Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pamrih


__ADS_3

Fabian yang tengah dilanda kebingungan itu terlihat menumpangi taksi tanpa tujuan yang jelas.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, Pak? Hampir satu jam kita berputar-putar saja," ucap pengemudi taksi.


"Sebenarnya saya mau mencari panti asuhan."


Pengemudi itu pun lantas memandang Rayyan melalui kaca spion yang berada tepat di atas kepalanya.


"Astaga! Apa Bapak sudah tidak waras? Bagaimana mungkin Bapak berpikir untuk mengirim bayi sekecil ini ke panti asuhan?"


"Posisi saya sekarang begitu sulit. Saya baru saja mengalami perampokan, ditambah lagi istri saya ditangkap polisi karena tuduhan pembunuhan. Saya bingung harus kemana lagi meminta bantuan. Sementara orang-orang yang saya kenal menolak membantu saya," ungkap Fabian.


"Oh ya, berapa usia bayi Bapak?"


"Satu bulan."


"Ehm, daripada dikirim ke panti asuhan, bagaimana kalau saya saja yang mengurus bayi Bapak? Saya tidak akan meminta upah sepeserpun. Kebetulan saya dan istri saya sudah begitu lama menginginkan anak ke dua. Anak pertama kami sekarang hampir lulus SMA," ucap pengemudi taksi.


Suasana hening sejenak.


"Bapak pasti ragu karena belum mengenal saya. Agar Bapak yakin, Bapak bisa memegang kartu identitas saya."


"Rayyan ini bukan anak kandungku, mungkin aku biarkan saja pria ini untuk merawatnya. Aku khawatir juga ada yang melihatku meninggalkannya di panti asuhan. Mau ditaruh mana mukaku? Jika ada yang bertanya di mana Rayyan, aku cukup menjawab dia diasuh saudaraku di luar kota, beres," gumam Fabian.


"Bagaimana, Pak? Kenapa Bapak diam saja? Jika Bapak keberatan, saya tidak akan memaksa."


"Ehm, rumah Bapak di mana?" tanya Fabian.


"Tidak jauh dari terminal, Pak." 


"Nama Bapak siapa?"


"Ehm nama saya-nama saya Sumarno."


Fabian yang awalnya sempat ragu akhirnya menyetujui tawaran tersebut.


"Jika Bapak ingin menemui bayi Bapak, bisa mendatangi rumah saya di alamat ini," ucap pengemudi taksi seraya menyodorkan selembar fotokopi KTP pada Fabian.


Tiba-tiba ponsel Fabian berdering yang menandakan seseorang menelponnya.


Ia pun bergegas menjawab panggilan tersebut.


[Halo, Bian. Kamu di mana? Seorang klien menelpon saya, mereka tidak menemukanmu di ruanganmu]


[Ma-ma-af, Tuan. Saya sedikit terlambat. Ada urusan yang harus saya selesaikan.]


[Sedikit katamu? Ini sudah lewat jam sepuluh pagi. Cepat datang atau saya akan mencari karyawan lain untuk menggantikan posisimu!]


[Ba-ba-baik, Tuan. Saya akan datang ke kantor secepatnyaa]


-panggilan terputus-


Telepon dari tuan Anthony tentu saja membuat Fabian semakin resah. Ia tahu, pemilik perusahaan itu akan marah besar jika dia datang ke kantor dengan mengajak serta Rayyan.


"Saya setuju untuk menitipkan bayi ini pada Bapak. Saya tidak tahu lagi harus kemana menitipkannya," ucap Fabian.


"Bapak jangan khawatir. Saya akan merawat bayi Bapak seperti anak kandung saya sendiri."


"Sekarang putar balik taksi ini dan antarkan saya ke kantor," ucap Fabian. Pengemudi taksi itu pun mengangguk paham.


"Semua perlengkapan dan pakaian bayi ini sudah berada di dalam tas ini," ucap Fabian.


"Baik, Pak."


"Oh, ya. Apa saya boleh minta nomor teleponmu?" tanya Fabian.


"Tunggu sebentar."

__ADS_1


Pengemudi taksi menulis 12 angka pada secarik kertas lalu memberikannya pada Fabian.


"Kalau ada perlu, Bapak bisa menghubungi nomor itu."


"Baik, saya percaya padamu. Terima kasih sudah mau membantu."


"Sampai bertemu lagi, Pak."


Fabian pun lantas keluar dari dalam taksi dan bergegas masuk ke dalam kantor. Tampak tiga orang pria mengenakan setelan jas duduk bersebelahan di ruang tunggu.


"Oh, jadi ini direktur baru yang menggantikan Bu Silvia itu? Bagaimana bisa pak Anthony mempercayakan perusahaan pada orang yang tidak disiplin begini?" sindir salah satu pria sesaat setelah ia memasukkan bagian depan kantor.


"Maaf, Pak. Saya terlambat karena ada urusan yang harus saya selesaikan. Saya baru terkena musibah dan istri saya- …"


"Keluarga memang selalu dijadikan alasan. Hari ini istrinya sakit, besok anaknya. Lusa alasan apalagi?" Pria lainnya menimpali.


"Sial. Kalau saja kalian bukan klien perusahaan ini, aku pasti akan memaki kalian," umpat Fabian.


"Sekali lagi saya minta maaf. Mari ke ruangan saya."


Fabian berjalan menuju ruangannya diikuti kedua pria itu di belakangnya.


****


Fabian yang tengah melamun di ruangannya itu tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


"Bu Silvia?"


"Tadi para klien mengatakan jika mereka tidak puas dengan presentasi yang kamu berikan. Mereka menganggap kamu tidak fokus seolah tengah memikirkan banyak hal. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu ingatan Silvia memang belum pulih benar. Namun pesona Fabian tak membuat kekagumannya itu hilang.


"Saya-saya ehm, …"


"Kalau kamu memang sedang ada masalah, ceritakan pada saya. Siapa tahu saya bisa membantu."


"Ada apa, Bian? Sepertinya masalah yang kamu hadapi cukup berat."


"Kemarin malam rumah saya mengalami perampokan."


"Astaga!"


"Semua barang berharga milik saya raib. Bahkan mobil saya pun dibawa kabur."


"Kamu sudah lapor polisi?" tanya Silvia.


Fabian menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak memiliki bukti apapun. Perampok itu menggunakan modus gendam. Aku sama sekali tidak mengingat wajahnya. Sialnya lagi kamera pengawas yang terpasang di pos security hari itu tidak berfungsi," ungkapnya.


"Perampok itu hanya mengambil harta bendamu saja 'bukan? Maksudku, dia tidak melukaimu ataupun anak dan istrimu?"


"Perampok itu memang tidak melukai kami. Tapi, …" Fabian menggantung kalimatnya.


"Tapi kenapa?"


"Gara-gara kejadian itu istriku harus ditangkap polisi."


Silvia mengerutkan keningnya.


"Bukankah kalian yang menjadi korban perampokan? Kenapa istrimu yang ditangkap polisi?" tanyanya dengan raut wajah heran.


Fabian membuang nafas.


"Istriku ditangkap karena tidak sengaja mendorong security perumahan yang berusaha melerai saat ia bersitegang dengan salah satu warga di pos security. Pagi tadi polisi menangkapnya."


"Kenapa semuanya jadi kacau begini? Lantas, di mana anak kalian sekarang? Apa dia dalam pengasuhan saudaramu?"

__ADS_1


Sekali lagi Fabian menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya memiliki seorang saudara perempuan, dan dia sudah cukup lama meninggal. Ibuku pun sekarang dalam keadaan sakit dan orang luar yang merawatnya."


"Jadi, di mana anak kalian?"


"Aku menitipkannya pada seseorang."


"Siapa yang kamu maksud?"


"Seorang pengemudi taksi."


"Apa kamu sudah kehilangan akal? Bagaimana mungkin kamu berpikir menitipkan anakmu pada orang asing yang tidak kamu kenal?"


"Saat itu pikiranku benar-benar kacau. Aku sudah berusaha minta tolong pada orang-orang yang kukenal, namun mereka menolak membantu dengan berbagai alasan. Itulah sebabnya saat pengemudi taksi itu menawarkan bantuan untuk mengasuh bayi itu, aku menyetujuinya."


"Aku heran. Kenapa kamu segampang menitipkan anak kandungmu pada orang lain? Bagaimana jika dia bukan orang baik-baik? Bisa saja dia berpura-pura ingin merawat anakmu, tapi ternyata dia menjualnya?"


"Terserah dia mau apakan bayi itu, aku tidak ambil pusing."


"Ayah macam apa kamu ini?"


"Bayi itu bukan anak kandungku," lirih Fabian.


"Hah?! Coba ulangi lagi ucapanmu."


"Dia bukan anakku. Bayi itu bukan anak kandungku!" tegas Fabian.


"Lantas?"


"Bayiku terlahir cacat. Aku sudah berusaha menerimanya, tapi tidak dengan istriku. Dia nekat membayar perawat untuk menukar bayi kami dengan bayi lain yang sempurna," ungkap Fabian.


"Benar-benar perempuan tidak waras! Ibu macam apa yang tega menukar anak kandungnya sendiri dengan bayi lain? Kurasa istrimu terlalu banyak dosa. Biarkan saja dia dipenjara untuk merenungi dosa-dosanya."


"Meskipun istriku berperangai buruk, tetap saja aku tidak sampai hati jika harus membiarkannya mendekam di sel tahanan. Apalagi hukuman untuk tersangka pembunuhan pastilah tidak sebentar."


"Lantas?"


"Apa Ibu bisa membantuku?"


"Membantu apa?"


"Aku ingin Ibu menyewa pengacara agar Karmila bisa bebas dari jeratan hukum."


Silvia tampak berpikir sejenak sebelum ia memberi pernyataan yang cukup mengejutkan.


"Aku punya banyak kawan pengacara. Mudah saja bagiku untuk meminta mereka menjadi pengacara bagi istrimu. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Bu?"


"Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini."


"Ibu jangan khawatir. Ibu bisa memotong gaji saya untuk mengganti biaya penanganan kasus istri saya."


Silvia tersenyum tipis.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan uang."


"Lantas?"


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2