Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Harga sebuah kejujuran


__ADS_3

Aku baru saja selesai memandikan Lyra dan berniat mengajaknya berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal baru kami. Baru saja keluar dari kamar, kudengar seseorang menyapaku dengan begitu ramah.


"Mbak penghuni baru di sini ya?" tanyanya.


"Benar, Mbak. Baru semalam saya meyewa kamar kost di sini," jawabku.


Gadis yang mengenakan seragam pabrik itu mengangguk paham. 


"Dedeknya lucu banget. Siapa namanya?" tanyanya sembari menjawil pipi putriku.


"Nama saya Lyra, auntie," jawabku dengan suara layaknya anak kecil.


"Namanya bagus. Cantik lagi seperti ibunya."


"Mbak mau berangkat kerja ya?" tanyaku.


"Iya, Mbak. Kenalkan nama saya Rahma," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya ke arahku."


"Azzura," jawabku sembari menjabat tangannya.


"Ngomong-ngomong Mbak hanya berdua saja tinggal di sini?" tanyanya lagi. 


"Begitulah. Beberapa hari yang lalu rumah kami terbakar dan tidak bisa ditempati lagi."


"Lalu, di mana ayah Dek Lyra? Apa dia maaf meninggal dalam musibah kebakaran itu?" tanya Rahma.


"Ehm-ehm, …"


Di saat aku kebingungan menjawab pertanyaan itu, muncullah seseorang yang mengenakan seragam persis dengan yang dikenakan Rahma.


"Rahma, ayo berangkat, nanti kita terlambat," ucapnya.


"Saya permisi dulu, Mbak. Assalamu'alaikum. Dadah Dek Lyra," ucapnya sembari melambaikan tangan ke arah Lyra. Putri kecilku itu tersenyum seolah ingin menjawab salam dari tetangga baru kami yabg ramah itu.


"Waalaikumsalam."


Aku berjalan keluar dari pintu gerbang. Sebagai penghuni baru, tentu saja aku belum paham daerah sini. Aku hendak mencari warung nasi terdekat dari tempat ini. Sementara ini yang bisa kulakukan adalah membeli nasi, sebab di tempat tinggal baruku tak ada kompor ataupun alat menanak nasi.


Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter, akhirnya aku menemukan sebuah warung nasi. "Warung makan Padang" lebih tepatnya. 


"Nasi dengan sayur dan lauk tempe, Bu," ucapku pada pemilik warung."


"Dibungkus atau dimakan di sini, Mbak?" tanyanya.


"Dimakan di sini saja, Bu."


"Silahkan duduk dulu.


Aku pun lantas memilih tempat duduk yang tidak begitu jauh dari etalase makanan.


"Sepertinya saya belum pernah melihat Mbak," ucap pemilik warung.


"Saya baru semalam menyewa tempat kost di tempat ehm…"


"Di tempat siapa, Mbak?"


"Itu, Bu. Pemiliknya kulitnya putih, rambutnya cepak, dan matanya sipit."

__ADS_1


"Oh, namanya Cik Leni."


"Oh."


"Setahu saya tempat kost itu hanya khusus karyawan pabrik. Apa Mbak bekerja di pabrik juga?" 


"Tidak, Bu. Saya terpaksa menyewa kamar kost karena beberapa hari yang lalu rumah saya terbakar dan tidak bisa kami tempati lagi."


"Silahkan."


Sepiring nasi hangat dengan sayur dan tempe goreng tersaji di hadapanku. Aku yang sudah begitu lapar pun cepat melahap makanan itu hingga piring tersebut benar-benar kosong.


"Berapa, Bu?" tanyaku.


"Sepuluh ribu saja, Mbak."


Aku merogoh saku rokku hendak mengambil uang dari dalam sana. Tapi, aku tidak menemukannya. Aku yakin sekali sebelum keluar dari kamar kost, aku sempat mengantongi selembar uang pecahan seratus ribu. Di mana uangku?


"Kenapa, Mbak?" tanya pemiik warung dengan logat bahasa Padang.


"Uang saya tidak ada di kantong saya, Bu."


"Mungkin Mbak lupa belum membawa uang."


"Tidak, Bu. Saya yakin sekali, saya memasukkan selembar uang pecahan seratus ribu di dalam kantong rok saya."


"Apa kantong rok Mbak sobek?" 


Lekas kuperiksa kantong di bagian kanan dan kiri rokku. Astaghfirullah! Benar, kantong di bagian kanannya robek. Mungkin uangku terjatuh.


"Maaf, Bu. Sepertinya uang saya terjatuh. Saya akan coba menyusuri jalan yang tadi saya lewati. Semoga uangnya masih ada."


Aku berjalan meninggalkan warung dan berjalan menuju jalan yang tadi kulewati saat menuju warung ini. Dari kejauhan aku sempat melihat seorang bocah laki-laki yang mengambil sesuatu dari atas tanah. Dia lantas memasukkannya ke dalam kantong celananya.


"Maaf, Dek. Apa Adek melihat uang seratus ribu yang terjatuh di sekitr jalan ini?" tanyaku.


"Ti-ti-tidak, Bu," jawabnya. Aku bisa menangkap ketakutan di raut wajahnya.


"Usia kamu berapa?" tanyaku lagi.


"Sepuluh tahun."


"Kamu sudah cukup besar. Pasti tahu jika berbohong itu perbuatannya dosa. Tadi ibu melihat kamu mengambil sesuatu dari atas tanah lalu memasukkannya ke dalam saku celanamu. Apa kamu menemukan uang?"


Sekali lagi bocah laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"Guru sekolah dan mengajimu pasti mengajari kejujuran 'kan?" tanyaku lagi.


Meskipun sedikit ragu, bocah itu menganggukkan kepalanya.


"Kamu perlu tahu, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja," ucapku sembari mengusap lembut rambutnya.


"Ya sudah, ibu permisi."


Aku baru saja membalikkan badanku. Tapi bocah laki-laki itu tiba-tiba memanggilku.


"Tunggu, Bu. Ini uang Ibu. Saya minta maaf sudah berbohong pada Ibu. Saya ingin membeli mainan di toko sebelah sana, tapi ayah saya tidak punya uang."

__ADS_1


Aku tersenyum, sekali lagi kuusap rambutnya.


"Kamu ingin membeli mainan?" tanyaku.


Bocah itu menganggukkan kepalanya.


"Berapa harga mainan yang ingin kamu beli?"


"Lima puluh ribu."


"Ya sudah, kamu tunggu Ibu di sini. Ibu ke warung sebentar membayar makanan."


Aku menerima uangku lalu berjalan kembali ke warung nasi itu. Setelah membayar makanan, aku pun kembali menghampiri bocah itu.


"Mari kita ke toko mainan," ucapku sembari menggandeng tangan kanannya. Namun, bocah itu tak bergeming.


"Kenapa Ibu masih baik pada saya? Padahal saya sudah berbohong pada Ibu."


"Kita harus selalu baik pada orang lain. Tidak selalu orang itu yang membalas kebaikan kita. Tapi percayalah, Allah yang akan membalas kebaikan kita melalui tangan orang lain."


"Maafkan saya, Bu." Bocah laki-laki itu meraih tanganku lalu menempelkannya di bagian kening.


"Tidak perlu meminta maaf. Saya senang karena kamu akhirnya berkata jujur..Oh ya, siapa namamu?" 


"Nama saya Malik."


"Malik, mari kita ke toko mainan," ucapku.


Bocsh itu mengangguk setuju. Bisa kulihat binar di sorot matanya. 


"Terima kasih, Bu. Sudah membelikan saya mainan," ucap Malik.


"Jadilah anak yang baik dan selalu menjunjung tinggi kejujuran," ucapku.


Tiba-tiba tangis Malik pecah.


"Maaf, jika ada kata-kata ibu yang menyinggung perasaanmu," ucapku.


"Tidak, Bu. Saya menangis karena tiba-tiba teringat almarhumah ibu saya. Ibu saya meninggal saat saya masih duduk di bangku TK," ungkap Malik.


Ibu. Ucapan Malik sontak membuatku teringat pada ibu mertuaku yang kutinggalkan saat beliau mengalami koma. 


Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apakah Mila bisa merawat ibu dengan tulus? Bagaimana jika dia memperlakukan beliau dengan kasar? Ya Rabb. Salahkah keputusanku pergi meninggalkannya?


"Kenapa Ibu terlihat sedih? Apa Ibu juga teringat seseorang?" tanya Malik.


Selain ibu mertuaku, aku juga begitu merindukan ibu kandungku yang kini pergi entah kemana. Tiba-tiba buliran bening itu mulai merebak di kedua bola mataku.


"Ya Rabb, pertemukan lah kembali hamba dengan ibu kandungku," lirihku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2