
"Aku datang ke sini untuk memberi ucapan selamat atas kelahiran anak kalian. Kebetulan aku punya kawan perawat yang bekerja di rumah sakit," ucapku.
"Aku tidak perlu ucapan selamat darimu!" seru Mila ketus.
"Bagaimana pun Lyra dan anakmu adalah saudara se ayah. Apa aku boleh melihat bayi kalian? Kata Mayra bayi kalian laki-laki." Aku melangkah maju, namun Mila menahanku.
"Aku tidak mengizinkanmu melihat bayiku."
"Ya sudah. Ini kado untuk anakmu. Kuharap bermanfaat," ucapku sembari meletakkan paper bag berwarna biru itu di atas meja ruang tamu.
"Zura? Lyra? Sejak kapan kalian datang?" tanya Fabian yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Aneh, ada pesta dan banyak tamu begini, dia malah mengurung diri di dalam kamar.
"Baru saja," jawabku singkat.
"Solehah nya ayah sudah besar sekarang. Sudah bisa apa kamu, Nak?"
"Merangkak."
"Tidak lama lagi kamu pasti bisa jalan. Kalau kamu sudah bisa jalan nanti, ayah belikan sepeda ya."
Lyra yang kini berusia sepuluh bulan itu tiba-tiba menggapai tangan Fabian seolah meminta ayah kandungnya itu untuk menggendongnya."
"A … yah."
"Masyaallah. Kamu sudah bisa memanggil ayah? Lyra memang anak pintar. Fabian menggendong tubuh mungil itu lalu menciuminya gemas.
Ada apa ini? Fabian yang biasanya acuh pada putrinya, kenapa tiba-tiba bersikap semanis ini? Bukankah dia juga baru saja memiliki bayi?
"Mas, …"
Aku bisa menangkap ekspresi tidak suka dari wajah Mila. Sudah pasti dia cemburu melihat sikap Fabian yang begitu ramah pada kami.
"Gantian Rayyan dong nggendong nya," protes nya.
"Dia sedang tidur. Nanti bangun kalau digendong," ucap Fabian tanpa sedikit pun menoleh ke arah Karmila. Dia justru asyik bermain dengan Lyra.
"Jadi, nama anak kalian Rayyan? Nama yang bagus. Semoga kelak menjadi anak yang soleh, pintar, dan berbakti pada kedua orangtuanya."
Satu keanehan lagi. Mengapa mereka tidak mengamini doaku untuk Rayyan? sudahlah. Mungkin mereka hanya menganggapku basa-basi.
"Oh ya. Sekarang mas Fabian sudah menjadi direktur loh," ucap Mila dengan angkuhnya.
"Alhamdulillah, aku ikut senang."
"Kami lihat sendiri 'kan? Setelah berpisah denganmu, nasib mas Fabian malah mujur? Sekarang terbukti siapa yang membawa sial dan membawa keberuntungan."
"Jabatan adalah amanah. Semakin tinggi jabatan suamimu, tanggung jawabnya akan semakin besar," ujarku.
"Tentu saja. Gajinya juga akan semakin besar. Mungkin kami akan membeli rumah baru."
Kutanggapi ucapan Karmila dengan senyum tipis di bibir.
"Oh ya. Bagaimana kabar Ibu? Apa aku boleh menemuinya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu perlu tahu. Gaji mas Fabian sekarang besar. Kami bisa membayar orang untuk merawatnya," ucap Mila.
__ADS_1
"Seharusnya kamu malu bicara begitu. Kamu yang dulu selalu bilang bisa mengurus ibu dengan baik, kini justru lepas tangan dan membayar orang lain untuk merawatnya."
"Mas Fabian saja nggak keberatan kok. Kenapa kamu yang protes?"
"Dini!" panggil Fabian.
Tidak berselang lama tampak seorang gadis muncul dari dalam rumah. Usianya mungkin baru dua puluh tahunan.
"Ya, Pak."
"Tolong antarkan dia untuk menemui ibu," titah Fabian.
"Mari, Mbak. Eh, Bu."
"Nama saya Azzura."
"Mari Bu Zura ikut saya ke kamar bu Kinanti."
Aku pun lantas berjalan mengikuti gadis yang dipanggil Dini itu.
"Ibu, …"
Aku tak bisa lagi menahan tangis haruku saat memasuki kamar itu. Tubuh wanita tua itu kian kurus, bagaikan tulang dan kulit saja. Wanita yang pernah menjadi ibu mertuaku itu pun menoleh ke arahku. Bisa kulihat binar di sorot matanya, meskipun detik kemudian kedua netra itu mulai basah.
"Zura," lirihnya.
Kuraih tangannya, lalu kutempelkan di keningku sebagai tanda hormat.
"Alhamdulillah, bisa bertemu ibu lagi," ucapku dengan suara bergetar.
"Maaf, Bu. Aku dan mas Fabian sudah resmi berpisah. Kami tidak bisa tinggal bersama lagi," ucapku.
"Ibu-mau-ikut-kamu."
"Aku minta maaf, Bu. Tempat tinggalku sekarang tidak sebesar rumah ini. Aku takut Ibu tidak nyaman jika Ibu tinggal bersamaku. Lebih baik Ibu tetap di sini. Aku yakin Dini akan merawat Ibu dengan baik."
Perlahan ibu melepaskan tanganku. Aku bisa menangkap kekecewaan di raut wajahnya.
"Maafkan Zura, Bu," ucapku.
Ibu memalingkan wajahnya. Jujur, ini menyakitkan. Tapi apalah dayaku. Di tempat tinggalku sekarang aku hanya memiliki dua kamar. Jika ibu tinggal bersamaku, beliau tidak akan nyaman di sana.
"Zura pamit dulu, Bu." Aku hendak meraih tangan mantan ibu mertuaku itu namun beliau justru menariknya. Astaghfirullah, apa ibu kini juga membenciku?"
"Jadi, Bu Zura ini mantan istri mas Fabian toh?" tanya Dini sesaat setelah aku meninggalkan kamar itu.
"Kenapa, Din?"
"Bu Zura ini baik, lembut, dan penyayang. Pak Fabian bod*h banget ninggalin Bu Zura demi bu Mila yang kasar dan galak seperti nenek sihir."
"Tidak baik bicara begitu, Din."
"Kenyataannya begitu, Bu. Seandainya bu Mila seperti Bu Zura, saya pasti betah kerja di rumah ini dan tidak sering membantah."
"Kamu jangan suka membantah. Ikuti saja apa kata Mila."
__ADS_1
"Ngadu saja! Ngadu! Jelek-jelekin aku terus!" seru Mila dari ruang tamu. Aneh. Mila tidak mendengar obrolan kami, kenapa dia menuduh Dini mengadu padaku?
"Ibu ini kenapa? Siapa juga yang ngadu. Saya cuma ngomong kalau bu Zura ini baik, lembut, dan penyayang."
"Kamu membandingkannya denganku. Begitu 'bukan?"
"Ya silahkan Ibu pikir sendiri. Siap yang lebih lembut. Bu Mila atau Bu Zura."
"Kamu lama-lama berani ya?!"
"Saya bicara fakta loh, Bu. Kalau disuruh milih, saya lebih memilih punya majikan seperti bu Zura."
"Lihat tuh Mas. Perawat ibu lancang dan berani padaku," Mila mengadu pada Fabian.
"Sudahlah, jangan seperti anak kecil," tukas Fabian.
"Lyra, ayo pulang, Sayang," ucapku sembari membopong Lyra yang tengah merangkak di lantai.
"Simpan uang ini untuk keperluan Lyra," ucap Fabian sembari menyelipkan amplop berwarna putih di kain gendonganku.
"Terima kasih. Sebaiknya kamu gunakan uang ini untuk keperluan Rayyan. Insyaallah aku bisa mencukupi kebutuhannya," ucapku.
"Sini uangnya! Kalau dikasih ke kamu pasti habis buat makan!" Mila merebut amplop itu lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Memang ada yang namanya mantan istri. Tapi tidak pernah ada istilah mantan anak. Sampai kapanpun Lyra tetap putriku. Aku masih memiliki kewajiban menafkahinya sampai dia selesai sekolah," ujar Fabian.
"Ibunya saja sombong nggak mau dikasih uang kok. Ngapain dipaksa?"
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Hati-hati Bu Zura." Dini melangkah mendekat ke arahku.
"Jaga ibu baik-baik ya, Din," ucapku.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
Baru beberapa langkah meninggalkan rumah Fabian, tidak sengaja kudengar obrolan beberapa warga penghuni kompleks perumahan itu.
"Aneh banget ya. Masa anaknya pak Fabian dan bu Mila sama sekali tidak mirip dengan orangtuanya."
"Iya. Kulitnya agak gelap, rambutnya juga keriting. Aku curiga itu bukan anak kandung pak Fabian. Tapi anak dari bu Mila dan selingkuhannya."
"Atau jangan-jangan bayi mereka cacat, lalu ditukar dengan bayi lain yang sempurna," ucap warga lainnya yang sontak membuat tawa mereka meledak.
"Ibu pasti kebanyakan nonton drama televisi."
Aku terdiam sejenak. Meskipun hanya sekedar gurauan, entah mengapa obrolan mereka cukup mengganggu pikiranku. Apakah benar yang mereka katakan jika Rayyan tidak memiliki kemiripan dengan ayah dan ibunya? Jika memang benar, apakah mereka sampai hati menukar bayi mereka dengan bayi orang lain? Biarlah itu menjadi urusan mereka.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1