
"Pulang dari rumah kakakmu, kenapa mukamu ditekuk begitu?" tanya ibu sesampainya aku di rumah.
"Pasti mbak Maureen mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Ibu." Fina menimpali.
Aku menanggapi ucapan mereka dengan senyum tipis.
"Sebentar lagi adzan Maghrib, mari kita bersiap untuk sholat berjamaah," ucapku.
****
"Setelah menikah nanti, Ibu masih tetap tinggal di sini atau tinggal di rumah mas Gibran?" tanya Fina saat kami bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Entahlah, ibu belum membicarakannya dengan Gibran. Tetapi sebagai seorang istri akan lebih baik ikut tinggal bersama suaminya," paparku.
"Ibu, Lyla mengantuk," ucap Lyra yang sedari tadi duduk di atas pangkuanku.
"Ya sudah, ayo ibu temani Lyra tidur."
"Malam ini Ibu tidul di kamal Lyla," rengeknya.
"Memangnya kenapa? Lyla takut?"
"Lyla ingin dibacakan dongeng."
"Baiklah."
Aku beranjak dari tempat dudukku kemudian masuk ke dalam kamar Lyra.
"Ibu."
"Ya, Nak."
"Kalau Ibu sudah menikah dengan ayah Giblan, Lyla boleh nggak tidul belsama Ibu?" tanya Lyra seraya menyandarkan kepalanya di atas pangkuanku.
"Boleh dong. Masa nggak boleh."
"Tapi mbak Fina bilang, kalau kita bobok beltiga, nanti Lyla susah punya adik kecil."
Apa-apaan si Fina itu. Kenapa dia harus mengatakan hal itu pada Lyra yang belum tahu apa-apa.
__ADS_1
"Oh ya, Lyra mau dibacakan dongeng yang mana? Cinderella, timun emas, atau si itik buruk rupa?" Aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Timun emas."
Aku pun mengambil buku dongeng dari rak buku dan mulai membacanya.
"Pada zaman dahulu, hidup lah seorang janda tua. Dia hidup menyendiri di dekat hutan. Pekerjaan sehari-hari mencari kayu bakar untuk dijual. Di suatu siang yang mendung itu, terdengar suara tangisan bayi. Karena penasaran, nenek itu pun mencari dari mana suara tersebut berasal. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati, …"
Aku menutup buku cerita itu lantaran Lyra telah tertidur pulas. Rasa kantuk pun mulai menyerangku. Aku lantas merebahkan tubuhku di sisi Lyra.
Tiba-tiba saja aku dan Lyra duduk sendirian di taman yang begitu indah.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku."
Aku pun lantas mendongakkan wajahku.
Senyum mengembang di bibirku saat sepasang netra kami bertemu. Dia lah Gibran, calon suamiku.
"Waalaikumsalam." Aku menjawab salamnya.
"Ayo ikut aku," ucapnya.
Pria yang hanya tinggal hitungan hari menjadi imamku itu hanya tersenyum. Tangan kanannya menggandeng tanganku, sementara tangan lainnya menggandeng tangan Lyra.
"Kita mau ke mana, Ayah Giblan?" tanya Lyra yang sama penasarannya denganku.
"Kita ke taman sebelah sana," jawab Gibran.
Aku dan Lyra menurut saja saat Gibran mengajak kami menuju sebuah taman. Kuakui taman itu lebih indah dari taman sebelumnya kami datangi.
Aku merasa heran saat Gibran melepas perlahan genggaman tangannya dari tanganku juga tangan Lyra.
"Kamu mau kemana?" tanyaku.
"Kalian telah sampai di taman yang indah, saatnya aku pergi," ucapnya. Senyum meneduhkan itu tak sedikitpun menghilang dari wajahnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian," ucapku.
"Terima kasih sudah pernah mengisi hari-hariku," ucap Gibran lagi.
__ADS_1
Tentu saja aku semakin dibuat bingung oleh ucapannya.
"Ayah Giblan mau kemana? Lyla ikut "
"Kamu di sini saja temani ibumu."
Perlahan Gibran berjalan menjauhi kami. Anehnya dia melambaikan tangannya seolah ingin mengucapkan selamat tinggal.
"Ayah! Jangan pergi! Lyla ikut!"
Putri kecilku itu berlari mengejarnya namun ia justru terjatuh di atas rerumputan.
Aku pun bergegas menghampiri Lyra lalu membopongnya.
"Ayo, Nak. Kita pulang."
Aku mengedarkan pandanganku di taman bunga yang luas itu. Kenapa tiba-tiba aku merasa bingung begini? Arah mana yang harus kulewati menuju jalan pulang ke rumahku?
Di saat aku kebingungan itu lah tiba-tiba seseorang menggandeng tanganku.
"Ayo ikut aku, aku akan mengantar kalian pulang," ucapnya.
Aku pun lantas menoleh ke arah suara itu.
"Assolatu khoirumminannaum."
Suara adzan subuh membuatku terjaga.
Mimpi itu … ya Rabb … kenapa tiba-tiba aku merasa begitu takut?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1