Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tentang Keenan


__ADS_3

"Saya tahu kesulitan yang kini sedang kamu alami. Kamu sekarang tinggal di rumah kontrakan sempit, dan kamu mengirim ibumu ke panti jompo 'bukan? Jika kamu mau menikah dengan saya, hidupmu akan terjamin. Posisimu di perusahaan juga tidak akan pernah digeser."


"Tapi, Bu, …"


"Tapi kenapa? Kamu mengkhawatirkan Mila? Istrimu itu sedang di penjara. Memangnya kamu sanggup empat tahun hidup kesepian? Sebagai laki-laki normal


kamu akan tersiksa jika harus berlama-lama hidup terpisah dengan pasangan."


Fabian yang memang sudah memiliki niatan untuk bercerai dari Mila tentu saja mulai terpengaruh ucapan Silvia. Apalagi Silvia menjanjikan jabatan yang sedari dulu dia incar. Kapan lagi bisa hidup nyaman dan terjamin dengan jabatan tinggi hanya dengan syarat menikahi putri pemilik perusahaan besar?


"Bagaimana? Kamu mau 'kan menerima tawaranku?"


"Ehm, beri saya waktu untuk berpikir. Saya perlu membicarakan hal ini dengan Mila."


"Ingat, saya tidak mau menjadi yang ke dua," ucap Silvia.


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Aku menikahi Mila hanya karena wasiat. Namun setelah menikah, kami menemukan ketidakcocokan. Apa salah jika aku melepaskannya?" gumamnya.


"Baiklah, saya beri waktu sehari untuk berpikir." Silvia berlalu dari hadapan Fabian, ia lantas meninggalkan ruangannya.


****


Sementara itu Keenan yang masih dirundung duka terlihat tengah duduk termenung di balkon yang berada di balik kamarnya.


"Makan siang sudah siap, Mas," ucap wanita paruh baya itu.


Keenan yang tengah asyik melamun tentu saja tak menanggapi ucapannya. Dia bahkan sedikit berjingkat saat wanita paruh baya itu menyentuh lengannya.


"Iya. Asha?"


"Maaf, Mas. Ini bibi."


"Astaghfirullahaldzim. Maafkan saya, Mbok. Tadi saya, …"


"Saya paham. Mas Keenan pasti merasa begitu kehilangan mbak Asha. Apalagi ia dipanggil Allah di saat menjelang hari pernikahan. Mbak Asha wanita baik dan solehah. Insyaallah Allah menempatkannya di surga," ujar wanita yang biasa dipanggil mbok Marni itu.


"Aamiin."


Tiba-tiba pandangan mbok Darmi tertuju pada sebuah paperbag yang berada di tempat sampah. Tanpa bertanya pun ia tahu jika isi di dalamnya adalah sepotong kebaya.


"Kenapa baju ini dibuang, Mas?" tanyanya.


"Calon pemakainya sudah tiada. Lebih baik aku membuangnya."


"Sayang sekali baju sebagus ini harus dibuang. Saya yakin harganya pun pasti mahal. Jika boleh, biar mbok saja yang menyimpannya." 


"Kenapa takdir sekejam ini, Mbok?" Suara Keenan terdengar sedikit bergetar.

__ADS_1


"Kita sebagai manusia hanya lah sebagai lakon dari setiap skenario yang ditulis Allah. Dari begitu banyak takdir, jodoh menjadi salah satu yang tidak bisa kita tebak. Mbok tahu Mas Keenan merasa sedih dan kehilangan. Tapi Mas Keenan tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Mas Keenan harus yakin jika Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk Mas Keenan."


"Ini hukuman Tuhan karena kamu ingin mendahuluiku menikah!" seru seseorang yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


"Mas Gibran?"


"Mas Keenan ini sedang berduka, tidak sepantasnya Mas Gibran bicara begitu," ucap mbok Marni.


"Kenyataannya memang begitu. Kamu ingin mendahuluiku menikah dan sekarang calon istrimu meninggal secara mendadak."


"Yang namanya maut memang datangnya tiba-tiba, Mas. Bisa menjemput kapan dan di mana saja." Tiba-tiba mbok Marni menutup hidungnya.


"Ya Allah. Mas Gibran pasti habis minum alkohol lagi. Kapan Mas Gibran bisa lepas dari kebiasaan buruk itu?"


"Hanya minuman yang bisa mengerti aku."


Gibran adalah kakak kandung Keenan. Usia keduanya hanya berjarak satu tahun. Secara fisik keduanya memiliki wajah yang begitu mirip bahkan sering disangka kembar. Hanya saja dari penampilan Keenan yang sehari-harinya berkutat dengan pekerjaan kantor itu lebih rapi dibandingkan Gibran yang terkesan abai dengan penampilannya. Karena kesibukan kedua orangtuanya, mbok Marni lah yang mengasuh keduanya. Itulah mengapa ketiganya memiliki hubungan yang begitu dekat layaknya ibu dan anak. Mbok Marni tak sungkan memberi nasehat ataupun menegur saat keduanya berbuat kesalahan.


"Usia Mas Gibran tidak muda lagi. Sudah seharusnya Mas Gibran mulai memikirkan masa depan," ujar mbok Marni.


"Apa yang perlu aku khawatirkan? Harta ayah dan ibu banyak. Mungkin tidak akan habis sampai tujuh keturunan. Aku juga tinggal memilih wanita mana yang ingin kujadikan istri."


"Dari sekian banyak teman wanitamu, aku tahu kamu hanya bermain-main saja dengan mereka. Tak ada satupun yang menjalin hubungan serius denganmu." Keenan menimpali.


Tiba-tiba tubuh Gibran oleng. Dia pun lantas menjatuhkan dirinya begitu saja di atas sofa. Detik kemudian ia pun terlelap.


Keenan hanya menggeleng heran dengan sikap saudara laki-lakinya itu.


"Saya permisi dulu, Mas. Sepertinya Nyonya Anita memanggil saya."


"Sebentar lagi saya turun ke bawah, Mbok."


"Baju kebaya ini biar saya simpan." Mbok Marni mengambil paperbag berwarna cokelat itu lantas membawanya berlalu dari hadapan Keenan.


"Di mana kakakmu?" tanya sang ibu di sela makan siang mereka.


"Tidur di kamarku."


"Di kamarmu?" 


"Ya. Dia mabuk lagi."


Tak ada tanggapan apapun dari sang ibu. Baginya hal itu sudah biasa.


"Bagaimana rencana pernikahanmu dengan Asha?" tanya sang ibu.


"Asha sudah tiada. Pernikahan kami gagal."


Jawaban itu sontak membuat sang ibu tersentak kaget hingga ia tersedak oleh makanan yang baru saja melewati kerongkongannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Bukankah seharusnya hari pernikahan kalian besok?"


Keenan tersenyum hambar.


"Ibu di luar kota selama satu Minggu. Ibu tidak tahu apa yang terjadi dua hari belakangan. Asha meninggal dunia saat menjalankan shalat subuh di rumahnya."


"Ya sudah. Itu berarti Asha bukan jodohmu. Kamu jangan khawatir. Nanti ibu kenalkan dengan putri kawan ibu. Hanya gadis bo*oh yang tidak mau dengan laki-laki tampan dan mapan sepertimu."


"Oh ya di mana ayah? Apa Ibu tidak pulang bersamanya?" Keenan mengalihkan pembicaraan.


"Sepulangnya dari kota D, ayahmu langsung berangkat ke kota B. Mungkin lusa baru kembali."


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba ponsel Anita berdering. Wanita yang selalu berpenampilan modis itu pun bergegas meninggalkan meja makan dan menjawab panggilan tersebut.


"Ibu pergi dulu," ucapnya sesaat setelah mengakhiri panggilan telepon. Ia lantas meletakkan gawainya di atas meja.


"Ibu baru pulang setelah satu Minggu berada di luar kota dan sekarang mau pergi lagi?" protes Keenan.


"Ada klien yang harus ibu temui sekarang juga."


"Apa sedikit saja Ibu tidak bisa meluangkan waktu untuk anak-anak Ibu?"


"Kalian berdua sudah besar. Bisa mengurus diri sendiri 'bukan?"


"Sesekali kami ingin mengobrol dengan Ibu. Kami ingin Ibu mendengar keluh kesah kami."


"Ibu sudah ditunggu klien." Anita mengenakan kembali tas selempangnya lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Tiba-tiba pandangan Keenan tertuju pada ponsel yang berada di atas meja. 


"Ah! Ibu melupakan ponselnya lagi,"gumamnya.


Keenan meraih gawai itu dan berniat memberikannya pada sang ibu sebelum ia masuk kembali ke dalam mobilnya. Di saat itulah sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan. 


[From: Nina]


[Aku tunggu di kamar hotel no. 511"]


"Siapa pengirim pesan ini? Kenapa mereka membuat janji di kamar hotel?" gumam Keenan.


Bersambung … 


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2