
Di rumah Keenan.
Malam itu Keenan dan kedua orangtuanya terlihat tengah mengitari meja makan.
"Di mana kakakmu?" tanya sang ayah.
"Entahlah. Sejak pulang dari kantor sore tadi aku belum melihatnya. Mungkin dia berada di dalam kamarnya."
"Mas Gibran memang belum pulang kok Tuan, Nyonya." Mbok Marni yang baru muncul dari arah dapur menimpali.
"Apa dia bilang pada Mbok mau kemana?"
"Tadi siang dia pulang sebentar, lalu pergi lagi sampai sekarang."
"Coba kamu hubungi kakakmu itu. Suruh dia pulang sekarang juga untuk makan malam," ucap sang ibu.
Semenjak terjerat kasus penyalahgunaan obat terlarang dan menjalani rehabilitasi selama enam bulan, Anita memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai wanita karir dan lebih fokus dengan keluarganya.
Keenan mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor kakak kandungnya itu. Nada sambung terdengar, namun Gibran mengabaikan panggilannya.
"Mungkin Gibran sedang di jalan, Bu."
"Dia 'kan bisa menepi untuk menjawab telepon masuk."
"Kamu tidak usah Gibran sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri," ujar sang ayah.
"Apa kamu lupa waktu malam itu ponselnya tidak bisa dihubungi. Ternyata dia mengalami kecelakaan di jalan. Ibu takut hal yang sama kembali terulang."
"Percaya padaku, tidak lama lagi dia sampai di rumah."
__ADS_1
Rupanya ucapan sang ayah benar. Beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil dari arah halaman rumah. Tidak salah lagi, itu suara mobil Gibran.
"Apa kubilang, Gibran baik-baik saja."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Sejak kapan kamu mengucapkan salam saat memasuki rumah?" sindir sang ayah.
"Iya. Ibu perhatikan sekarang kamu juga rajin sholat."
"Seharusnya Ayah dan Ibu merasa senang aku berubah menjadi lebih baik."
"Tentu saja kami senang kamu sekarang sudah begitu banyak berubah. Kamu yang dulu hampir setiap hari mendatangi diskotik dan tempat hiburan, sekarang rajin mengunjungi masjid dan pengajian."
"Kamu sudah makan?" tanya Keenan.
"Ada makanan kesukaan Mas Gibran loh, gulai ayam," ucap mbok Marni.
"Aneh. Kenapa dengannya?" gumam Keenan.
Demi menjawab rasa penasarannya, Keenan memutuskan menemui sang kakak di kamarnya usai makan malam.
"Tok! Tok! Tok! Boleh aku masuk?" ucapnya dari depan pintu kamar
"Masuk lah, pintunya tidak dikunci."
"Aku senang dengan perubahanmu menjadi lebih baik. Tapi, aku penasaran, apa ada seseorang yang membuatmu berubah begini?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Apa seseorang yang membuatmu berubah itu adalah perempuan?"
Gibran menggeleng cepat.
"Kenapa kamu mengaitkannya dengan perempuan? Bukankah berubah ke jalan yang benar itu adalah perbuatan yang baik?"
"Aku harap kamu berubah dari hatimu sendiri. Bukan karena paksaan ataupun hal lain. Selamat malam."
Keenan baru saja menarik gagang pintu ketika tiba-tiba Gibran memanggilnya.
"Ehm, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Bicara lah, aku siap menjadi pendengar yang baik."
"Aku-aku jatuh cinta pada seorang perempuan," ucap Gibran.
"Siapapun orangnya, aku perlu berterima kasih padanya. Dia sudah membuat kakak laki-lakiku berubah menjadi pribadi yang lebih baik."
"Kamu mengenalnya, Ken."
"Sungguh? Memangnya siapa perempuan itu?"
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk kak yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰