Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tak direncana


__ADS_3

"Saya harus membawa pak Fabian dan perempuan ini ke kantor balai desa. Kalian harus menikah sekarang juga," ucap pria bernama pak Hanan itu.


"Menikah?"


"Ya. Apa yang kalian lakukan sudah melanggar norma etika sekaligus norma agama di lingkungan ini, dan kalian perlu tahu, peraturan itu sudah berjalan turun temurun dari jauh sebelum saya lahir. Siapapun pasangan bukan muhrim yang ketahuan berbuat me*um di lingkungan tempat tinggal ini harus kami nikahkan hari itu juga," jelas pak Hanan.


"Ja-ja-di saya harus menikah dengan Fabian sekarang juga?"


Berbeda dengan Fabian yang terlihat shock dan kebingungan, Silvia justru merasa seperti mendapatkan keberuntungan. Ia tak menyangka, dari berbagai macam cara sudah ia lakukan agar dapat menikahi Fabian, justru hal tak terduga ini lah yang bisa mewujudkan keinginannya.


"Benar, Mbak. Jika tidak, warga khawatir kami akan menerima sial."


"Astaga. Apa aku bermimpi? Aww!"


Silvia mencubit tangannya sendiri dan ternyata ia mengaduh kesakitan.


"Rupanya ini bukan mimpi. Sebentar lagi aku akan menjadi istri Fabian," gumam Silvia.


"T-t-tapi, Pak. Meskipun sekarang berada di penjara, saya masih suami sah Karmila."


"Ya. Tapi kalian sedang dalam proses perceraian 'bukan?" Silvia menimpali.


"Mari Pak Fabian … dan Mbak ehm, …"


"Silvia."


"Pak Fabian dan Mbak Silvia, mari ikut saya ke kantor balai desa sebelum warga bertindak kasar pada kalian," ucap pak Hanan.


"Nggak usah menolak. Kalau sudah menikah mau kawin kapan saja dan di mana saja kan bebas. Tidak perlu sembunyi-sembunyi begini," celetuk salah satu warga yang disambut gelak tawa warga yang berada di tempat itu.


"Mari, Pak Fabian … Mbak Silvia," ucap pak Hanan.


Sepanjang perjalanan menuju kantor balai desa, Fabian hanya diam dengan wajah tertunduk lesu. Namun tidak dengan Silvia. Dia begitu bahagia karena momen inilah yang sudah begitu lama ia nantikan.


****


"Kamu dari mana saja? Anak gadis jam segini baru pulang," ucap tuan Anthony sesaat setelah Silvia masuk ke dalam rumah.


"Aku-aku, …"


"Selamat malam, Tuan," sapa pak Hanan yang masuk selang beberapa saat setelah Silvia.


"Selamat malam. Maaf, anda siapa? Kenapa anda pulang bersama putri saya?"


"Sebelumnya saya minta maaf jika saya datang ke rumah Tuan tanpa diundang. Perkenalkan nama saya Hanan. Saya adalah salah satu perwakilan warga."


"Ada keperluan apa Bapak datang ke rumah saya?"


Pertanyaan itu belum dijawab namun tuan Anthony kembali dikejutkan dengan kemunculan Fabian di ruangan itu dengan membawa tas ransel berukuran cukup besar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Fabian? Kamu? Kenapa kamu membawa tas besar itu? Memangnya kamu mau kemana?"


"Ehm … Yah. Mulai hari ini dan seterusnya Fabian akan tinggal di rumah ini."


"Apa maksudmu, Nak?" Tuan Anthony mengerutkan keningnya.


"Pak Fabian dan mbak Silvia ini sudah resmi menjadi suami istri. Mereka baru saja menikah." Pak Hannan menimpali.


"Bapak jangan bercanda. Itu sama sekali tidak lucu."


"Saya serius, Tuan. Pak Fabian dan putri Tuan sudah menikah sah secara agama."


"Ini membingungkan saya. Tiba-tiba saja Bapak datang ke rumah saya dan mengatakan jika putri saya dan Fabian sudah menikah. Sebenarnya ada apa ini? Silvia. Apa kamu bisa menjelaskan ini?"


Silvia maju beberapa langkah mendekati sang ayah.


"Ehm … apa yang dikatakan pak Hannan benar, Yah. Aku dan Fabian sudah menikah,"ucapnya.


"Aku ini ayah kandungmu. Kenapa kamu menikah tanpa memberitahuku?" protes tuan Anthony.


"Meskipun tanpa kehadiran Tuan, saya bisa memastikan pernikahan mereka sah secara hukum. Ada wali hakim dan saksi juga saat pernikahan tadi," jelas pak Hannan.


"Ayah masih belum paham dengan pernikahanmu yang mendadak ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?"


"Ehm … begini, Tuan. Beberapa waktu yang lalu warga memergoki mereka sedang berbuat me*um di dalam mobil," jelas pak Hannan.


Tentu saja kalimat yang baru saja meluncur dari mulut sang kepala desa membuat tuan Anthony tercengang sekaligus meradang.


"Kalian tidak punya moral! Plak! Plak!"


Dua kali tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri itu.


"Aku minta maaf, Yah. Tapi, meskipun kami dinikahkan paksa, kami saling mencintai. Bukan begitu, Bian?"


Fabian masih enggan bersuara. Wajahnya pun masih tertunduk.


"Memalukan!"


"Sekarang Fabian sudah menjadi suamiku, dia boleh tinggal bersama kita 'kan?"


"Aku tidak sudi tinggal bersama laki-laki yang sudah mempermalukan keluarga kita!"


"Tapi, Yah. Aku mencintai Bian. Ayah tahu itu 'bukan?"


"Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini, tinggalkan dia!" Tuan Anthony mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Fabian.


"Kami belum genap satu hari menikah. Bagaimana mungkin Ayah meminta kami berpisah?"

__ADS_1


"Kamu tinggal pilih, laki-laki ini atau ayah!"


"Aku mencintai Bian, aku juga begitu menyayangi Ayah. Aku tidak bisa jika disuruh memilih." Silvia meraih tangan tuan Anthony namun pria itu menepisnya dengan kasar.


"Kamu sudah membuat ayah malu. Ayah kecewa padamu!" serunya.


"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Silvia, Tuan. Jika Tuan memang keberatan menerima saya tinggal di rumah ini, detik ini juga saya akan pergi." Fabian membalikkan badannya dan berniat meninggalkan ruangan itu. Tentu saja Silvia menahannya.


"Jangan pergi, Bian," ucapnya seraya menarik lengan Fabian.


"Aku tidak bisa tinggal di sini, ayahmu tidak menerimaku. Kamu ikuti kata-katanya, jangan jadi anak durhaka," ucap Fabian.


"Aku sekarang sudah menjadi istrimu. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi."


"Kehidupan kita sangat jauh berbeda. Kamu terbiasa tinggal di rumah mewah, sementara aku hanya tinggal di rumah kontrakan kecil. Aku takut kamu tidak terbiasa."


"Kamu jangan khawatir. Dengan uang tabunganku, kita akan membeli rumah baru. Aku juga masih memiliki investasi di beberapa perusahaan," ucap Silvia.


"Jadi, kamu lebih memilih laki-laki ini dibandingkan ayahmu 'hah?"


"I-i-iya, Yah. Statusku sekarang adalah istri Fabian. Aku harus taat dan patuh padanya."


"Baiklah, jika memang itu keputusanmu. Detik ini juga aku memecat Fabian dari kantor! Dan kamu, jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumah ini! Kamu bukan putriku lagi! Aku juga akan membekukan semua rekening atas namamu!"


"Astaga. Ayah. Kenapa Ayah setega itu? Aku ini putri kandungmu satu-satunya."


"Kamu yang sudah mencoreng arang di wajahku. Anak tidak tahu diri!" Tuan Anthony mengarahkan kursi rodanya ke arah kamarnya. Namun tiba-tiba ia memegangi dadanya sembari merintih kesakitan.


"Ayah kenapa?" tanya Silvia dengan raut wajah panik.


"Kamu tidak usah peduli padaku. Pergi saja dengan suami tercintamu itu!"


"T-t-tapi, Yah. Aku tidak mungkin meninggalkan Ayah dalam keadaan begini."


Apa keputusan yang diambil Silvia?


Ikuti terus kelanjutannya ya, Kak.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2