
Adegan antara seorang dosen mahasiswa nya itu tentu saja menjadi tontonan gratis bagi beberapa pasang mata yang berada di tempat tersebut. Hampir semua mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka dengan tujuan merekam atau hanya sekedar mengambil gambar saja.
"Gil* kamu Widya!" Darren berusaha melepas kedua tangan Widya yang melingkar erat di pinggangnya namun gadis itu enggan melepasnya. Sementara mahasiswa yang sedari tadi menjadi penonton itu tak henti mengambil gambar maupun video mereka.
"Pak Darren! Apa yang anda lakukan benar-benar tidak pantas!" seru seseorang yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Pak Bima … Saya bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang Bapak lihat." Darren mendorong tubuh Widya agar menjauh darinya.
"Semuanya sudah jelas, Pak. Bahkan ada yang mengirim foto tidak senonoh Bapak dengan gadis ini ke ponsel saya. Anda tidak bisa menyangkalnya lagi."
"Astaghfirullahaldzim. Bapak dengar dulu penjelasan saya. Saat saya tiba di kampus ini, gadis ini sudah berada di tempat parkir. Gadis ini yang sedari dulu mengganggu saya. Bahkan dekan di kampus NY memberhentikan saya karena salah paham saat gadis ini mencoba menggoda saya saat saya berada di dalam ruang dosen."
"Kami memang sudah lama menjalin hubungan, Pak. Dan kami saling mencintai." Widya menimpali.
"Maaf, Pak Darren. Dengan sangat menyesal saya harus memberhentikan Bapak dari kampus ini. Tidak ada toleransi bagi dosen ataupun mahasiswa yang melakukan tindakan as*sila di lingkungan kampus ini."
"Saya mohon pertimbangkan lagi keputusan Bapak. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber mata pencaharian saya."
"Apa yang saya lakukan demi kebaikan kampus, dan demi kebaikan kita semua. Saya tidak ingin nama baik kampus ini rusak hanya karena perilaku tidak beretika dosen di kampus itu sendiri," ujar pak Bima sebagai pemegang wewenang tertinggi di kampus itu.
Darren hanya bisa diam. Sebagai dosen, ia tak memiliki cukup keberanian untuk menawar keputusan tersebut.
"Saya permisi dulu. Surat pemberhentian Bapak secara resmi akan dikirim pihak kampus ke alamat rumah Bapak dalam waktu 1x24 jam. Selamat pagi." Pak Bima pun lantas meninggalkan area parkir.
"Puas kamu sekarang! Saya benar-benar sudah menjadi pengangguran!" seru Darren pada Widya sesaat setelah pak Bima berlalu.
"Bukan kah sudah saya bilang, Bapak tidak perlu khawatir soal pekerjaan. Almarhum bapak saya meninggalkan banyak usaha. Setelah menikah dengan saya, Bapak bebas memilih usaha mana yang Bapak ingin kelola."
"Kamu jangan mimpi. Sampai kapanpun saya tidak akan sudi menikahi gadis sepertimu!" tegas Darren.
"Perlu Bapak tahu, saya adalah tipe orang yang ambisius. Saya akan melakukan apapun agar keinginan saya terwujud."
"Saya tahu sekarang. Pasti kamu orang yang sudah mengirim benda-benda tak lazim itu ke rumah saya."
"Tebakan Bapak tepat sekali."
"Kamu memang sudah benar-benar kehilangan akal!"
"Bukan hanya kehilangan akal, Pak. Bapak sudah membuat saya gil*!"
__ADS_1
"Terserah!"
Darren berlalu dari hadapan Widya lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Pak Darren! Tunggu, Pak!" Widya menggedor kaca jendela mobil Darren namun laki-laki itu tak sedikit pun menggubris nya. Ia justru melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
****
Darren memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Tentu saja kejadian yang baru saja dialaminya membuatnya begitu terpukul. Selain kehilangan pekerjaan, ia juga harus siap dipermalukan dengan foto ataupun video yang yang mulai beredar luas di sosial media yang sudah pasti merugikannya.
"Mas pulang kok nggak mengucap salam?" tanya Fatimah saat ia melintas di ruang tamu.
"Ehm aku-aku, …"
"Mas diberhentikan dari kampus 'kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu? Aku bahkan belum mengatakan apapun."
Fatimah tersenyum.
"Aku sudah tahu semuanya dari foto dan video yang beredar di sosial media."
"Sssst. Mas tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Dari sorot mata Mas saja aku sudah tahu jika Mas sama sekali tidak berbohong. Aku percaya ini adalah ulah Widya yang sudah tergila-gila dengan Mas."
"Alhamdulillah, jika kamu percaya padaku. Tapi, Dik. Sekarang aku adalah seorang pengangguran. Pihak kampus telah memberhentikanku sebagai tenaga pengajar di sana."
Sekali lagi Fatimah tersenyum.
"Lantas, Mas pikir aku takut? Khawatir? Marah? Sama sekali tidak. Aku percaya Allah maha adil. Meskipun Mas tidak bisa lagi mengajar di kampus itu, aku yakin Allah akan memberikan jalan rezeki dari arah lain bahkan dari jalan yang sama sekali tidak kita duga."
"Masyaallah. Terima kasih, Dek. Kamu begitu pengertian. Aku sungguh beruntung memiliki istri sepertimu." Tiba-tiba saja sorot mata Darren berkaca-kaca.
"Sudah seharusnya suami-istri saling mendukung dan saling menguatkan."
"Kamu tidak perlu takut. Benar dugaan kita, Widya lah yang mengirim benda-benda itu ke rumah kita pagi tadi," ucap Darren.
"Semoga Allah lekas membuka pintu hatinya," ujar Fatimah.
"Oh ya. Bagaimana jika kita menjenguk ibu Sekarang?" Darren mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Baik, Mas. Aku ganti baju dulu."
Setelah bersiap, keduanya pun meninggalkan rumah tersebut.
*****
Setelah hampir tiga bulan sejak mengalami kecelakaan, memori tentang kejadian di masa Silvia perlahan kembali muncul. Tidak hanya detik-detik saat terjadinya kecelakaan. Ia juga sudah mengingat semua peristiwa yang terjadi di hotel tempat diadakannya seminar dan kejadian di dalam kamar hotel antara dirinya dan Fabian. Silvia pun berpikir untuk menjerat Fabian dengan kejadian tersebut.
"Tumben siang-siang begini Ibu menemui saya di kantor," ucap Fabian saat Silvia memasuki ruangannya.
"Ada hal penting yang harus saya sampaikan."
"Tentang apa, Bu? Apa ada tugas keluar kota lagi?"
"Bukan. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan pekerjaan."
"Lantas?"
"Saya sudah mengingat semuanya termasuk kejadian saat di dalam kamar hotel itu. Saya meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah kamu lakukan," ungkap Silvia yang sontak membuat Fabian tercengang.
"Ap-ap-apa, Bu? Bertanggung jawab?"
"Benar, kamu harus menikahi saya."
Apa jawaban yang akan diberikan Fabian pada Silvia? Akankah ia mengabulkan permintaan untuk menikahinya sementara Karmila masih berada di balik jeruji besi?
Ikuti terus kisahnya ya, Kak.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1