Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kehancuran Fabian


__ADS_3

"Siapa laki-laki ini?!" bentak Fabian.


"Kamu salah paham. Dia hanya kawanku."


Fabian menyeringai kecut.


"Kawan macam apa yang memanggil istri orang lain dengan panggilan sayang?"


"Memangnya kenapa kalau aku punya kawan laki-laki?"


Suasana hening sejenak.


"Apa kamu selingkuh?"


"Kenapa kamu menuduh begitu?"


"Buktinya sudah cukup jelas. Dari obrolan kalian melalui sambungan telepon tadi, aku yakin kamu pasti memiliki hubungan khusus dengan laki-laki itu!"


"Ya! Aku akui, aku memang menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Aku lelah hidup bersama pelayan cafe sepertimu!"


"Dulu kamu begitu menginkanku. Tapi sekarang dengan mudahnya kamu membuangku."


"Aku perempuan normal yang ingin selalu hidup berkecukupan. Aku butuh pakaian bagus, perhiasan, dan perawatan. Semua hal itu tidak kudapatkan darimu."


"Kamu memang tidak pernah bisa berdamai dengan keadaan."


"Kamu yang tidak bisa membahagiakan istri. Kalau tahu hidupku blangsak begini, aku memilih tidak pernah bertemu denganmu," ucap Silvia.


"Jadi, apa maumu sekarang 'hah?!"


"Aku ingin kita pisah!"


"Oh, baik. Kalau memang itu maumu. Detik ini juga aku jatuhkan talak padamu. Kita bukan lagi suami istri! Punya istri sepertimu sama sekali tidak menguntungkan!"


"Kamu pikir aku menyesal kehilangan suami sepertimu? Aku bisa mendapatkan suami yang lebih segalanya darimu."


Silvia berlalu dari hadapan Fabian lalu masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian ia keluar dengan membawa koper berisikan pakaian miliknya.

__ADS_1


"Pergi dari hadapanku sekarang dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku!" seru Fabian.


"Aku bersumpah setelah ini hidupmu akan hancur!"


"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Aku justru akan membuktikan aku lebih bahagia tanpamu."


Silvia beranjak dari ruang tamu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang selama kurang lebih dua tahun ini menjadi tempat tinggalnya.


"Argh!! Kenapa semuanya jadi kacau begini? Tuhan tidak adil padaku!" Fabian meraih vas bunga lalu membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Sama seperti hidupnya kini. Hancur …


****


"Kesehatan Tuan akhir-akhir ini menurun. Apa tidak sebaiknya Tuan memeriksakan diri ke dokter?" ucap Evan.


"Aku merindukan Silvia. Aku menyesal telah mengusirnya. Apa kamu bisa mengajaknya kembali ke rumah ini?"


"Apa Tuan sungguh-sungguh dengan ucapan Tuan?"


"Ya. Aku ingin Silvia kembali ke rumah ini. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi Fabian. Sampai kapanpun aku tidak sudi menerimanya menjadi bagian dari keluargaku."


"Jika memang itu keinginan Tuan, sekarang juga aku akan menemui nona Silvia di rumahnya."


"Astaga. Silvia. Apa benar ini kamu, Nak?"


"Ya, Ayah. Ini aku." Silvia meletakkan kopernya lalu menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Detik kemudian tangisnya pun pecah.


"Maafkan Via, Yah," lirihnya.


"Ayah juga minta maaf. Tidak seharusnya ayah berbuat sekejam ini padamu."


"Kamu membawa kopermu, apa ini berarti kamu pulang, Nak?"


"Ya, Yah. Fabian telah menjatuhkan talak padaku. Dia juga mengusirku dari rumah kontrakan."


"Sudahlah, untuk apa juga kamu hidup dengan laki-laki tidak berguna sepertinya. Mudah saja bagi ayah mencarikanmu laki-laki yang sepadan dan pantas untuk menjadi pendampingmu."


"Ayah tidak perlu susah payah mencarinya. Laki-laki itu begitu dekat dengan Ayah. Dia bahkan berada di ruangan ini," ucap Silvia.

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Nak? Di rumah ini hanya ada kita bertiga."


"Laki-laki itu adalah Evan."


"Apa ayah tidak salah dengar?"


Silvia tersenyum simpul.


"Ayah tidak salah dengar. Aku baru sadar Evan memiliki perasaan yang begitu tulus padaku. Selama menikah dengan Fabian, dia lah yang selalu mencukupi kebutuhanku dari pakaian, perhiasan, hingga perawatan. Hal yang tidak pernah sekalipun kudapatkan dari Fabian yang hanya seorang pelayan cafe," ungkapnya.


"Jadi kalian, …"


"Sebenarnya saya sudah begitu lama mengagumi nona Silvia. Tapi saya sadar diri, saya hanyalah orang suruhan. Sama sekali tidak pantas untuk nona Silvia. Hingga suatu hari saya tidak sengaja bertemu nona Silvia di taman. Dia terlihat begitu sedih dan tertekan lantaran Fabian tidak bisa memenuhi kebutuhannya."


"Dulu aku memang tak pernah memandang Evan. Tapi aku mulai merasakan ketulusan hatinya saat dia begitu peduli dengan keadaanku yang tengah terpuruk. Perlahan perasaan itu pun tumbuh hingga aku sadar aku benar-benar telah jatuh cinta pada Evan. Ya, meskipun aku tahu bukan hal yang benar menjalin hubungan dengan pria lain di belakang Fabian."


"Fabian sudah menjatuhkan talak padamu. Itu artinya kalian bukan lagi suami istri. Lagipula dulu kalian menikah secara siri 'bukan? Jadi kamu tidak perlu susah payah mengurus surat perceraian," ucap tuan Anthony.


"Apa ini berarti Ayah menyetujui hubunganku dan Evan?" tanya Silvia.


Dari Silvia, pandangan tuan Anthony beralih pada Evan.


"Aku sudah begitu lama mengenalmu. Selain jujur dan bertanggung jawab, kamu juga setia padaku. Aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama pada putriku. Aku merestui hubungan kalian. Setelah masa Iddah Silvia berakhir, kalian bisa menikah."


"Apa Tuan sungguh-sungguh dengan ucapan Tuan?"


"Memangnya saya pernah bercanda?"


"Saya berjanji pada Tuan dan pada diri saya sendiri untuk menjaga nona Silvia dengan segenap hati. Saya tidak akan pernah menyakiti fisik ataupun perasaannya," ujar Evan.


"Aku percaya padamu, Evan," ucap tuan Anthony.


Bersambung …


Mampir juga ke novel baruku yuk kak yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2