Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Keras hati


__ADS_3

"Astaga. Kenapa Mas diam saja? Kenapa dengan bayi kita, Mas?"


"Ti-ti-tidak apa. Tadi perawat bilang kamu harus belajar menyusui." Fabian mengangkat bayinya lalu memberikannya pada Mila.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kita 'kan, Mas?" tanya Mila setelah memberikan ASI pertamanya.


"Kamu saja nggak apa-apa yang memberi nama untuknya."


"Loh, kok gitu? Mas ingin punya anak laki-laki 'kan? Sekarang aku sudah memberi apa yang Mas mau."


"Aku belum nemu nama yang tepat."


"Dulu Mas antusias banget saat tahu jenis kelamin bayi kita laki-laki. Kenapa sekarang Mas berubah gini?"


"Aku sudah bilang 'kan? Aku nggak punya nama yang tepat. Kamu saja yang memberi nama."


"Bagaimana kalau Rayyan?"


"Terserah kamu saja."


"Ibu panggil kamu Rayyan ya, Sayang," bisik Mila. Ia lantas mengecup lembut pipi bayi laki-lakinya.


Mila sedikit kaget saat tiba-tiba merasakan cairan hangat yang menembus pakaian di bagian perutnya. Rupanya itu adalah air seni pertama Rayyan. Mila pun membaringkan bayinya di atas tempat tidur dan berniat hendak mengganti kain popok serta bedongnya.


"Biar aku saja yang gantiin popoknya," ucap Fabian. Tentu saja dia khawatir Mila shock melihat keadaan bayi mereka.


"Gak apa-apa, Mas. Biar aku saja. Aku juga harus belajar merawat bayi 'bukan?"


"T-t-tapi, …"


Mila pun mulai membuka kain bedong yang menutupi badan mungil itu. Dia tertegun saat melihat kondisi bayi yang diberi nama Rayyan itu.


"Bayi kita … bayi kita … astaga! Dia cacat!" Mila membekap mulutnya.


Ya, bayi laki-laki Fabian dan Fabian terlahir tidak sempurna atau cacat. Jari tangan kanannya tidak lengkap, sementara jari sebelah kirinya berlebih.


"Tidak! Ini pasti bukan anakku. Anakku tidak mungkin cacat!" 


"Ini memang anak kita. Aku melihat sendiri perawat mengangkatnya dari selangkanganmu dan membersihkannya."


"Ini pasti bayi orang lain. Perawat itu pasti salah!"

__ADS_1


"Tidak, Mila. Perawat itu tidak mungkin salah. Dia juga yang menyuruhku untuk mengadzani bayi kita."


Meski kepayahan, Mila menggendong Rayyan dan berusaha beranjak dari ranjang pasien.


"Dokter! Suster! Mana bayiku! Ini pasti ada kesalahan!" teriaknya.


"Ada apa, Bu?" tanya dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Mana perawat yang tadi membantu saya melahirkan? Bayi ini pasti tertukar dengan bayi orang lain.


"Suster Siska berada di ruang persalinan lain untuk membantu pasien lainnya yang juga hendak melahirkan."


"Dia pasti sudah menukar bayi saya dengan bayi lain."


Dokter itu mengerutkan keningnya.


"Maaf, maksud Ibu bagaimana?"


"Suster Siska pasti sudah menukar bayi saya dengan bayi lain yang cacat."


"Itu tidak mungkin, Bu. Setelah bayi ibu lahir, Suster langsung memakaikan gelang khusus di pergelangan tangannya. Di gelang itu tertulis nama kedua orangtua bayi. Jadi, saya bisa menjamin perawat di rumah sakit ini tidak akan melakukan kesalahan apalagi ada kasus bayi tertukar," ungkap dokter.


"Saat hamil, saya selalu minum susu dan vitamin mahal. Tidak mungkin bayi saya terlahir cacat."


"Dokter mudah saja bicara begitu. Coba istri Dokter melahirkan bayi cacat begini. Apa Dokter akan diam saja?"


"Maaf, saya permisi. Masih banyak pasien yang harus saya tangani." Dokter itu berlalu dari hadapan Mila, ia lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku tahu ini berat, tapi kita harus ikhlas menerima takdir Allah. Meskipun Rayyan memiliki kekurangan, kita tidak boleh menyalahkan, apalagi membencinya," ujar Fabian.


"Lihat anak kita. Dia cacat. Jika besar nanti, dia pasti akan menjadi bahan cemoohan tetangga dan kawan-kawannya."


"Jadi, kita bisa apa?" tanya Fabian.


Suasana hening sejenak.


"Kita tukar bayi kita dengan bayi lain yang sempurna."


"Jangan gil* kamu Mila. Itu perbuatan dosa!" tegas Fabian.


"Memangnya Mas tidak malu punya anak cacat?"

__ADS_1


"Bagaimana pun keadaannya, kita harus ikhlas menerima Rayyan."


"Mas mungkin bisa, tapi aku tidak!"


"Lantas?"


"Aku tidak mau merawatnya. Terserah Mas mau suruh orang lain merawatnya atau membuangnya di panti asuhan, aku tidak peduli!"


"Istighfar, Mila. Ibu macam apa kamu, tega membuang anak sendiri."


"Oek … oek …"


"Rayyan haus. Kamu susui dia dulu."


"Aku tidak sudi memberikan ASI ku pada bayi cacat ini! Singkirkan dia jauh-jauh dariku!"


"Jangan begitu, Mila. Kasihan Rayyan. Sumber kehidupannya saat ini hanya dari ASI mu."


"Sudah kubilang, aku tidak mau merawat apalagi memberikan ASI untuknya!"


"Dasar keras kepala!" Fabian mengangkat salah satu tangannya hendak melayangkannya di wajah Mila namun ia urung melakukannya saat tiba-tiba suster Siska memasuki ruangan itu.


"Suster Siska," panggil Mila.


"Ya. Ada apa, Bu?"


"Suster mau uang?" tanyanya.


"Apa maksud ucapan Ibu?"


"Jika Suster ingin uang besar dalam waktu singkat, Suter harus melakukan tugas dari saya."


Perawat muda itu berpikir sejenak sebelum dia bertanya pada Mila.


"Tugas apa, Bu?" tanyanya penasaran.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2