
Aku mencoba menghubungi nomor Fabian. Bukan apa, tujuanku hanya ingin meminta foto yang dibutuhkan untuk tugas sekolah Lyra. Berkali-kali kuhubungi, namun selalu gagal. Sepertinya dia sudah mengganti nomor lamanya dengan nomor baru. Tidak ada cara lain selain mendatangi konveksi nya.
"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan pemilik konveksi ini?" tanyaku pada salah satu karyawannya yang kebetulan baru saja keluar dari tempat itu.
"Sebentar, Ibu tunggu di sini."
Gadis yang usianya baru 20 tahun an itu pun lantas masuk kembali ke dalam bekas ruko tersebut. Tidak berselang lama Fabian muncul.
"Ada apa mencariku?" tanyanya ketus.
"Ehm … aku sudah mencoba menghubungi nomor ponselmu, tapi selalu gagal."
"Aku mengganti nomor ponselku. Memangnya ada apa?"
"Ehm … aku-aku hanya ingin meminta fotomu."
"Fotoku?" Fabian mengerutkan keningnya.
"Kamu jangan salah paham dulu. Lyra membutuhkan fotomu untuk tugas sekolahnya. Gurunya memberi tugas membuat pohon keluarga yang disertai foto," jelasku.
"Ehm … begitu. Kamu masih menggunakan nomor lamamu 'bukan?"
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
Fabian mengambil ponselnya lalu mengirim fotonya melalui aplikasi percakapan.
"Sudah," ucapnya bersamaan dengan bunyi notifikasi pesan baru dari ponselku.
"Terima kasih, hanya itu saja tujuanku datang ke sini, maaf mengganggu waktumu."
Perceraian rupanya membuat hubungan dua insan manusia yang dulunya saling mencintai dan membutuhkan, menjadi seperti dua orang asing yang seolah tidak saling mengenal.
Aku baru saja beranjak dari tempat itu, tak kuduga kak Maureen tiba-tiba saja muncul.
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya sinis.
"Aku ada perlu sedikit dengan Fabian."
"Alasan! Jangan-jangan kamu ingin mendekatinya lagi ya?!"
"Astaghfirullahaldzim. Aku tidak pernah sekalipun berpikir melakukan hal itu. Bagiku Fabian adalah masa lalu, apalagi sekarang dia sudah menjadi suami Kakak, aku tahu batasannya."
"Kamu jauh-jauh datang ke sini pasti hanya untuk bertemu dengannya. Atau jangan-jangan kalian sering bertemu secara diam-diam di belakangku."
"Zura datang ke sini hanya untuk meminta fotoku yang dibutuhkan Lyra untuk tugas sekolah nya."
"Apa Mas nggak curiga?" tanya kak Maureen.
"Curiga?"
"Bisa saja dia meminta foto Mas untuk digunakan sebagai sarana guna-guna. Mas 'kan sekarang sudah kaya, dia pasti menginginkan Mas lagi."
"Kak Maureen! Jaga ucapan Kakak! Aku tidak sepicik yang Kakak pikirkan! Sampai kapanpun aku tidak akan memungut kembali barang yang sudah kubuang!"
"Isi hati orang siapa yang tahu."
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah benar di mata Kakak. Sepertinya rasa iri dan dendam sudah membuat hati Kakak mati," ujarku.
"Sudah, sana pergi!"
"Tanpa Kakak suruh pun, aku akan pergi!"
Aku berlalu dari hadapan keduanya lalu meninggalkan tempat tersebut.
Dari konveksi Fabian, aku langsung menuju tempat percetakan. Tentu saja tujuanku mencetak foto Fabian untuk tugas sekolah Lyra. Tak disangka, di tempat itu aku bertemu saudara laki-laki Gibran. Ya, Keenan.
"Assalamu'alaikum," sapanya dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Kamu, Ken. Lagi cetak foto?"
"Nggak kok, lagi fotokopi berkas. Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar Lyra?"
"Alhamdulillah, dia sehat."
"Lyra pasti semakin dekat dengan Gibran."
"Ya, begitu lah."
"Jika kalian memang sudah saling cocok, kenapa kalian tidak menikah saja?"
Aku mengulas senyum.
"Untuk saat ini aku masih ingin fokus membesarkan Lyra, juga mengembangkan usaha konveksiku," ucapku.
"Ya, hidup memang perlu prinsip," ujar Keenan.
Beberapa saat kemudian seorang karyawan muncul dari dalam percetakan.
"Semuanya lima belas ribu rupiah," ucapnya seraya menyerahkan satu bendel berkas pada Keenan. Ia pun mengambil uang pecahan dua puluh ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada karyawan percetakan tersebut.
"Maaf, saya tidak memiliki pecahan lima ribuan."
"Tidak apa, ambil saja kembaliannya," ucap Keenan.
"Ibu mau fotokopi juga?" tanya karyawan itu padaku.
"Ehm … tidak. Saya ingin mencetak foto."
"Baik, file nya silahkan Ibu kirim ke nomor yang tertera di papan nama percetakan ini."
Aku pun lantas mengirim foto Fabian ke nomor yang dimaksud karyawan itu.
"Bukankah itu foto ayahnya Lyra?" tanya Keenan saat foto Fabian muncul di layar laptop percetakan itu.
"Ya. Aku mencetak fotonya untuk tugas sekolah Lyra," jelasku.
Aku mengulas senyum.
"Sampai kapanpun tidak ada istilah mantan anak atau mantan ayah. Aku juga tidak pernah punya pikiran agar Lyra melupakan apalagi membenci ayah kandungnya."
Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti persis di depan percetakan. Pengendara nya seorang perempuan muda berhijab. Saat perempuan itu membuka helmnya, aku baru mengenalinya.
"Bu guru Syifa?"
"Eh, ibunya Lyra. Ibu … ehm … Zura."
"Oh iya. Maaf, saya lupa."
"Tidak apa."
"Maaf, apa Mbak ini puteri dari dokter Zain?" Tiba-tiba Keenan menimpali obrolan kami.
"Iya, benar. Memangnya Mas mengenal ayah saya?"
"Saya tidak begitu mengenal beliau. Bertemu pun baru sekali saat saya mengantar ibu saya berobat."
"Lantas, bagaimana Mas tahu jika saya adalah puteri beliau?"
"Kalau tidak salah dokter Zain meletakkan foto Mbak di meja kerjanya. Dari situlah saya merasa sepertinya wajah Mbak tidak asing bagi saya," jelas Keenan.
"Oh, begitu rupanya."
"Apa setelah itu kalian mengobrol dan dokter Zain bermaksud mengenalkan bu Guru Syifa padamu?" godaku yang sebenarnya asal tebak saja.
"Ehm … ya … begitu lah."
__ADS_1
"Lantas, bagaimana tanggapanmu? Ternyata bu Guru Syifa ini lebih cantik aslinya daripada fotonya 'bukan?" godaku lagi. Kali ini Keenan terlihat salah tingkah.
"Ehm … maaf. Aku harus pergi sekarang," ucap Keenan setelah melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia pun lantas meninggalkan percetakan tersebut.
"Ibu mengenal laki-laki itu?" tanya Syifa.
"Yaz sudah cukup lama saya mengenalnya. Kebetulan kakaknya adalah salah satu pelanggan konveksi saya."
"Ehm … apa saya boleh tahu namanya?"
"Namanya Keenan."
"Nama yang bagus."
"Apa, Bu?"
"Ehm …ti-ti-tidak apa."
"Selain namanya yang bagus, kepribadiannya pun bagus. Dia baik, hormat dan sopan pada wanita, dan satu lagi … tampan."
"Ah! Ibu. Kenapa jadi menggoda saya? Saya kan hanya ingin tahu namanya saja."
"Bukankah ada peribahasa tak kenal maka tak sayang? Dari kenal, lama-lama tumbuh rasa sayang," kelakarku.
"Ibu Zura ternyata bisa bercanda juga."
"Jangan terlalu serius menghadapi hidup.
Nanti cepat tua, stress, dan kena stroke." Ucapanku kali ini sukses memancing tawa sang ibu guru.
"Ibu fotonya sudah selesai dicetak," ucap karyawan tadi mencetak foto Fabian.
"Itu pasti foto ayahnya Lyra yang mau digunakan untuk tugas sekolah dari saya," ucap Syifa.
"Benar, Bu."
"Kenapa harus mencetaknya? Biasanya suami istri punya banyak koleksi foto di rumah."
Aku mengulas senyum.
"Ehm … kami sudah berpisah saat Lyra masih bayi. Hari ini saya sengaja menemuinya untuk meminta foto ini saja," jelasku.
"Ya Allah. Saya minta maaf, Bu. Saya benar-benar tidak tahu."
"Ah, tidak apa. Kita 'kan memang belum lama saling kenal. Jadi belum tahu kehidupan pribadi masing-masing," ujarku.
"Berapa, Mas?" tanyaku pada karyawan percetakan.
"Lima ribu saja, Bu."
"Aku mengambil selembar uang pecahan sepuluh ribuan dari dalam dompetku lalu memberikannya pada karyawan itu.
"Saya tidak punya kembalian lima ribuan, Bu. Mas yang tadi aja nggak saya kasih kembalian.
"Ya sudah, kembaliannya ambil saja."
"Alhamdulillah, dipertemukan dengan orang-orang baik. Saya do'a kan Ibu dan Mas yang ganteng tadi berjodoh," ucap karyawan itu.
"Aamin."
Loh, kenapa aku mengamini doa itu? Seketika aku merutuki kekonyolanku. Apa karena terlalu dekat dengan Gibran, aku jadi ikut konyol begini?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰