
POV Author
Setengah jam kemudian Sabrina tiba di salon.
"Kenapa jam segini baru datang, Rin? Bukannya kita janjian sudah dari satu jam yang lalu?" tanya pemilik salon.
"Aku kena macet di jalan."
"Oh ya, mau creambath sama facial aja nih? Nggak mewarnai rambut sekalian?" tanya perempuan paruh baya bernama Sofia itu.
"Apa aku masih pantas mewarnai rambut?"
"Pantas-pantas saja kok. Kamu tuh masih cantik, nggak kalah sama gadis-gadis di luar sana."
"Kamu bisa saja."
"Oh ya. Gimana berondong yang kemarin? Kami masih jalan sama dia 'kan?" Tiba-tiba Sofia mengalihkan pembicaraan.
"Ah! Ngapain bahas dia."
"Memangnya kenapa? Aku salut sama kamu. Bisa membuat laki-laki setampan dia bertekuk lutut padamu."
"Sudahlah, jangan ngomongin dia lagi. Bikin sakit hati!"
"Memangnya kalian sudah putus?"
"Begitulah."
"Jadi, kamu jalan lagi sama laki-laki tua itu?"
"Siapa? Yoga?"
"Memangnya selain dia, laki-laki mana yang kamu pacari?"
"Yoga baru saja melamarku."
"Apa?!"
"Dia benar-benar serius menjalani hubungan denganku."
"Terus? Kamu terima lamaran dia?"
"Tentu saja aku terima. Dia tuh baik, kaya dan nggak perhitungan. Hanya saja anak gadisnya yang menjadi masalah. Dia tidak menyetujui hubungan kami. Bahkan tadi dia nekad mendatangi tempat kostku dan mengancamku agar menjauhi ayahnya. Aku terlambat datang ke tempat ini lantaran harus berdebat dengannya."
"Anak gadis pacarmu itu pasti berpikir kalau ibu tiri pasti lebih kejam dari ibu kota." Sofia terkekeh.
"Kalau saja gadis itu tahu, aku mau dinikahi ayahnya hanya untuk menutupi aibku."
"Aib? Maksud kamu apa?" Sofia mengerutkan keningnya.
Sabrina mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga kawan baiknya itu.
"Aku hamil."
"Astaga! Gil* kamu Rin! Jangan-jangan berondong itu pelakunya!" Suara Sofia terdengar cukup nyaring hingga membuat beberapa pasang mata yang berada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan padanya.
"Namanya Irwan."
"Kalian ngapain aja, kenapa kamu bisa kebobolan? Ckckckck." Sofia menggeleng heran.
"Aku dan Irwan hanya melakukannya sekali. Kupikir aku tidak akan hamil."
"Kenapa kamu nggak mengejar Irwan? Dia yang berbuat, dia juga yang harus bertanggung jawab."
"Irwan itu laki-laki breng*ek! Setelah mendapat apa yang dia mau, dia menghilang bagai ditelan bumi. Itulah sebabnya aku menerima lamaran Yoga. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa selamat. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi cibiran warga jika mereka tahu janda sepertiku hamil," ungkap Sabrina.
"Semoga Yoga cepat-cepat menikahimu sebelum perutmu semakin membesar."
__ADS_1
"Kamu bisa pegang rahasia ini 'kan, Sof? Aku hanya cerita sama kamu saja."
"Kamu tenang saja, Rin. Rahasiamu aman di tanganku."
"Aku percaya kamu kawan yang baik."
"Ya sudah, aku tinggal dulu. Biar anak buahku yang melayanimu," ucap Sofia.
"Kamu mau kemana?"
"Aku harus ke rumah sakit menemaniku suamiku kemoterapi."
"Astaga! Suamimu dari dulu belum sembuh juga?"
"Penderita kanker mungkin kecil kemungkinannya bisa sembuh."
"Aku heran, kenapa kamu masih saja setia dengan laki-laki penyakitan itu. Kalau aku jadi kamu, udah kutinggal."
"Sayangnya aku nggak pernah berpikir begitu. Bagaimana pun mas Tomy adalah suamiku. Aku akan menemaninya dalam keadaan apapun. Dia yang sudah mengangkat derajatku dari seorang SPG kosmetik menjadi pemilik salon yang cukup besar seperti sekarang," ungkap Sofia.
Sabrina terdiam, entah apa yang dipikirkannya.
"Layani pelanggan kita ini dengan baik, ya. Saya harus pergi sekarang," ucap Sofia pada salah satu anak buahnya.
"Baik, Bu."
"Aku pergi dulu, Rin. Sampai ketemu lagi."
"Hati-hati."
Sofia pun lantas beranjak meninggalkan salon.
Satu jam kemudian Sabrina tampak keluar dari salon. Wajahnya kini terlihat lebih segar. Rambutnya yang panjang tergerai itu pun semakin berkilau.
Tidak berselang lama sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depan salon. Tentu saja ia mengenal betul siapa pemiliknya.
"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap pemilik mobil itu.
Pria itu lantas mengamati penampilan Sabrina dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Semakin aku mengenalmu, kamu semakin cantik saja, Rina. Aku tidak sabar ingin segera menikahimu."
"Sejak kapan Mas Yoga pandai merayu?"
"Aku berkata jujur. Kamu satu-satunya wanita yang mampu membuka kembali pintu hatiku setelah sekian lama tertutup," ujar Prayoga.
"Aku lapar," ucap Sabrina. Tentu saja dengan suara yang terdengar sedikit manja.
"Ya sudah, kita cari cafe. Kebetulan aku juga belum makan siang."
Prayoga membuka pintu mobilnya lalu mempersilahkan Sabrina masuk ke dalamnya.
"Apa Widya tahu kita sedang keluar?" tanya Sabrina sesaat setelah mobil Prayoga melaju.
"Tidak. Aku tadi dari toko langsung ke sini. Memangnya kenapa?"
"Tadi Widya mendatangi tempat kost ku."
"Dari mana dia tahu alamat tempat tinggalmu? Aku tidak pernah memberitahunya."
"Bisa saja dia mengikuti Mas secara diam-diam saat datang kemari."
"Widya ngapain? Dia nggak ngomong yang aneh-aneh 'kan?" tanya Prayoga.
"Widya mengancamku, Mas. Dia memintaku untuk menjauhimu. Jika tidak, dia akan membuat hidupku kacau."
"Kamu tidak usah takut. Widya hanya menggertak saja. Aku mengenal betul sifatnya. Dia tidak akan berani berbuat senekad itu."
__ADS_1
"Bagaimana jika Widya tidak main-main? Aku takut dia melakukan sesuatu padaku."
"Tenang saja, Widya tidak akan seberani itu."
"Jadi, kapan Mas menikahiku?"
"Bagaimana kalau bulan depan?"
"Semakin hari perutku akan bertambah besar. Bagaimana jika Yoga curiga aku hamil sebelum menikah?" gumam Sabrina.
"Kenapa kamu diam, Rin?"
"Ehm-ehm. Kenapa harus menunggu bulan depan? Bulan ini kebetulan aku berulang tahun. Jika kita menikah di hari ulang tahunku, pasti akan menjadi kado yang terindah bagiku."
"Begitu, ya? Baiklah, aku akan segera mengurus persyaratan pernikahan kita."
"Mas Yoga memang laki-laki yang paling pengertian. Aku tidak salah memilih Mas sebagai pendamping hidup," ucap Sabrina sembari menggenggam tangan kiri Prayoga.
"Kita makan siang di sini saja, ya? Makanan di sini juga enak," ucap Prayoga sesaat setelah menepikan mobilnya di depan sebuah cafe.
"Calon istri yang baik harus menurut pada calon suaminya 'bukan?"
Prayoga menanggapi ucapan itu dengan menjawil hidung Sabrina. Keduanya pun lantas turun dari dalam mobil.
"Tunggu, Mas!" Tiba-tiba Sabrina menghentikan langkahnya saat melintasi sebuah mobil berwarna hitam.
"Kenapa, Rin?"
"Sepertinya aku mengenal mobil ini."
"Memangnya itu mobil siapa?"
Sabrina pun lantas mengamati mobil itu.
Tidak salah lagi, mobil itu adalah mobil Fabian.
"Ini mobil mantan suami Zura."
"Mungkin dia sedang makan siang di sini juga," ucap Prayoga.
"Awas kamu, Fabian!" gumam Sabrina.
"Kamu kenapa, Rin? Sepertinya kamu kesal banget dengan pemilik mobil ini."
"Gimana aku nggak kesal? Fabian menikah lagi dengan perempuan lain secara diam-diam. Sekarang dia mengabaikan Zura dan Lyra."
Sabrina lantas menggandeng tangan Prayoga dan mengajaknya masuk ke dalam cafe tersebut.
"Selamat siang. Maaf, sepertinya Ibu sedang mencari seseorang di cafe ini," ucap seorang pelayan cafe yang mendapati Sabrina tengah celingukan di ruangan yang cukup besar itu.
"Iya, Mbak. Saya mencari keberadaan seseorang. Saya melihat mobilnya di depan cafe ini, tapi saya tidak menemukan pemiliknya."
"Kalau boleh tahu, mobil mana yang Ibu maksud?"
"Mobil berwarna hitam itu."
Sabrina mengarahkan jari telunjuknya ke arah mobil yang berada di tempat parkir cafe.
"Oh, mobil itu memang dititipkan di cafe ini, Bu. Pemiliknya membayar uang yang cukup besar untuk biaya penitipannya," jelas pelayan cafe.
"Dititipkan? Memangnya kemana pemilik mobil itu?" tanya Sabrina lagi.
"Maaf, Bu. Saya kurang tahu. Pemiliknya mengatakan lusa baru mengambil mobil ini."
"Astaga. Kemana sebenarnya Fabian?" gumam Sabrina. "Oh ya. Apa pemilik mobil itu sendirian saja?" tanyanya kemudian.
Bersambung…
__ADS_1
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰