Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Firasat itu benar


__ADS_3

Keadaan ruangan yang gelap sedikit menyulitkanku untuk mencapai pintu depan. Pun aku harus bergegas memeriksa apa yang terjadi pada Fina lantaran suaranya tak terdengar lagi. Setelah bersusah payah akhirnya aku sampai di pintu depan. Aku merasa kakiku seperti tersandung sesuatu, dan ternyata itu Fina yang sudah jatuh tersungkur di lantai sementara ponselnya terjatuh tidak jauh dari tubuhnya.


Sepertinya Fina tidak sedang pusing atau sakit, bagaimana mungkin dia tiba-tiba jatuh pingsan?


"Fin … bangun, Nak," ucapku seraya mengguncang tubuhnya. Namun ia tak bergeming.


"Sepertinya aku harus memeriksa sekering dulu," gumamku.


Aki beranjak dari lantai lalu menuju kotak sekering lampu yang berada di bagian samping rumah. Aku tengah berusaha menggapai kotak tersebut namun tiba-tiba aku merasa seseorang membekap mulut dan hidungku dari arah belakang. Aroma menyengat dari kain yang digunakan untuk membekap mulutku sedikit membuatku pening. Pun aku berusaha melakukan perlawanan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri sosok dalam kegelapan itu.


"Tolong!" teriakku.


Seisi rumah pun sontak berhamburan keluar tak terkecuali pak Amin yang tinggal di bagian belakang rumah. Ia pun lantas menyorot lampu senter yang dibawanya ke arahku. Entah siapa orang yang berusaha mendekapku ini, tapi jika dari postur tubuhnya, ia pasti laki-laki.


"Lepaskan bu Azzura!" serunya.

__ADS_1


Belum lagi kepanikanku mencair, aku semakin dibuat ketakutan saat sesosok berpakaian hitam kembali muncul. Tiba-tiba saja ia menyeret tubuh Lyra dan membopongnya.


"Lepaskan putriku! Jangan sakiti dia!" pekikku.


"Cepat bawa anak itu ke mobil!" seru pria yang tadi membekap mulutku.


"Lyra! Lyra!" teriakku.


"Diam atau kami akan menyakitinya! Sekarang kamu ikut kami!" sentaknya


"Aku mau dibawa kemana?"


"Jangan berteriak atau aku akan melukainya!" ancam pria berpakaian ninja itu pada ibu, Fina, dan bi Ami yang kini berdiri di depan pintu sementara tangannya mengacungkan sebilah pisau di bagian leherku.


"Lepaskan mereka!" teriak pak Amin lantang.

__ADS_1


"Mau apa kamu Bapak tua. Tidak usah sok berani," ucap pria itu.


"Lepaskan bu Azzura!"


"Kalau aku nggak mau, kamu mau apa?"


Pak Amin terlihat mengepalkan tangannya dan hendak melayangkannya di bagian wajah pria itu, namun tentu saja tenaganya kalah kuat. Pria itu justru menghalaunya lalu mendorong tubuh pak Amin hingga jatuh terjengkang. Kepalanya membentur lantai keramik dengan cukup keras. Aku sempat mendengar dua kalimat syahadat yang diucapkannya sebelum sopir pribadiku itu tak bergerak lagi.


"Pak Amin!" jeritku dalam hati lantaran mulutku kini tertutup lakban. Tiba-tiba saja tangisku pecah. Apakah ini jawaban atas ucapan pak Amin yang belakangan ini selalu dibayangi kematian?


"Pak Amin!" Ketiga perempuan itu menghampiri pak Amin yang terbaring lemah di atas lantai.


"Ayo masuk ke mobil!" sentak pria itu dengan pisau yang tak sedikit pun bergeser dari bagian leherku.


Sekali lagi aku menoleh ke belakang. Pipiku telah basah karena derasnya air mata. Kupandangi sekilas wajah pak Amin yang begitu tenang sebelum aku didorong masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Pak Amin! Bangun, Pak!" pekik ibu sementara Fina dan bi Ami yang berada di sebelahnya mulai terisak.


Bersambung …


__ADS_2