Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Masihkah ada harapan?


__ADS_3

Ketakutan itu tiba-tiba menyerangku. Bagaimana jika ibu pingsan dan tak pernah bangun lagi? 


"Mas Fabian! Tunggu!" 


Aku mempercepat langkahku berusaha mengejar mas Fabian yang kini telah berada di teras rumah. Aku heran, Mila sepertinya tak sedikit pun peduli pada ibu.


"Kami ke rumah sakit dulu, assalamu'alaikum," ucapku sembari berlalu dari hadapan Mila.


Sesampainya di rumah sakit.


Sebelum memasuki kamar perawatan ibu, aku menitipkan Lyra pada sahabatku, Mayra. 


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanyaku pada dokter.


"Pasien belum juga siuman. Sepertinya pasien mengalami koma."


"Koma, Dok?"


"Benar, Bu."


Tubuhku tiba-tiba terasa begitu lemas. Seandainya mas Fabian tidak sigap menopangku, mungkin tubuhku sudah luruh di atas lantai.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan, Dok?"


tanya mas Fabian.


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a agar pasien segera sadar," ujar dokter. Kami mengangguk paham.


"Aku keluar dulu menjemput Lyra," ucapku sembari berlalu dari hadapan mas Fabian.


"Aku bingung, apa yang harus kulakukan," ucapku pada Mayra yang tengah berada di taman kecil di bagian samping rumah sakit bersama putri kecilku, Lyra.


"Aku tahu kamu begitu menyayangi ibu mertuamu. Tapi, kamu salah jika memilih bertahan. Apa kamu tidak merasa jika suamimu hanya memanfaatkanmu? Dari pada membayar orang untuk merawat ibunya, dia pasti lebih memilih kamu yang merawatnya."


"Tapi, May. Aku tidak akan tenang jika pergi meninggalkan ibu dalam keadaan begini."


"Kamu memang keras kepala, Ra. Ya sudah, lakukan saja apa yang kamu mau. Yang penting aku sudah mengingatkanmu." Mayra memberikan Lyra padaku, dia lantas meninggalkan taman.


Sungguh, saat ini aku merasa bimbang. Aku benar-benar sulit mengambil keputusan. 

__ADS_1


Aku baru saja meninggalkan taman ketika tiba-tiba kulihat sebuah taksi berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Tidak berselang lama sang pengemudi turun dari taksi. Dia lantas membuka pintu belakang. Rupanya dia membantu penumpang wanitanya turun dari dalam taksi tersebut. Tunggu! Sepertinya aku mengenal penumpang itu. Ya, dia adalah kawan lamaku, Fatimah.


Pengemudi taksi tampak membantu memapah Fatimah masuk ke dalam rumah sakit. 


Apa yang terjadi dengan Fatimah? Kenapa dia sendirian saja? Di mana mas Darren?


Kupercepat langkahku menuju ruang paling depan di rumah sakit itu.


"Fatimah? Apa yang terjadi? Kenapa kamu sendirian saja? Di mana mas Darren?" tanyaku.


"Perutku sakit banget. Sepertinya aku mau melahirkan. Aku sudah menghubungi mas Darren, tapi dia sedang mengajar di kampus. Mas Darren selalu mematikan ponselnya saat mengajar," jelasnya.


"Berapa usia kandungan Ibu?" tanya perawat.


"30 Minggu, Sus," jawab Fatimah.


"Mari ikut saya ke ruang bersalin."


Fatimah lantas masuk ke dalam ruangan bersalin dengan dibantu dua orang perawat. Sementara aku yang menggendong Lyra mengikuti di belakangnya.


"Bagaimana keadaan kawan saya, Dokter?" tanyaku pada dokter yang menangani Fatimah.


"Tapi, usia kandungannya belum genap sembilan bulan, Dok."


"Ada banyak faktor yang menyebabkan ibu melahirkan lebih cepat dari hari taksiran persalinan," jelas dokter. Aku mengangguk paham.


"Oh ya. Di mana suami pasien? Ada baiknya ibu melahirkan didampingi suaminya."


"Ehm-ehm… suami kawan saya mungkin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit."


"Baiklah. Jika suaminya datang, suruh saja langsung masuk."


"Baik, Dokter."


Bagaimana ini? Fatimah begitu membutuhkan mas Darren namun mas Darren tidak bisa dihubungi.


Tidak ada cara lain selain menghubungi suami Fatimah yang tak lain adalah kakak kandungku. Lekas kupinjam ponsel Fatimah dan bergegas kuhubungi mas Darren.


Setelah berkali-kali menghubungi nomor mas Darren, akhirnya dia menjawab panggilan dariku.

__ADS_1


 


[Halo, Assalamu'alaikum, Dek. Ada apa? Maaf tadi mas sedang mengajar di kelas]


[Ma-ma-af, Kak. Ini bukan Fatimah, ini aku Azzura]


[Beraninya kamu menelponku dengan ponsel istriku!]


[Kakak jangan marah dulu. Aku menelpon Kakak dari rumah sakit. Fatimah sudah mengalami pembukaan awal. Dokter mengatakan dia harus melahirkan saat ini juga, dan Kakak diminta untuk menemani Fatimah di dalam ruang bersalin]


[Kamu jangan mengada-ada. Usia kandungan Fatimah belum genap sembilan bulan. Mana mungkin dia melahirkan?]


[Demi Allah. Aku berkata benar. Saat ini Fatimah sudah berada di dalam ruang bersalin]


[Suasana hening sejenak]


[Aku tahu Kakak membenciku sedari kecil. Tapi untuk saat ini lupakan dendam di hati Kakak. Datanglah segera ke rumah sakit. Fatimah sangat membutuhkan Kakak]


Sambungan terputus.


Aku menunggu kedatangan kak Darren dengan raut wajah cemas sekaligus gelisah. Namun, aku bernafas lega saat kulihat dia muncul dan berdiri di hadapanku.


"Alhamdulillah Kakak datang juga. Kata dokter Kakak bisa langsung masuk ke dalam."


Tanpa basa-basi apalagi memandangku, kakak laki-lakiku itu langsung masuk ke dalam ruang bersalin.


Apa yang sebenarnya membuat Kak Darren begitu benci padaku?


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


 

__ADS_1


__ADS_2