
"Ini bukan masalah uang, tapi masalah hati."
"Apa maksud Ibu?"
"Dokter mengatakan kecelakaan itu telah menghapus sebagian memoriku tentang kejadian di masa lalu. Tapi aku merasa kita pernah begitu dekat," ungkap Silvia.
"Sebenarnya apa maksud ucapan Ibu?"
"Aku menyukaimu, Bian. Jadilah kekasihku."
Tentu saja kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Silvia membuat Fabian tersentak kaget. Rupanya kecelakaan itu hanya menghapus memori di otaknya saja, tidak dengan perasaannya.
"Ibu tahu 'bukan? Aku sudah punya istri."
"Ya. Aku tahu. Tapi menurutku istri macam dia tidak pantas kamu pertahankan. Jika perlu kamu ceraikan saja."
"Tapi, Bu, …"
"Terserah kamu. Kalau kamu menolakku, jangan harap aku mau membantumu. Biarkan saja istrimu menghabiskan sisa umurnya di dalam penjara. Setahuku hukuman bagi seseorang yang menghilangkan nyawa orang lain cukup berat. Bisa saja saat keluar dari penjara nanti istrimu sudah lanjut usia."
Fabian terdiam. Tentu saja ia bingung menentukan pilihan. Mila bebas, tapi dengan syarat dia harus menerima pernyataan cinta dari atasannya itu.
"Bagaimana, Bian? Kamu pasti ingin istrimu bebas 'bukan?"
Fabian masih belum memberi jawaban.
"Aku beri kamu waktu semalam untuk berpikir. Ingat. Hanya aku saja yang bisa membantu istrimu terlepas dari jeratan hukum," ucap Silvia sesaat sebelum meninggalkan ruangan Fabian.
*****
Sementara itu di sebuah sel tahanan.
"Hei anak baru! Dari kemarin kerjamu hanya menangis saja. Apa kamu tidak capek 'hah?!" seru seorang tahanan wanita yang sudah cukup lama menjadi tahanan di Lembaga pemasyarakatan itu.
"Kamu pikir dengan menangis orang yang sudah kamu bunuh akan hidup lagi?!" ucap wanita itu yang sontak membuat tawa semua penghuni di sel itu meledak.
"Kalau belum tahu kebenarannya, tidak usah banyak mulut!" seru Mila.
"Kalau kamu tidak bersalah, tidak mungkin kamu berada di tempat ini." Tahanan wanita lainnya menimpali.
"Suamiku seorang direktur perusahaan besar. Dia pasti akan membayar pengacara mahal untuk membebaskanku dari tempat terkutuk ini!"
"Hanya suami bo*oh yang mau membuang uangnya demi membebaskan istrinya yang telah menjadi pembunuh. Yang ada suamimu membuangmu dan mencari istri baru." Sekali lagi tawa para penghuni sel tahanan itu meledak.
"Aku tegaskan sekali lagi, aku bukan pembunuh! Aku hanya korban fitnah."
"Berani sekali kamu menggertakku. Kamu ini anak baru. Masih untung aku tidak menyiksamu!"
"Orang miskin saja sombongnya selangit. Kamu bertahun-tahun mendekam di sel ini karena kamu tidak punya uang untuk membayar pengacara 'kan?"
"Breng*ek!" Wanita berbadan tinggi itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mila.
"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi Karmila.
__ADS_1
Tentu saja Mila tersulut emosinya. Dia pun bermaksud membalas serangan wanita itu dengan cara mencakar wajahnya. Perkelahian tak terhindarkan. Bukannya melerai, semua penghuni sel tahanan itu justru bersorak seolah tengah menjadi wasit dalam sebuah pertandingan.
Saling dorong, saling menjambak, bahkan tahanan yang paling senior itu sempat membanting tubuh Mila yang posturnya jauh lebih pendek jika dibandingkan dirinya.
"Priittt!"
Perkelahian keduanya terhenti saat tiba-tiba terdengar bunyi peluit dari depan pintu jeruji besi. Sudah bisa ditebak siapa yang meniupnya.
"Astaga. Apa yang kalian lakukan?!"
"Anak baru ini yang berani."
"Dia yang menamparku duluan."
"Kalau mulutmu tidak pedas, aku tidak mungkin bertindak kasar padamu."
"Kamu memang miskin 'kan? Kenapa harus tersinggung?"
"Kamu, …!"
"Sudah. Cukup! Berhenti atau saya akan memindahkan kalian berdua di sel bawah tanah!" ancam sipir yang sontak membuat keduanya bungkam. Membayangkannya saja sudah membuat siapapun bergidik ngeri. Bagaimana jika harus benar-benar dipindahkan ke sel paling menakutkan itu?
"Saudara Karmila."
"Saya, Bu."
"Ada kunjungan untuk anda."
"Paling juga suamimu datang dengan membawa surat gugatan cerai," celetuk salah satu tahanan.
"Diam! Kusumpal nanti mulutmu!" gertak Mila.
"Kalau kalian mau terus berdebat, silahkan. Saya akan meminta petugas membuka sel bawah tanah," ucap sipir.
"Jangan, Bu! Baiklah, saya diam," ucap Mila.
Sipir wanita itu pun lantas membuka pintu jeruji besi dan mengajak Mila menuju ruang kunjungan.
"Mas Fabian!" pekiknya saat mendapati Fabian duduk di salah satu bangku di ruangan itu.
"Kamu datang ke tempat ini untuk membebaskanku 'kan, Mas?" tanya Mila sembari menggenggam tangan Fabian.
"Ehm, … aku-aku, …"
"Mas pasti sudah menyewa pengacara mahal untukku."
"Kamu tahu 'bukan? Saat ini aku tidak memiliki apapun. Aku sudah benar-benar bangkrut. Jangankan untuk membayar pengacara, untuk membantu gaji Dini saja aku pusing."
"Terus, ngapain Mas datang ke sini?"
"Aku hanya ingin memastikan kalau keadaan kamu baik-baik saja."
"Mas ingin tahu keadaanku 'bukan? Lihat ini!" Mila memperlihatkan luka di bagian wajahnya akibat perlakuan kasar dari salah satu penghuni sel.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Siapa yang melakukan ini padamu?"
"Senior."
"Pasti kamu duluan yang mencari gara-gara hingga membuatnya bertindak sekasar ini."
"Aku nggak bilang apa-apa kok. Mereka saja yang suka membully tahanan baru," bantah Mila.
"Baru sehari ditahan saja sudah babak belur begini. Apa jadinya kalau Mila harus mendekam bertahun-tahun di tempat ini?" gumam Fabian.
"Oh ya. Rayyan sama siapa?" tanya Mila.
"Ehm, di rumah sama Dini."
"Memangnya dia bisa mengurus bayi?"
"Mudah-mudahan."
Tidak mungkin Fabian mengatakan jika kini Rayyan sudah berada dalam pengasuhan orang asing yang baru saja dikenalnya.
"Bu Silvia menawarkan bantuan untukmu." Fabian mengalihkan Pembaca.
"Sungguh? Baik juga dia."
"Dia menawarkan jasa pengacara agar kamu bisa secepatnya bebas dari tempat ini."
"Mas terima tawaran itu 'kan?"
"Ehm, aku-aku, …"
"Kenapa?"
"Bu Silvia memang menawarkan bantuan tetapi bersyarat.,"
"Bersyarat?"
"Ya. Dia mau mencari pengacara untukmu asalkan aku bersedia menjadi kekasihnya."
"Dasar perawan tua! Sudah umur 30 tapi belum laku dan sekarang mau merebut suami orang!" umpat Mila.
"Bu Silvia memberiku waktu semalam untuk berpikir. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. Di satu sisi aku tidak tega membiarkanmu berlama-lama berada di bui, tetapi aku juga tidak mungkin menerima cintanya. "
"Ya sudah. Mas pura-pura saja menerima Silvia. Ingat! Hanya pura-pura. Ini semua hanya supaya aku bisa terlepas dari jeratan hukum."
"Pura-pura? Apa aku bisa menjalani hubungan dengan Bu Silvia tanpa sedikitpun melibatkan perasaan?" gumam Fabian.
Bersambung….
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1