Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Buah kesabaran


__ADS_3

Waktu terus berjalan, berkat kerja keras dan ketekunanku, serta izin dari Allah, kini aku bisa membeli sebuah rumah yang sekaligus menjadi usaha konveksi. Alhamdulillah, dari satu unit mesin jahit yang pernah kubeli dari seorang nenek tua beberapa tahun silam, kini aku memiliki lebih dari dua puluh mesin jahit yang tentu saja semuanya dikerjakan oleh karyawanku. Fina yang sempat berhenti sekolah itu kini melanjutkan pendidikannya di bangku SMA. Sementara ibu kandungku yang sempat mengalami depresi dinyatakan sembuh. Beliau lah yang kupercaya menjadi pengawas di usaha konveksi ku.


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya ibu saat mendapatiku hendak keluar rumah.


"Aku ingin menjemput mantan ibu mertuaku di panti jompo. Aku sudah berjanji jika kehidupanku sudah membaik, aku akan menjemputnya dan mengajaknya tinggal bersamaku. Ibu tidak keberatan 'kan, jika bu Kinanti tinggal bersama kita?" 


Wanita yang kini anggun dengan balutan hijab di kepalanya itu tersenyum manis.


"Kenapa ibu harus keberatan? Rumah ini milikmu, kamu berhak mengajak siapapun untuk tinggal di sini," ucapnya.


Alhamdulillah. Berada di rumah sakit jiwa selama lebih dari tiga tahun mampu membuat ibuku menjadi pribadi yang lebih baik. Beliau mau mengubah gaya berpakaiannya yang dulu terbuka menjadi tertutup dengan mengenakan hijab syar'i seperti yang lebih dulu kukenakan.


"Pak Amin di mana, Bu?" tanyaku.


"Ibu lihat tadi depan sedang mencuci mobil."


"Oh ya. Jam sepuluh siang nanti Ibu suruh salah satu karyawan untuk menjemput Lyra di PAUD ya, Bu. Takutnya aku pergi agak lama."


"Biar ibu saja yang menjemput Lyra."


"Ibu di rumah saja mengawasi karyawan. Kalau Ibu jalan kaki nanti capek. Biar karyawanku saja yang menjemput Lyra dengan sepeda motor," ucapku.


"Tidak apa, sesekali Ibu ingin menjemput cucu ibu. Lagipula ibu masih kuat kok berjalan kaki lima belas menit saja."


"Ya sudah, nanti kuminta Rahma untuk mengawasi konveksi sementara Ibu keluar," ucapku. Ibu mengangguk paham.


Rahma. Ya, gadis yang pernah menjadi tetanggaku saat masih tinggal di tempat kost cik Leni, kini juga bekerja di usaha konveksi milikku dikarenakan dia tidak nyaman lagi bekerja di pabrik.


"Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kita kemana, Bu?" tanya pak Amin saat aku menghampirinya. Mobilku kini terlihat mengkilap setelah dicuci.


"Kita ke panti jompo, Pak."


"Loh, memangnya ada saudara Ibu di sana?" tanya pria yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu.


"Ada. Mari, Pak," ucapku sembari membuka pintu mobil.


Mobil berwarna putih itu belum genap seminggu menjadi kendaraanku saat aku harus bepergian jauh ataupun berbelanja barang-barang untuk usaha konveksiku.


Sekitar dua puluh menit kemudian aku tiba di panti jompo. Aku bisa melihat binar di sorot mata mantan ibu mertuaku itu saat mendengar niatanku mengajaknya meninggalkan tempat itu dan tinggal bersama di rumah baruku.


"Terima kasih selama ini sudah merawat ibu saya dengan baik. Atas nama ibu, saya minta maaf jika beliau ada salah," ucapku sembari menyodorkan amplop berisi sejumlah uang pada salah satu petugas."


"Bu Kinanti ini beruntung sekali. Meskipun hanya mantan menantu, tapi bu Azzura begitu perhatian dan peduli," ucapnya.

__ADS_1


"Saya selalu menganggap ibu Kinanti ini seperti ibu kandung saya sendiri," ucapku.


"Benar-benar perempuan luar biasa."


"Tidak usah terlalu memuji saya, Bu. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."


"Memangnya di mana pak Fabian sekarang? Dia yang mengirim ibunya ke tempat ini, namun jarang sekali mengunjunginya."


"Ehm … mungkin dia sibuk. Hingga tak sempat mengunjungi ibunya," ucapku.


Belakangan aku tahu dari kawan lamaku, Arman jika Fabian dan Silvia sudah menikah. Tepatnya dipaksa menikah lantaran keduanya kepergok warga tengah melakukan perbuatan me*um di dalam mobil saat mereka berada di depan rumah kontrakan Fabian. Pun aku memilih menutupinya dari ibu.


"Apa ibumu tidak keberatan jika aku tinggal di rumahmu, Nduk?" tanya ibu Kinanti.


"Aku sudah berbicara dengan ibu. Ibu sama sekali tidak keberatan jika Ibu tinggal bersama kami."


"Oh ya. Apa kamu mau mengantar ibu bertemu Mila? Bagaimana pun dia menantu ibu."


"Tentu saja, Bu. Setelah dari sini, kita langsung menemui Mila," ucapku.


Setelah meninggalkan panti jompo, aku meminta pak Amin melajukan mobilku menuju lembaga pemasyarakatan. Karmila tampak begitu kaget saat melihat kedatangan kami.


"Zura … Ibu …? Kalian, …"


Karmila hendak bersimpuh di hadapan ibu namun beliau melarangnya.


"Sudahlah, yang lalu biar lah berlalu. Ibu sudah memaafkanmu. Yang terpenting kamu mau berubah," ucap ibu sembari menyentuh puncak kepala Mila.


Dari ibu, pandangan Mila beralih padaku.


"Apa kamu tahu kabar mas Fabian? Sudah lama sekali dia tidak mengunjungiku. Dia baik-baik saja 'bukan?"


Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan pada Mila? Apakah aku harus mengatakan jika Fabian kini sudah menikahi Silvia? Atau aku pura-pura tidak tahu saja?


"Ehm … sudah lama aku tidak bertemu Fabian. Aku tidak tahu kabarnya."


Kurasa jawaban paling tepat untuk pertanyaan Mila. Aku pernah berada di posisinya. Fabian menikah tanpa izin ataupun sepengetahuanku, dan itu sangat menyakitkan.


"Oh ya, masih berapa lama masa tahananmu?" tanyaku.


"Tahun depan insyaallah aku bebas."


"Kamu sudah melewati lebih dari separuh masa tahananmu dengan baik. Aku yakin jika kamu berperilaku baik, tidak sampai setahun kamu pasti akan keluar dari tempat ini."


"Aamiin … semoga. Ehm … Zura, …"


"Ya, ada apa, Mila?" 

__ADS_1


"Apa aku boleh minta sesuatu?"


"Memangnya kamu pingin apa? Makanan? Minuman, atau mungkin camilan?" tanyaku.


Mila menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Bukan … bukan itu yang aku inginkan."


"Lantas?"


"Aku ingin belajar mengenakan hijab. Kamu mau kan mengajariku?"


"Masyaallah. Mila. Kamu ingin berhijab?" 


tanyaku penuh semangat.


"Ya. Aku ingin menutup auratku. Apakah untuk sementara aku boleh meminjam kain hijabmu?"


"Kamu tidak perlu meminjamnya, aku akan membelikan kain hijab baru untukmu."


"T-t-tapi … apa itu tidak merepotkan?"


"Sama sekali tidak. Mendengar niatanmu untuk berhijab saja aku merasa begitu begitu senang. Besok aku akan kembali ke sini untuk membawakan kain hijab untukmu."


Tiba-tiba Mila meraih tanganku, dia lantas menatap lekat mataku.


"Zura … aku minta maaf atas semua perbuatanmu di masa lalu. Sebenarnya … sebenarnya …"


"Sebenarnya … apa, Mila?"


Karmila menghela nafas panjang.


"Ada rahasia besar yang selama ini tidak kamu ketahui," ucapnya.


"Rahasia besar apa maksudmu?" tanyaku penuh selidik.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2