Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kejutan


__ADS_3

Fabian dan Dini bergegas menghampiri Mila yang baru beberapa saat memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


"Kamu kenapa, Mila?" tanya Fabian dari luar pintu kamar mandi.


"Tolong, Mas. Sakit," lirihnya.


Dari suaranya Mila terdengar kesakitan dan kesulitan membuka pintu kamar mandi yang terkunci secara otomatis dari dalam.


"Kamu kenapa?" 


"Aku terpeleset, Mas. Sakit. Hu hu hu …"


"Cepat buka pintunya! Aku tidk bisa membukanya dari luar!" Fabian yang mulai diserang rasa panik itu mulai menggedor pintu.


"Sakit … aku tidak bisa bergerak."


"Bagaimana ini, Pak? Saya takut sesuatu terjadi pada bu Mila dan bayinya," ucap Dini.


"Kamu jangan membuatku semakin panik! Pintu kamar mandi ini terkunci otomatis dari dalam setelah ditutup. Hanya Mila yang bisa membukanya."


"Bu, pelan-pelan Ibu berdiri, lalu buka pintunya," ucap Dini.


"Bergerak saja tidak bisa. Bagaimana aku berdiri. Dasar bo*oh!" Kali ini Mila meninggikan suaranya.


"Dalam keadaan darurat masih saja galak. Dasar nenek sihir!" umpat Dini.


Fabian semakin cemas saat saat Mila tiba-tiba berteriak dengan cukup nyaring.


"Darah! Darah! Mas! Tolong aku!" 


"Astaghfirullahaldzim. Ada apa, Mila?"


"Ada darah yang keluar dari jalan lahir."


"Jangan-jangan bu Mila mau melahirkan," ucap Dini.


"Jangan ngaco kamu. Usia kehamilannya baru tujuh bulan. Mana mungkin dia melahirkan."


"Mas, perutku mulas!" teriak Mila lagi.


"Tuh, bener kan? Bu Mila pasti mau melahirkan."


"Kamu jangan banyak bicara. Cepat cari bantuan. Dokter, bidan, atau siapa saja


yang bisa membantu Mila melahirkan."


"Saya memanggil dokter pun percuma kalau bu Mila nya masih terkunci di dalam."


"Ya sudah, kamu cari tukang atau siapa yang bisa membantu membuka pintu ini."


"Saya mana tahu siapa dan di mana tukang yang tinggal di dekat sini."


"Hufht! Biar aku yang menghubungi pemadam kebakaran saja!" seru Fabian sembari berlalu dari kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa nggak dari tadi sih, Pak. Kepikiran begitu?"


"Aku kalau panik nggak bisa mikir."


Fabian lekas mengambil ponselnya dan menghubungi petugas pemadam kebakaran.


"Sakit, Mas. Aw!" Karmila tak berhenti berteriak sementara Fabian dan Dini tak bisa berbuat banyak.


"Sabar, Sayang. Aku sudah memanggil petugas pemadam kebakaran untuk membuka pintu ini," ucap Fabian.


"Makanya nggak usah aneh-aneh, Pak. Coba kalau pintunya nggak secanggih ini, daritadi kita sudah membawa Bu Mila ke rumah sakit."


"Ini rumahku. Terserah aku mau pintu kamar mandi model apa saja," ucap Fabian.


"Bapak kan sudah lihat sendiri buktinya, sesuatu yang canggih tidak selalu memudahkan. Ini justru merepotkan."


"Sudah. Jangan membuatku tambah pusing. Sebaiknya cepat kamu siapkan perlengkapan Mila dan calon bayinya yang akan kita bawa ke rumah sakit."


"Apa saja yang mau dibawa, Pak?" tanya Dini.


"Semua yang diperlukan setelah melahirkan. Pakaian bayi dan pakaian ganti Mila."


"Tapi, Pak. Saya nggak berani membuka lemari di kamar ini. Nanti kalau ada barang berharga yang hilang, saya pula yang dituduh mencuri."


"Astaga Dini. Lemari pakaian itu hanya berisi pakaian saja. Semua barang berharga kami simpan di dalam brangkas."


"Begitu, ya. Saya sering nonton sinetron yang di tivi itu, perhiasan milik majikannya hilang dan pembantunya yang dituduh mencuri, terus dipecat."


"Baju bu Mila yang mau dibawa yang mana, Pak? Baju tidur, daster, atau, …"


"Gaun sekalian!"


"Maaf, Pak. Saya kan belum pernah menyiapkan perlengkapan orang mau lahiran." Dini terkekeh.


Suara sirine terdengar dari arah halaman rumah, menandakan jika mobil pemadam kebakaran telah tiba.


"Tolong buka pintu ini, Pak. Istri saya ada di dalam. Sepertinya dia mau melahirkan," ucap Fabian pada salah satu petugas.


Petugas itu pun mulai memeriksa pintu kamar mandi. 


"Jalan satu-satunya merusak pintu ini, Pak."


"Kenapa harus dirusak? Harga pintu ini cukup mahal," protes Fabian.


"Pintu ini terkunci otomatis dari dalam. Kami tidak bisa mendobraknya."


"Berarti nanti saya harus membeli pintu baru lagi."


"Sekarang mana yang lebih penting. Pintu, atau keselamatan istri Bapak?"


"Ya sudah, Pak. Saya ikut kata Bapak."


Petugas pemadam kebakaran itu pun mengeluarkan alat untuk melakukan tugasnya. Beberapa menit kemudian pintu berhasil dibuka. Mila yang sudah mulai kehabisan tenaga itu tampak terkulai lemas di lantai kamar mandi. Dengan dibantu petugas pemadam kebakaran, Fabian pun mengangkat tubuh Mila dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Kamu di rumah saja jaga ibu," ucap Fabian pada Dini.


"Baik, Pak. Semoga bu Mila dan bayinya selamat."


Sesampainya di rumah sakit.


"Berapa usia kehamilan istri Bapak?" tanya dokter.


"Memasuki tujuh bulan, Dok."


"Jadi begini, Pak. Akibat terjatuh beberapa waktu yang lalu, pasien sudah mengalami pecah ketuban dan pembukaan awal. Jadi, pasien akan melahirkan bayinya secara prematur."


"Jadi, istri saya harus melahirkan sekarang juga, Dok?"


"Benar, Pak. Ini demi keselamatan ibu dan bayi."


"Dokter pasti tahu yang terbaik. Saya ikut kata dokter."


Beberapa jam kemudian.


Fabian yang sempat ketiduran di depan ruang bersalin itu terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara tangis bayi dari dalam sana. Karena tak sabar, ia pun menerobos masuk ke dalam ruangan itu.


"Selamat, Pak, Bu. Bayi anda sudah lahir. Laki-laki. Tapi ehm, …" Perawat itu menggantung kalimatnya.


"Tapi kenapa, Sus?"


"Silahkan Bapak adzani dulu."


Fabian mengambil alih bayinya dari gendongan perawat, ia lantas mengumandangkan adzan di dekat telinganya.


"Perawat tadi kenapa, ya?" gumam Fabian.


Demi menjawab rasa penasaran, ia pun membuka kain bedong yang membungkus bayi laki-lakinya itu. Matanya terbelalak saat melihat kondisi bayinya. 


"Astaghfirullahaldzim!" serunya.


"Kenapa, Mas?" tanya Karmila penasaran.


"Bayi kita, …"


"Kenapa dengan bayi kita? Dia laki-laki 'kan? Seperti yang mas inginkan?"


"Bayi kita … bayi kita …"


"Iya. Kenapa dengan bayi kita?" tanya Karmila.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2