Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kembali


__ADS_3

"Mila? Bukankah itu Mila? Apa yang dilakukannya di sini?" gumamnya.


Fabian menepikan mobilnya dan bergegas menghampiri Mila.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu seperti ini?" Fabian menarik lengan Mila namun ia menepisnya dengan kasar.


"Pergi kamu! jangan dekati aku!" pekiknya.


Bukannya menjauh, Fabian justru menggandeng tangan Mila dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.


Iya tak peduli meskipun Mila terus saja memberontak.


"Kenapa kamu sekarang begini?" tanyanya.


Karmila atau yang sebenarnya Maureen itu tersenyum kecut.


"Kamu bertanya kenapa aku sekarang begini? Aku yakin pasti ibumu sudah mengatakan jika beberapa hari yang lalu aku sempat mendatangi rumahmu dan ibumu mengusirku. Aku juga tahu jika kamu sekarang sudah menikah dengan Silvia," ucapnya.


"Aku minta maaf, aku melakukannya karena terpaksa. Satu-satunya perempuan yang ada di hatiku sampai saat ini adalah kamu, Mila. Aku masih mencintaimu. Asal kamu tahu saja, aku sudah menjatuhkan talak pada Silvia."


Fabian meraih tangan Mila kemudian menggenggamnya.


"Bagaimana dengan ibumu? Dia tidak mau menerimaku lagi sebagai menantunya. Dia mengatakan malu memiliki menantu seorang mantan narapidana."


"Ibu yang mengatakannya, bukan aku. Hanya kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai." Fabian mengecup punggung tangan Mila berulang.


Detik kemudian netra keduanya bersitatap.


"Lupakan semua yang pernah terjadi, kita mulai semuanya dari awal," ucap Fabian.


"Kamu yakin?" tanya Mila.


Fabian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"T-t-tapi, bagaimana dengan ibu?"


"Sudahlah, itu bukan urusan sulit. Kita ke rumahku sekarang," ucap Fabian.


Mila mengangguk setuju.


"Apa ini pekerjaanmu sehari-hari?" tanya Fabian saat dalam perjalanan pulang.


"Ya, selain menjual minuman, aku tidak tahu pekerjaan apa yang bisa kulakukan."


Tiba-tiba Mila mengamati penampilan Fabian.


"Bukankah dulu dia jatuh bangkrut? Kenapa sekarang penampilannya seperti seorang pengusaha mapan begini?" batinnya.


"Kenapa? Kamu heran melihat penampilanku sekarang?"


"Apa ini mobilmu?" tanya Mila.


Fabian tersenyum tipis.


"Kalau iya kenapa?"


"Bukankah kamu dulu jatuh bangkrut apalagi sekarang kamu sudah berpisah dengan Silvia. Lalu bagaimana mungkin kamu bisa memiliki mobil mewah ini?"


"Sudahlah tidak perlu membahasnya. Yang terpenting sekarang aku sudah menjadi seorang pengusaha."


"Pengusaha?"


"Ya ini aku sudah memiliki sebuah konveksi."

__ADS_1


"Begitu banyak jenis usaha kenapa Mas memilih konveksi?" tanya Mila.


"Kurasa kamu sudah tahu jawabannya."


"Hmmm?"


"Aku ingin menyaingi usaha Zura."


"Aku pun membencinya. Mentang-mentang sudah menjadi orang sukses, dia melupakan saudaranya. Dia meremehkanku, bahkan menolak saat aku meminta bantuannya."


Suasana hening sejenak.


"Apakah Mas masih ingat Rayyan?"


Tiba-tiba Mila mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja aku masih mengingatnya. Aku menitipkannya pada seorang pengemudi taksi yang bernama Pak Sumarno. Hidupku sudah sudah mapan sekarang. Bagaimana kalau kita menjemputnya kembali untuk tinggal bersama kita?"


Karmila atau yang sebenarnya Maureen itu membuang nafas.


"Aku pun pernah memiliki niatan yang sama denganmu. Akan tetapi ...."


"Tetapi kenapa?"


"Rayyan yang sebenarnya bukan anak kandung kita itu sudah tiada."


Fabian tersentak kaget sampai-sampai dia menginjak rem mobilnya secara mendadak.


"Maksudmu, Rayyan sudah, …"


Karmila menganggukkan kepalanya seolah sudah mengerti arah pembicaraan Fabian.


"Kamu tahu dari mana jika Rayyan sudah tiada?"


"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Sungguh aku menyesal pernah membuangnya," ujar Fabian.


"Menyesal pun sudah tiada guna. Yang terpenting sekarang adalah kita harus merebut kembali putera kandung kita dari bu Mala."


"Putra kandung kita, maksudmu?"


"Ya, putera kandung kita yang pernah kutukar dengan Rayyan sesaat setelah dia lahir."


"Apa kamu tahu dia siapa dan di mana dia tinggal sekarang?"


"Tentu saja aku tahu. Dia tinggal bersama seorang perempuan bernama Mala. Dia memberi nama anak kita dengan nama Saddam."


"Jadi, apa rencanamu?"


"Kita harus merebut kembali Saddam dari tangan Bu Mala. Bagaimanapun dia putra kandung kita 'bukan? Kita yang berhak merawat dan mengasuhnya."


"Tapi, bukankah kamu sendiri yang tidak menerima kehadirannya karena dia cacat? Apa kamu juga lupa, kamu sendiri yang sudah membayar suster Siska untuk menukar bayi kita dengan bayi bu Mala. Jika bu Mala tahu putra kandungnya kini sudah meninggal dunia, aku justru takut dia akan menuntutmu."


"Uangmu banyak sekarang, apapun bisa kita lakukan dengan uang."


"Lantas?"


"Kita beri saja uang dalam jumlah besar pada bu Mala. Lagipula Saddam bukan putra kandungnya. Mungkin dia tidak akan keberatan untuk menyerahkan Saddam kembali pada kita, orang tua kandungnya."


"Tidak semudah itu. Bagaimanapun kita yang sudah membuat Rayyan meninggal dunia. Jika saja aku tidak menitipkan Rayyan pada pengemudi taksi itu mungkin sekarang dia masih hidup. Kumala memiliki alasan yang kuat untuk menuntut kita. Setahuku hukuman untuk pelaku penculikan bayi tidaklah ringan."


"Suster Siska yang menculik bayi itu, bukan aku."


"Ya, tetapi kamu yang menyuruhnya 'bukan? Bahkan membayarnya. Dari kesaksian suster Siska saja kamu bisa mendapatkan hukuman yang tidak ringan."

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


"Sudahlah jangan berurusan lagi dengan bu Mala. Biarkan saja Saddam dalam pengasuhannya. Jika kita menemuinya, aku yakin masalah akan bertambah rumit. Lagipula Saddam hanya akan membuat malu kita saja karena dia memiliki kekurangan fisik."


"Benar juga katamu. Mungkin mulai sekarang aku harus berusaha melupakan anak itu."


"Ya sudah, kita pulang sekarang."


Fabian pun lantas mengajukan kembali mobilnya.


Sesampainya di rumah Fabian.


Mila keluar dari dalam mobil Fabian. Dia lantas mengamati rumah berlantai dua itu.


"Ini tempat tinggalku sekarang. Lebih mewah dari rumah kita yang dulu 'bukan? Ayo kita masuk ke dalam."


Fabian menggandeng tangan Mila namun Karmila tak bergeming.


"Kenapa?"


"Aku takut."


"Apa yang kamu takutkan?"


"Aku takut ibu kembali mengusirku."


"Tidak akan. Ayo kita masuk."


Fabian sedikit memaksa mengajak Mila masuk ke dalam rumah itu. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi saat Kamila dan bu Kinanti bertatap muka.


"Assalamu'alaikum, Bu," siapa Mila pada bu Kinanti yang saat itu tengah berada di ruang tamu.


"Wa'alaikumsa- …kamu? Kenapa kamu bisa berada di rumah ini?"


"Saya-saya ehm …"


"Aku yang mengajaknya datang ke rumah ini, Bu," ucap Fabian yang baru saja muncul ke ruangan itu.


"Apa kamu sudah kehilangan akal? Kenapa kamu mengajak perempuan ini ke rumah kita?"


"Aku-aku masih mencintai Mila, Bu. Aku ingin memperbaiki pernikahan kami."


"Tidak! Ibu tidak akan mengizinkan perempuan ini tinggal bersama kita!"


"Memangnya siapa yang mau beli rumah ini? Aku, atau Ibu?" ketus Fabian.


Sang ibu terdiam.


"Aku yang membeli rumah ini. Rumah ini juga atas namaku, jadi aku berhak menentukan siapa saja yang boleh tinggal atau tidak di rumah ini."


"Kamu ini kenapa, Nak? Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata kamu masih saja kasar dengan ibu," ucap bu Kinanti.


"Aku tetap akan mengajak Mila tinggal di sini dengan atau tanpa persetujuan Ibu. Jika Ibu tidak suka Ibu boleh pergi meninggalkan rumah ini."


"Astaghfirullahaladzim, Bian," ucap bu Kinanti sembari mengelus dadanya."


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2