
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar suara teriakan anak kecil dari arah teras rumah. Tidak salah lagi, itu suara Lyra dan Anisa. Kami pun lekas berhamburan keluar rumah untuk memeriksa apa gerangan yang telah terjadi di sana. Mataku terbelalak saat mendapati Lyra tengah ditarik paksa seorang perempuan menuju halaman rumah kak Darren, sementara Anisa berusaha keras menahannya.
"Astaghfirullahaldzim! Hei! Siapa kamu!" teriak kak Darren.
Bukannya takut, perempuan yang mengenakan jaket dengan penutup kepala berwarna hitam itu justru membopong tubuh Lyra dan membawanya lari keluar dari halaman rumah. Meskipun keadaannya sedang kurang sehat, kak Darren tidak mau tinggal diam. Dia berlari mengejar penculik itu hingga di tepi jalan. Tanpa membuang waktu, aku pun menyusul kak Darren mengejar si penculik. Entah sudah sejauh apa aku berlari, aku merasa habis kehabisan nafas. Penculik itu terus berlari sembari menggendong Lyra. Ia sama sekali tak peduli dengan teriakan Lyra yang terus memberontak dan tak berhenti memukul punggungnya.
Dari tepi jalan, penculik itu berbelok memasuki sebuah gang sempit. Inilah kesempatanku untuk meminta pertolongan.
"Tolong! Penculik!" teriakku yang sontak mengundang perhatian warga sekitar. Mereka pun beramai-ramai mengejar penculik puteriku. Entah karena kurang menguasai daerah sini, atau memang hari ini hari sialnya. Penculik itu menemui jalan buntu.
"Woi! Lepaskan anak itu!" teriak kak Darren dengan nafas tersengal.
Aku mulai mengamati siapa si penculik itu. Meskipun mengenakan penutup kepala dan masker, aku masih mengenali sorot matanya. Ya, pemilik sorot mata penuh kebencian itu tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih Gibran, Luna.
"Luna! Saya tahu ini kamu. Kenapa kamu masih saja mengganggu hidup kami?" ucapku.
"Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu dan Gibran akan menikah? Kamu harus ingat pesanku. Selagi kalian masih menjalin hubungan, aku tidak akan pernah membiarkan hidup kalian tenang!"
"Astaghfirullahaldzim. Kapan kamu akan sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan. Gibran adalah masa lalumu, biarkan dia hidup tenang dengan masa depannya tanpa kamu mengusiknya."
__ADS_1
Luna menyeringai kecut.
"Enak saja. Sampai kapanpun aku tidak akan rela jika dia jatuh ke dalam pelukan perempuan lain."
"Bukankah kamu sendiri yang dulu mengkhianatinya? Kenapa kamu harus muncul kembali untuk memaksanya untuk menerimamu lagi. Kamu ini cantik dan masih muda, pasti banyak laki-laki di luar sana yang mungkin lebih baik dari Gibran. Kumohon, biarkan kami hidup tenang," ucapku.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi! Sekarang kamu pilih, batalkan pernikahan itu atau puteri tercintamu ini akan celaka!"
Mataku membulat saat Luna secara tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya lalu mengarahkannya ke leher Lyra.
"Ibu! Tolong Lyla!" pekik puteriku. Raut wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Diam kamu! Kamu tidak berhak ikut campur urusan kami!"
"Tentu saja aku berhak ikut campur. Zura ini adik perempuanku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya."
Sepertinya Lyra mulai menyadari kelengahan Luna. Tiba-tiba saja dia menggigit salah satu tangan Luna dengan begitu kuat. Sontak hal itu membuat Lyra terlepas dari gendongannya. Ia pun lantas mendorong tubuh Luna dan berlari ke arahku.
"Ibu!" pekiknya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanyaku sembari memeriksa beberapa bagian tubuh putri kecilku itu.
"Lyla baik-baik saja, Bu."
Aku pun lantas merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukanku. Kali ini aku membenarkan ucapan jika kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita di satu menit ke depan. Tiba-tiba saja aku merasa sesuatu yang sangat menyakitkan baru saja menghujam bagian punggungku. Samar-samar kudengar kalimat itu terlontar dari mulut Luna.
"Kalau Gibran tidak bisa kumiliki, kamu pun tidak akan pernah bisa memilikinya!"
Aku merasa sakit luar biasa di bagian punggungku. Seperti ada benda tajam yang menancap di sana.
"La-ilaha- illalllah … Mu-ham-madarrosulu-llah," seuntai kalimat syahadat itu terucap terbata dari bibirku sebelum semuanya terlihat gelap.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰