Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Buntu


__ADS_3

"Apa Ibu sudah tahu alamat pengemudi taksi yang merawat putera kandung bu Mala?" tanya Siska. Aku sengaja mengajaknya bertemu di depan cafe Rainbow.


"Kata Fabian rumah pengemudi taksi itu berada tidak jauh dari terminal."


"Kenapa Ibu tidak mengajak serta ayah kandung Rayyan? Bukan saya saja, dia juga menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas keberadaan anak kandung bu Mala."


"Dia terlalu sibuk bekerja."


"Jadi, dia mau lepas tangan begitu saja?"


"Sudahlah, tanpa campur tangannya pun kita berdua pasti bisa menyelesaikan masalah ini," tukasku.


Setelah mengajak mantan perawat itu masuk ke dalam mobilku, kami pun memulai pencarian.


Aku pikir dengan berbekal nama pengemudi taksi itu akan mempermudah pencarian kami. Namun, fakta yang kudapat sungguh di luar dugaan. Salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari terminal mengatakan jika pak Sumarno beserta anak dan istrinya tidak selamat dalam musibah gempa bumi yang terjadi tiga tahun lalu.


"Apa Bapak tahu nasib bayi yang dirawat pak Sumarno?" tanyaku.


"Bayi mana yang Ibu maksud? Setahu saya almarhum bapak Sumarno hanya memiliki seorang anak perempuan yang sudah duduk di bangku SMA."


"Jadi, Bapak tidak tahu dengan bayi laki-laki yang diasuh beliau?"


"Maaf, Bu. Saya kurang tahu."


"Bagaimana ini, Bu? Kita kehilangan jejak Rayyan," ucap Siska.


Aku terdiam sejenak dan berpikir.


"Apa mungkin Fabian membohongiku? Tapi apa untungnya dia berbohong? Mungkinkah musibah gempa bumi itu terjadi ketika Rayyan belum lama diasuh pak Sumarno, jadi belum banyak warga yang tahu keberadaannya di rumah pak Sumarno," gumamku.


Aku tak cukup puas dengan hanya bertanya pada satu orang saja. Akhirnya aku bertanya pada sesama pengemudi taksi. Aku yakin kawan seprofesinya pasti tahu perihal pak Sumarno yang diminta seseorang untuk merawat bayi.


"Pak Sumarno memang pernah bercerita pada saya jika dia diminta merawat seorang bayi laki-laki oleh ayah kandungnya sendiri. Tapi hanya beberapa hari setelahnya saya mendengar kabar jika pak Sumarno dan keluarganya tewas dalam musibah gempa bumi lantaran tertimpa reruntuhan dinding rumahnya."

__ADS_1


Lagi-lagi jawaban yang kudapat tidak sedikit pun memberikan petunjuk di mana keberadaan Rayyan. Di mana anak kandung Kak Maureen dan Fabian itu sebenarnya? Apa dia masih masih hidup? Ataukah dia turut tewas dalam musibah itu?


Lantaran tidak mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan Rayyan, aku pun akhirnya mengakhiri pencarian.


Sepulangnya dari pencarian Rayyan, aku pun kembali menemui kak Maureen di Lembaga pemasyarakatan.


"Bagaimana, Zura? Kamu sudah bertemu suster Siska?" tanya kak Maureen.


"Ya, Kak. Selain suster Siska, aku juga menemukan di mana keberadaan Saddam dan bu Mala."


"Saddam? Bu Mala? Siapa mereka?"


"Saddam adanya anak kandung Kakak yang sudah Kakak buang."


"Di mana Saddam sekarang? Kamu mengajaknya ke tempat ini 'bukan? Aku ingin sekali melihat wajahnya," ucap kak Maureen penuh semangat.


"Aku memang bertemu Saddam. Tapi, bu Mala tidak akan menyerahkan Saddam begitu saja jika dia tidak dipertemukan dengan anak kandungnya."


Aku tersenyum tipis.


"Ini tidak sesederhana yang Kakak pikir."


"Maksud kamu apa, Ra?"


"Aku dan Siska sudah mencari di mana keberadaan alamat rumah pak Sumarno. Tapi, …"


"Tapi kenapa?"


"Kami tidak menemukan Rayyan."


"Kamu benar-benar mendatangi alamat pak Sumarno 'bukan? Bagaimana mungkin kamu tidak menemukan Rayyan?" protes kak Maureen.


"Pak Sumarno sudah meninggal dunia," ucapku.

__ADS_1


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Apa dia meninggal karena sakit, Ra?" tanya kak Maureen.


Aku menggeleng pelan.


"Pak Sumarno meninggal bukan karena sakit, melainkan karena musibah gempa bumi. Tidak hanya pak Sumarno saja, tapi istri dan anaknya pun turut meninggal dunia."


"Bagaimana dengan Rayyan? Apa dia, …"


Kak Maureen menatap lekat mataku.


"Tidak ada satupun orang yang tahu bagaimana nasib Rayyan."


"Ya Rabb … ampunilah dosaku," lirih kak Maureen seiring dengan tangisnya yang mulai tumpah.


"Aku minta maaf tidak bisa menemukan keberadaan Rayyan. Aku tidak tahu bagaimana lagi mencari petunjuk. Aku benar-benar kehilangan jejaknya," ujarku.


"Masalah ini terjadi karena kesalahanku sendiri. Mungkin ini hukuman dari Allah atas dosa-dosaku di masa lalu," isaknya.


"Kita pasrahkan semuanya pada Allah. Jika Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin bagi Nya. Meskipun kecil, harapan itu selalu ada," ucapku.


"Maafkan hamba Mu yang penuh dosa ini, ya Rabb," lirih kak Maureen.


Kak Maureen yang ada di hadapanku sekarang bukan lagi Karmila yang kukenal arogan, angkuh dan keras kepala. Semoga saja dia benar-benar telah berubah.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2