu. Ini saya dan ehm … mantan suami saya."
Bu Murni mengangguk paham. Setelah tahu apa yang terjadi di antara kami, rasanya aku tak perlu menjelaskan lagi kapan kami resmi berpisah.
"Lyra? Kamu sudah besar, Nduk," ucap bu Murni.
"Ya, Bu. Usianya sudah sepuluh bulan."
"Ibu kangen sama kamu, Nduk, cah ayu."
Aku membiarkan saja mantan tetanggaku yang baik hati itu mengambil alih Lyra dari gendongan ayahnya. Toh saat aku tinggal di sini dulu, beliau seringkali membantuku menjaga Lyra saat aku kerepotan.
"Masyaallah, karena terlalu senang, saya sampai lupa tidak mengajak kalian masuk." Bu Murni terkekeh. Beliau pun lantas mengajak kami masuk ke dalam ruang tamu.
"Mbak Zura dan Mas Fabian mau minum apa?" tanya Bu Murni.
"Tidak perlu repot-repot, Bu. Sebenarnya maksud kedatangan kami ke sini karena kami ingin minta tolong pada Ibu," ucapku.
__ADS_1
"Selagi saya bisa bantu, insyaallah saya pasti bantu."
"Ini soal Rayyan," ucapku.
"Siapa Rayyan?"
"Bayi laki-laki yang berada di hendak saya ini namanya Rayyan. Dia adalah anak Fabian dan Karmila," jelasku.
"Memangnya ada apa dengan bayi ini, Mbak? Dan di mana ibunya? Sepertinya saya tidak melihat mbak Karmila."
Dari bu Murni, kualihkan pandanganku pada Fabian yang duduk persis di sampingku sebagai isyarat agar ia yang menjawab pertanyaan tersebut.
"Ehm, istri saya … istri saya di kantor polisi, Bu."
"Astaghfirullahaldzim. Mas Fabian ini tidak sedang bercanda 'kan?"
Suasana hening sejenak.
"Apa Ibu bersedia membantu saya dengan mengasuh dan merawat Rayyan? Saya janji, jika saya sudah memiliki uang, saya akan mengganti semua biaya perawatannya sekaligus mencari pengasuh," ucap Fabian.
Bu Murni pun memberikan Lyra pada Fabian, ia lantas mengamati wajah Rayyan yang masih tertidur pulas dalam gendonganku.
"Bu Murni kok nangis? Apa ada ucapan kami yang membuat Ibu tersinggung?" tanyaku saat mendapati sepasang netra itu mulai basah.
__ADS_1
"Tidak, Mbak. Saya menangis karena terharu. Mbak Zura tahu 'kan? Sudah begitu lama saya dan suami saya mendambakan kehadiran anak. Tetapi Allah belum percaya pada kami. Saya mau merawat bayi ini sekalipun tidak dibayar. Saya berjanji akan merawatnya seperti anak kandung saya sendiri," ungkapnya.
"Alhamdulillah. Allah mempertemukanmu dengan orang baik, Nak," ujarku.
"Apa saya boleh menggendong Rayyan?" tanya bu Murni.
"Tentu saja, Bu."
Aku pun lantas memberikan bayi laki-laki itu pada bu Murni. Aku bisa melihat kebahagiaan di sorot matanya. Meskipun hanya titipan, beliau tetap saja menganggapnya sesuatu yang begitu berharga.
"Oh ya, Bu. Di mana pak Hasan? Apa beliau sudah berangkat mengajar?" tanyaku.
Pertanyaanku terjawab saat suami bu Murni itu tiba-tiba muncul ke ruang tamu.
"Kembalikan bayi itu!" bentaknya pada bu Murni yang sontak membuat kami tercengang.
"Bapak ini kenapa?"
"Sudah kubilang jangan pegang bayi itu!"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…