
"Berhenti sebentar, Pak," titahku pada pak Amin.
"Ibu mau ke mana?" tanyanya saat aku mendorong handle pintu mobilku.
"Pak Amin tunggu di sini sebentar. Saya mau mampir ke toko itu."
Aku pun lantas turun dari dalam mobilku kemudian menghampiri toko kue baru itu.
"Assalamu'alaikum," sapaku pada seorang wanita yang berada di meja kasir."
"Wa'alaikumsalam. Selamat da-... Zura? Kamu?"
Aku mengamati penampilan perempuan itu. Ya, dia lah kakak perempuanku, Maureen. Tapi tunggu! Loh, di mana hijabnya? Kenapa dia keluar rumah tanpa mengenakan kain penutup kepala?
"Kak Maureen? Kenapa Kakak tidak mengenakan kain hijab?" tanyaku.
"Akhir-akhir ini rambutku rontok. Pasti karena sering kepanasan."
"Sudah begitu lama aku mengenakan hijab, tapi aku tidak pernah sekalipun mempunyai keluhan itu. Mungkin saja rambut Kakak rontok karena salah shampo. Kakak tahu, aku begitu senang saat Kakak bilang mau belajar berhijab. Kenapa sekarang Kakak menanggalkannya?"
"Tidak ada gunanya membahas hal yang tidak penting. Katakan saja apa maksudmu datang ke toko ini."
"Kebetulan saja aku melintas. Aku mau berbelanja bahan kebutuhan kue di supermarket. Tadi kulihat papan nama kue ini MAUREEN CAKE Ternyata benar, ini toko kue milik Kakak," paparku.
"Memangnya kenapa kalau toko kue ini milikku? Kamu mau melarang?"
Aku mengulas senyum.
"Tentu saja tidak. Aku turut senang kakak membuka usaha baru."
"Di luar ngomongnya begitu. Pasti hati kamu bilang tidak suka aku membuka toko ini karena merasa tersaingi. Begitu 'kan?"
"Kenapa aku harus merasa tersaingi? Rezeki sudah ditakar dan tidak mungkin tertukar."
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan toko. Dua orang gadis seumuran Fina terlihat turun dari sepeda motor matic itu kemudian masuk ke dalam toko. Dengan penuh semangat kak Maureen pun menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di Maureen Cake. Silahkan Kakak-kakak pilih kue mana yang ingin dibeli. Berhubung toko kue ini masih baru, saya memberikan harga promosi," papar kak Maureen.
"Saya penggemar kue, jadi setiap ada toko baru saya pasti mampir," ucap salah satu gadis.
"Oh ya, ini tester nya 'kan, Bu?" tanya gadis lainnya sembari menunjuk nampan berisi potongan kue yang berada di dalam etalase.
__ADS_1
"Iya, benar. Kakak-kakak bisa mencobanya gratis."
"Baiklah, saya coba dulu."
Gadis berbaju merah muda itu pun meraih sepotong kue brownies dari dalam etalase itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Gimana, enak nggak?" tanya gadis berbaju kuning.
Gadis berbaju merah muda itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Kue brownies nya pahit. Sepertinya Ibu terlalu banyak menggunakan cokelat," ungkapnya.
Karena penasaran, gadis berbaju kuning pun turut mencobanya kue brownies tersebut. Dan jawabannya sama.
"Kue nya pahit, baunya juga sedikit amis. Ibu belajar membuat kue yang benar dulu deh sebelum membuka toko kue."
"Brakk! Kak Maureen menggebrak meja.
"Apa maksud kalian 'hah?! Saya sudah membayar mahal untuk mengikuti kursus membuat kue. Sudah pasti kue buatan saya jauh lebih berkelas daripada yang jualan kue hanya dari otodidak," ucapnya seraya melirik sinis ke arahku.
"Astaga. Diberi masukan malah ngamuk. Ibu masih waras 'kan? Kami ini beli pakai uang. Kalau kue nya hancur begini siapa yang mau beli?" ucap gadis berbaju merah muda.
"Alah. Bilang saja kalian tidak punya uang, jadi cari-cari alasan."
Dari kak Maureen, pandangan mereka beralih padaku.
"Oh ya, bukannya Ibu ini pemilik toko kue yang di sana itu? Apa namanya … LYRA cake ya?"
"Iya, Mbak. Saya pemilik toko kue LYRA."
"Kita beli kue di sana saja yuk, kue di sana enak, murah lagi. Kalau kita beli kue di sini bisa-bisa nanti kawan-kawan yang rapat pada diare," ucap gadis berbaju kuning.
"Ya sudah, sana pergi! Pagi-pagi sudah bikin kesal saja!" sentak kak Maureen.
"Eh, Bu. Saya kasih tahu ya, kalau sams pembeli jangan galak-galak. Nanti mereka takut dan kapok datang ke sini lagi."
"Sudah sana pergi! Tidak usah kebanyakan mulut!"
"Oh ya, Bu. Di toko Ibu ada kue brownies 'kan?" tanya gadis berbaju merah muda.
Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.
__ADS_1
"Ya sudah, kita ke sana saja, yuk. Permisi Ibu galak," ucap gadis berbaju kuning.
"Cepat pergi!" usir kak Maureen.
Kedua gadis itu pun lantas meninggalkan toko.
"Jangan kasar-kasar sama pembeli, Kak. Bagaimana pun mereka adalah raja," ujarku.
"Kamu juga sama saja, dari tadi ceramah terus, bikin kepalaku mau pecah saja."
"Kalau ada masukan atau saran dari pembeli, jadikan hal itu untuk memperbaiki kue buatan Kakak. Rasa pahit pada kue brownies bisa disebabkan terlalu banyak menggunakan cokelat ataupun bahan pengembang."
"Aku ini sudah membayar mahal untuk kursus membuat kue. Mungkin lidah mereka saja yang bermasalah," ucap kak Maureen.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Kasihan pak Amin kalau kelamaan menunggu," ucapku.
"Siapa juga yang ingin kamu berlama-lama di toko ini."
Aku menggeleng heran dengan sikap kakak kandungku ini. Apakah kebenciannya padaku sudah mendarah daging?
"Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum."
Aku pun lantas meninggalkan toko itu dan kembali masuk ke dalam mobilku.
"Ibu kenal dengan pemilik toko itu?" tanya pak Amin sesaat setelah aku duduk di samping bangku kemudi.
"Ya, toko itu milik kakak perempuan saya, kak Maureen."
"Mbak Maureen … mbak Maureen. Jadi orang kok panas hati begitu. Ibu buka konveksi, suaminya ikut buka. Ibu buka toko kue, eh … ikut-ikutan juga. Jadi orang kok nggak kreatif banget. Saya yakin tujuan mbak Maureen membuka toko kue pasti ingin menyaingi toko kue Ibu," ucap pak Amin.
"Ya, biarkan saja, Pak. Setiap orang berhak untuk maju dan berkembang. Kak Maureen sampai rela mengambil kursus membuat kue, pasti dia sungguh-sungguh ingin membuka toko kue."
"Bu Azzura dan mbak Maureen itu kakak beradik, tapi saya heran, sifat kalian jauh berbeda. Bu Azzura baik dan berhati malaikat, sementara mbak Maureen bersifat iri, dengki dan pendendam," ucap pak Amin yang hanya kutanggapi dengan senyum tipis di bibir.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰