Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Mencari kebenaran


__ADS_3

Kuamati benda pipih itu. Aku hampir tak mempercayai apa yang kulihat. Dua garis merah tertera jelas di sana. Apa yang ditakutkan ibu benar-benar terjadi. Ibu hamil. Dan bisa kupastikan ayah dari bayi yang dikandungnya adalah laki-laki bernama Irwan yang ibu pun tidak tahu di mana alamat rumahnya.


"J-j-jadi Ibu memang hamil? Ya Allah, bagaimana ini, Bu?"


"Kenapa kamu yang bingung?"


"Ibu hamil anak Irwan. Sedangkan laki-laki breng*ek itu menghilang bagai ditelan bumi. Mengapa Ibu terlihat tenang-tenang saja?"


"Tidak lama lagi Yoga akan menikahiku. Jadi, kenapa aku harus bingung? Lagipula usia kehamilan ini baru hitungan Minggu. Yoga tidak akan tahu jika aku hamil dengan Irwan. Dia justru akan senang jika aku bisa cepat hamil setelah menikah dengannya."


"Istighfar, Bu. Tidak seharusnya Ibu bicara begitu. Bagaimana mungkin Ibu menikah dengan pak Prayoga sementara ada benih dari laki-laki lain di rahim Ibu. Hal itu dilarang agama."


"Jadi, maksud kamu ibu harus mencari keberadaan Irwan dan memintanya bertanggung jawab atas kehamilanku, begitu? Nomor ponselku saja diblokir. Bagaimana caranya aku bisa menemukannya?"


"Ibu jangan menikah dengan pak Prayoga. Ini tidak adil baginya," ujarku.


"Jadi, kamu mau anak ini dilahirkan tanpa ayah?"


"Seandainya saja malam itu Ibu tidak pergi, mungkin hal ini tidak akan terjadi."


"Ya. Aku memang bodoh. Aku memang tidak punya otak. Salahkan saja aku terus!" seru ibu. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya.


Ya Rabb, cobaan demi cobaan datang silih berganti. Apa aku sanggup menjalaninya?


Tiba-tiba saja aku terpikir untuk mencari siapa sebenarnya laki-laki bernama breng*ek bernama Irwan itu. Apa benar dia Irwan kakak sahabatku, Khumayra ataukah Irwan yang lain. Hari ini juga aku harus mencarinya tahu siapa dia sebenarnya.


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, aku pun menghubungi nomor Khumayra. Aku berharap hari ini dia libur atau giliran jaga shift malam.


[Halo, Assalamu'alaikum, May]


[Waalaikumsalam. Tumben kamu nelpon aku. Apa ada hal penting?]


[Hari ini kamu ada waktu, May?]


[Kebetulan aku masuk siang. Kenapa, Ra,?]


[Boleh nggak aku ajak Lyra main ke rumahku?]


[Boleh dong. Aku juga kangen pingin nggendong Lyra]


[Kamu kirim alamat rumah kamu ya]


[Ok. Aku tunggu ya]


[Assalamu'alaikum]

__ADS_1


[Waalaikumsalam]


Klik. Kuakhiri percakapan.


****


Sesampainya di rumah Khumayra.


Seseorang membukakan pintu untukku. Namun dia seorang laki-laki. Tidak salah lagi, dia pasti kakak Khumayra, Irwan.


"Mbak siapa, dan ada perlu apa?" tanyanya. Ia lantas mengamati penampilanku. Dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu naik kembali di bagian dadaku. Tatapannya sungguh membuatku tidak nyaman.


"Mayra ada? Aku kawannya, Azzura."


"Mayra ada di dalam. Silahkan Mbak tunggu di ruang tamu." Laki-laki berbadan bongsor itu mencoba menggandeng tanganku, tentu saja aku menepisnya.


"Maaf, saya bisa jalan sendiri," tukasku.


"Itu anaknya ya Mbak?" tanyanya lagi.


"Ya," jawabku singkat.


Beberapa saat kemudian Mayra terlihat muncul dari arah dapur.


"May, …"


"Ada apa Ra? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan."


"Ehm, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apa aku boleh tahu nomor ponsel kakakmu?" tanyaku setengah berbisik.


"Memangnya kenapa?"


"Ehm…ehm…"


"Ada apa, Ra?"


"Begini, May. Sebelumnya aku minta maaf jika hal yang ingin kusampaikan sedikit menyinggung perasaanmu."


"Sebenarnya ada apa, Ra? Jangan membuatku bingung," ucap Khumayra.


"Ehm… belakangan ini ibuku dekat dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu bernama Irwan."

__ADS_1


"Lantas?"


"Dari penuturan ibu, laki-laki bernama Irwan itu telah melakukan sesuatu pada ibuku hingga membuatnya…hamil."


"Astaga!" Khumayra membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Maksud kedatanganku ke rumah ini, aku ingin memastikan apakah Irwan yang dimaksud ibuku adalah mas Irwan kakakmu atau Irwan yang lain," ucapku.


"Ada banyak laki-laki bernama Irwan. Kenapa kamu menuduh kakakku sebagai pelakunya?"


"Aku tidak bermaksud menuduh. Aku hanya ingin memastikan saja siapa sebenarnya Irwan yang dimaksud ibuku."


"Ada apa ini? Sepertinya aku mendengar Mbak Zura menyebut namaku," ucap Irwan sembari duduk di sofa persis di hadapanku.


"Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur,"ucapku.


"Pertanyaan apa, Mbak?"


"Apakah belakangan ini kamu dekat dengan seorang perempuan bernama Sabrina?" tanyaku.


"Sabrina? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya," ucap Irwan. Aku dapat menangkap kebohongan di sorot matanya.


"Kamu pasti menutupi sesuatu. Kamu pasti Irwan itu 'kan? Kamu yang sudah mengajak ibu keluar malam itu lalu membuat ibuku mabuk dan kamu melakukan hal tidak senonoh padanya? Apa kamu tahu, gara-gara perbuatanmu itu ibuku kini hamil. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"


"Mbak jangan sembarangan menuduh. Ada banyak laki-laki bernama Irwan. Mana buktinya kalau aku pelakunya? Temanmu ini mengada-ada, May. Mana mungkin aku berhubungan dengan perempuan tua bernama Sabrina itu. Apalagi sampai membuatnya hamil. Tentu saja dia bukan seleraku," ujar Irwan.


"Mana ponsel mas Irwan?" Mayra menatap tajam mata kakak laki-lakinya itu.


"Ehm, ehm, …"


"Mana ponselnya!" bentak Mayra.


"Kita lihat saja, siapa yang berkata benar, dan siapa yang sudah berbohong," ucapku.


Aku mengambil ponselku, lantas kutelpon nomor Irwan yang sebelumnya telah kusalin dari ponsel ibu.


Irwan yang terus membantah itu pun tidak punya pilihan selain mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak terus ya…


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2