Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pergi sulit, bertahan sakit


__ADS_3

Mas Fabian terdiam.


"Kenapa Mas diam saja?" 


"Maaf, Dek. Mas khilaf. Mas dan Mila pernah melakukan ehm, …"


"Cukup! Tidak perlu dilanjutkan. Kalian berdua menjijikkan!" Suaraku kali ini terdengar begitu keras hingga memenuhi ruang tamu.


"Oek…Oek…"


 


Sudah pasti Lyra terbangun lantaran mendengar kegaduhan di ruangan ini.


Aku beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju kamar. Lekas kuangkat tubuh mungil itu dan memberikan air susuku. Namun, entah mengapa putri kecilku itu menolak menyusu. Pemilik mata polos itu justru diam dan menatapku seolah bertanya "Mengapa Ibu menangis?"


Tak sepatah katapun yang mampu terucap dari bibir ini. Saat ini hatiku begitu hancur, remuk, mungkin tak berbentuk lagi. Kudekap erat tubuh mungil itu, lalu aku pun tergugu.


"Kami sudah berterus terang hubungan kami. Mas Fabian bukan hanya suami Mbak saja, tapi dia juga suamiku… suami kita," ucap Mila yang tanpa seizinku tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. 


"Demi Allah, aku tidak rela dimadu!" tegasku.


"Agama kita saja tidak melarang kaum laki-laki memiliki lebih dari seorang istri loh Mbak. Mas Fabian memiliki pekerjaan yang bagus, gajinya pun besar. Dia pasti akan sanggup menafkahi kita berdua," ucap Mila.

__ADS_1


"Ini bukan masalah nafkah, tapi masalah perasaan. Aku tidak bisa menerima sekecil apapun pengkhianatan," ujarku.


"Sudahlah, Mbak. Ini memang sudah takdir kita. Berbagi suami. Aku saja tidak keberatan jadi istri ke dua."


"Mila benar, Mas akan berusaha berbuat adil pada kalian." Mas Fabian yang baru saja muncul di kamar menimpali.


"Enteng sekali Mas bicara soal keadilan. Apa Mas memikirkan bagaimana perasaanku? Apa Mas ingin tahu bagaimana perasaanku sekarang?"


"Mas menyembunyikan pernikahan ini karena mas tahu kamu tidak akan mengizinkan mas menikah lagi," ucapnya.


"Seperti kesepakatan kita dari awal. Jika Mas menikah lagi, aku yang akan pergi!"


"Memangnya Mbak Zura mau kemana? Apa di luar sana Mbak punya tempat tinggal? Apa Mbak masih punya saudara?" cibir Mila.


"Kamu mau kemana, Dek?" tanya mas Fabian.


"Aku tidak sudi lagi tinggal di rumah ini," ucapku sembari memindahkan pakaianku dari dalam lemari ke dalam tas.


"Kamu tidak punya saudara ataupun tempat tinggal di luar sana. Apa kamu tidak kasihan dengan Lyra? Dia masih begitu kecil," ucap mas Fabian.


"Mas tidak perlu memikirkan kami. Aku yakin Allah selalu bersama kami."


Kutarik resleting tas berukuran cukup besar itu yang kini telah penuh berisi pakaianku juga pakaian Lyra.

__ADS_1


"Kamu jangan egois, Dek. Pikirkan Lyra."


Mas Fabian menarik lenganku namun aku menepisnya dengan kasar. Aku pun lantas mengambil kain gendongan untuk menggendong Lyra.


"Aku pergi, assalamu'alaikum."


"Azzura! Berhenti! Aku tidak mengizinkanmu keluar!" bentak mas Fabian.


Aku tak menghiraukan ucapannya. Aku justru mempercepat langkahku dan berniat meninggalkan ruangan yang membuatku begitu sesak ini.


"Pyar!" Aku tersentak kaget saat tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari kamar tamu. Aku pun membalikkan badanku lalu bergegas menghampiri kamar itu.


"Astaghfirullah. Ibu!" teriakku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2