
POV Author.
Di rumah Fabian
"Sudah cukup lama setelah kamu dan Maureen memutuskan untuk rujuk, tapi kenapa istrimu itu tidak kunjung hamil?" ucap bu Kinanti di sela sarapan paginya.
"Entahlah, sepertinya Maureen juga tidak pernah melakukan kontra*epsi."
"Ibu 'kan juga ingin punya cucu lagi."
Tidak berselang lama Maureen keluar dari dalam kamarnya. Ia pun lantas menuju meja makan.
"Sepertinya kamu perlu melakukan tes kesuburan," ucap bu Kinanti.
"Apa maksud Ibu? Ibu 'kan tahu aku pernah hamil dan melahirkan. Kenapa aku harus melakukan tes kesuburan?"
"Jangan-jangan kamu kualat tidak bisa hamil lagi karena kamu telah menelantarkan anak kalian yang cacat itu."
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Aku akan membuktikan kalau aku bisa hamil dan melahirkan lagi. Kalau perlu kami akan melakukan program kehamilan," ucap Maureen.
"Oh ya, saat ibu ke toko bahan kue kemarin, ibu bertemu dengan Zura. Bukankah dia pengantin baru? Kenapa dia tidak pergi bersama suami barunya?"
"Kami juga melihat Zura berada di dalam mobil seorang laki-laki yang usianya jauh lebih muda darinya. Aku yakin laki-laki itu bukan suaminya."
"Apa Ibu mau tahu jawabannya saat Maureen bertanya siapa laki-laki itu?"
"Memangnya apa jawabannya?"
"Dia justru menjawab dengan ketus.
"Memangnya apa urusan kalian kalau aku selingkuh? Kalian sama sekali tidak berhak ikut campur apapun urusanku!"
Maureen menirukan ucapan Zura.
"Apa mungkin Zura berubah begitu?"
"Bisa saja. Dia sekarang punya banyak uang, jadi bisa melakukan apapun yang dia suka."
Maureen memeriksa ponselnya, tiba-tiba saja ia mendengus kesal.
"Kamu kenapa? Buka ponsel kok kesal begitu," tanya Fabian.
"Bagaimana aku tidak kesal. Semua orang membahas toko kue LYRA."
"Toko kue LYRA? Memangnya kenapa dengan toko itu?" tanya Fabian lagi.
"Astaga. Apa kamu tidak paham juga, toko kue itu kan milik mantan istrimu."
"Zura?"
"Memangnya siapa lagi mantan istrimu?
Pokoknya aku tidak akan pernah membiarkan dia sukses! Mas, …"
"Kenapa?"
"Aku mau kita membuka toko kue juga."
"Zura membuka toko kue karena dia memang pandai membuat kue, kue buatannya juga enak. Kamu sama sekali tidak bisa membuat kue. Bagaimana kamu berpikir untuk membuka toko kue?" ucap Fabian.
__ADS_1
"Kenapa Mas jadi membandingkanku dengannya?"
"Aku tidak bermaksud membandingkanmu dengan Zura. Memang begitu 'kan kenyataannya? Kamu tidak bisa membuat kue."
"Aku bisa mengambil kursus membuat kue. Pasti tidak butuh waktu lama untuk bisa memiliki ketrampilan membuat kue."
"Tidak usah macam-macam, lebih baik kamu fokus saja agar kamu cepat hamil dan memberi cucu untuk ibu," tukas bu Kinanti.
"Itu terus yang dibahas! Aku muak!" Maureen meninggalkan meja makan lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Ibu jangan terlalu menekan Maureen. Kalau sudah saatnya nanti Maureen pasti hamil lagi," ucap Fabian.
"Ibu minta uang." Tiba-tiba sang ibu mengalihkan pembicaraan.
"Buat apa, Bu?"
"Ibu ingin membeli baju gamis dan mukena baru."
"Sepertinya baju gamis Ibu sudah cukup banyak. Mukena Ibu juga masih bagus."
"Ibu bosan dengan mukena yang itu-itu saja. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan puasa. Memangnya kamu mau kalau ibu-ibu di komplek perumahan mengatai kamu pelit karena membiarkan ibu memakai mukena model kuno?"
"Ya sudah, nanti aku beri uangnya."
"Ibu mau sekarang. Pagi ini juga ibu mau langsung ke toko nya."
"Iya, nanti sebelum aku berangkat ke konveksi aku beri uangnya."
"Jangan Ibu saja yang diberi uang, aku juga butuh uang," ucap Maureen yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Ia terlihat telah berpakaian rapi.
"Kamu mau kemana?"
"Kamu tidak usah memaksakan diri begitu. Lagipula sudah begitu banyak toko kue. Bagaimana kalau toko kuemu nanti tidak laku?"
"Itu urusan nanti. Yang terpenting aku tidak mau kalah dalam hal apapun dengan Zura!"
"Memangnya kamu baru tahu kalau istrimu ini keras kepala?" sindir bu Kinanti.
"Hufht! Bisa diam nggak sih? Ibu itu di sini cuma numpang. Tidak usah banyak mulut."
"Aku ini ibunya. Masih untung Fabian mau mengajakmu rujuk dan tinggal di rumah sebagus ini. Kalau tidak, kamu sekarang pasti sudah menjadi gelandangan."
"Sudah! Jangan ribut terus! Kalian benar-benar membuat kepalaku pecah!"
"Mana uangnya? Aku akan mendaftar kursus hari ini," ucap Maureen seraya menengadahkan tangannya.
"Aku tidak punya uang tunai. Nanti kukirim ke rekeningmu."
"Ya sudah, aku tunggu nggak pakai lama!"
Maureen melengang begitu saja dari hadapan keduanya.
"Jadi istri sama sekali tidak punya sopan santun!" umpat bu Kinanti.
"Ibu mau berangkat sekarang," ucapnya sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu sebentar."
Fabian masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian ia keluar dengan membawa dua lembar uang pecahan seratus ribu. Ia pun lantas memberikannya pada sang ibu.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Katanya Ibu mau membeli mukena baru."
"Harga mukena nya tujuh ratus lima puluh ribu."
"Itu saja uang tunai yang ada di dalam dompetku."
"Ya sudah, kita ke ATM, lalu ambil uang."
"Uangnya mau buat kursus Maureen."
"Istri model begitu dimanja, sama ibu sendiri perhitungan," gerutu sang ibu.
"Ini masih pagi, aku tidak mau berdebat. Lagipula uang dua ratus ribu pasti sudah bisa membeli mukena yang cukup bagus di pasar."
"Apa kamu bilang? Pasar? Ibu tidak akan pernah lagi masuk ke tempat kumuh itu."
"Ya sudah, beli mukena sedapatnya saja di toko. Aku harus segera ke konveksi."
Fabian beranjak dari meja makan, lalu meninggalkan ruangan itu.
Entah mengapa bu Kinanti merindukan suasana seperti dulu, saat Azzura masih menjadi istri Fabian. Suasana rumahnya selalu hangat dan penuh cinta. Jauh berbeda dengan suasana di rumahnya kini. Setiap pagi selalu diawali perdebatan, bahkan tidak jarang berakhir dengan pertengkaran.
"Azzura … kamu menantu yang terbaik, Nduk," lirihnya.
****
Sementara itu di rumah bu Murni.
"Budhe … apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya keponakannya, Rizal ketika laki-laki itu bersiap berangkat ke kampusnya.
"Kamu mau tanya apa?"
"Bu Zura itu orangnya bagaimana?"
"Azzura orangnya baik, tulus, dan suka membantu."
"Dia 'kan sudah bercerai. Apa Budhe tahu kenapa dia bercerai dengan suaminya?"
"Kamu ini kenapa tanya-tanya soal Zura?"
"Ah, ti-ti-tidak apa, hanya ingin tahu saja. Ya sudah aku berangkat ke kampus dulu."
Rizal mengambil kunci mobil dari dalam saku celananya. Di saat itulah bu Murni mendapati secarik kertas yang tidak sengaja ikut terjatuh dari dalam saku celananya itu. Entah mengapa bu Murni begitu penasaran dengan kertas tersebut.
Ia pun lantas mengambilnya. Rupanya sebuah nota dari kios bunga.
1 pcs bucket bunga mawar putih@100.000
"Untuk siapa Rizal membeli bucket bunga ini? Apa dia sudah punya pacar?" gumam bu Murni.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰