Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Siapa dia?


__ADS_3

Sudah dua kali aku mendapat kiriman bunga dari seseorang yang misterius. Aku pun berniat menanyakannya pada pak Amin.


"Pak Amin," panggilku pada sopir pribadiku siang itu saat kami dalam perjalanan mengantar barang pesanan ke toko salah satu pelanggan konveksiku.


"Ya, ada apa, Bu?" tanyanya.


"Ehm … apa belakangan ini pak Amin melihat seseorang yang meletakkan bunga di meja teras?" tanyaku.


"Tidak, Bu. Sepertinya tidak ada kurir ataupun seseorang yang mengirim paket apapun ke rumah ini. Lagipula penghuni rumah ini hampir tidak pernah berbelanja online."


"Saya sudah dua kali mendapat kiriman bucket bunga tanpa pengirim yang jelas. Barangkali Pak Amin melihat siapa yang mengirimnya."


"Maaf, Bu. Saya tidak tahu. Kalau boleh saya tahu, bunga apa yang dikirim untuk Ibu?" Pak Amin balik bertanya.


"Kemarin bunga mawar putih, pagi tadi bunga mawar merah hati."


"Pengirimnya pasti pemuja rahasia Ibu."


"Pemuja rahasia?"


"Ya, ada seseorang yang diam-diam mengagumi Ibu, atau bahkan mungkin menyukai Ibu."


"Ah, mana mungkin. Saya ini sudah tidak muda lagi. Lagipula saya ini janda dengan satu anak. Mana mungkin ada yang mengagumi saya."


"Ibu jangan salah. Menyukai seseorang itu bukan hanya melihat dari wajahnya ataupun usianya saja loh Bu. Bisa saja dia mengagumi Ibu karena kebaikan ataupun ketulusan hati Ibu."


"Pak Amin ini sepertinya paham sekali soal begitu," kelakarku.


"Bukannya apa, Bu. Sebelum saya menikahi almarhum istri saya, saya adalah pengagum rahasia nya. Hampir setiap hari saya mengirim surat berisi puisi yang saya masukkan ke dalam loker pakaiannya."


"Loker pakaian?"


"Ya. Dulu kami bekerja di pabrik tekstil."


Entah mengapa aku begitu tertarik mendengar kisah cinta pak Amin.


"Lalu, bagaimana akhirnya Pak Amin bisa menikahinya?" tanyaku penasaran.


"Dalam waktu satu bulan entah sudah berapa pucuk surat yang saya kirim untuknya. Hingga suatu hari dia memergoki saya sedang memasukkan surat cinta itu ke dalam loker pakaiannya."


"Terus?"


"Ibu mau tahu aja atau mau tahu banget?"


"Ah, Pak Amin ini. Saya beneran penasaran dengan kelanjutannya."


"Dia awalnya marah-marah. Tapi, …"


"Tapi apa, Pak? Pak Amin ini suka sekali bikin saya penasaran."


"Saya tidak menyangka jika dia juga sudah cukup lama memperhatikan saya."


"Terus?"


"Ya gitu."


"Gitu gimana?"

__ADS_1


"Dia menantang saya untuk menemui kedua orangtuanya. Awalnya saya takut, tapi saya lebih takut lagi kalau dia diambil orang. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menemui kedua orangtuanya."


"Lalu?"


"Mereka tidak mengizinkan saya berpacaran dengan anaknya."


"Yaa … kok gitu."


"Mereka tidak mengizinkan kami berpacaran, tapi meminta kami langsung menikah saja."


"Kisah cinta yang manis. Tidak seperti kisah cinta saya."


"Loh … eh … maaf, Bu. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih. Ya sudah kita bahas yang lucu-lucu saja biar Ibu tertawa."


Aku mengulas senyum.


"Memang kisah cinta saya pahit, Pak."


"Ibu pasti ingat mas Gibran ya. Saya pun turut merasa kehilangan dia. Dia laki-laki yang baik dan menyenangkan. Tapi mungkin Allah lebih sayang dia."


"Yaa … kok Ibu nangis. Maaf, Bu." Pak Amin mengambil beberapa lembar tissue yang berada di atas dashboard mobil lalu memberikannya padaku.


"Meskipun saya sudah ikhlas, terkadang saya masih sedih jika tiba-tiba teringat dengannya."


"Saya paham bagaimana perasaan Ibu. Kehilangan orang yang kita sayangi memang menyakitkan. Saya pun merasakannya saat almarhum istri saya meninggalkan saya ketika berjuang untuk melahirkan anak pertama kami."


Kini giliran mata pak Amin berkaca-kaca.


"Loh, Pak. Ini di mana? Kita mau ke jalan Anggrek 'bukan? Kok kita sampai di jalan Flamboyan," ucapku.


"Ibu sih, ngajak saya ngobrol terus. Jadi kelewatan."


Sesampainya di toko pelanggan.


"Maaf, Bu, sedikit terlambat. Tadi kami kelewatan."


"Kenapa bisa kelewatan? Ibu sering ke sini 'kan?"


"Anu Bu … saya kurang fokus." Pak Amin menimpali.


"Tidak masalah, Bu. Produk-produk konveksi Ibu sangat disukai pelanggan. Selain bahannya bagus, jahitannya rapi, harganya pun bersaing. Walaupun terlambat mereka akan setia menunggu. Saya Jamin pelanggan konveksi Bu Zura yang pada kabur ke konveksi baru itu pasti akan menyesal dan kembali lagi ke konveksi Ibu," papar pelangganku.


"Rezeki sudah diatur kok Bu. Mereka berhak memilih ke mana mereka akan berlangganan," ujarku.


"Barang pesanan Ibu semuanya sudah saya masukkan ke dalam toko," ucap pak Amin.


"Terima kasih. Sisa pembayarannya akan saya transfer hari ini ya, Bu," ucapnya.


Aku mengangguk paham.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."


Aku dan pak Amin pun lantas meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumahku.


Aku baru saja duduk di bangku depan mobilku ketika tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya pak Willy yang menelponku.


[Halo, Assalamu'alaikum, Pak]

__ADS_1


[Wa'alaikumsalam. Ada apa, Pak."


[Ehm … sebelumnya saya minta maaf karena dulu pernah berhenti menjadi pelanggan di konveksi Ibu dan memilih berpindah ke konveksi lain. Mulai hari ini saya akan kembali menjadi pelanggan di konveksi Ibu]


[Alhamdulillah]


[Apa hari ini Ibu bisa mengirim 100 pcs pakaian ke toko saya?]


[Insyaallah bisa. Tapi sekarang saya sedang di luar. Mungkin pengirimannya nanti setelah makan siang. Bagaimana, Pak?]


[Tidak masalah, Bu. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih]


[Baik, insya allah pesanan Bapak akan saya kirim paling lambat sore ini]


[Baik, Bu. Terima kasih. Assalamu'alaikum]


-Panggilan terputus-


"Siapa yang menelpon, Bu?" tanya pak Amin.


"Pak Willy."


"Dia kan sudah lama tidak mengambil pakaian dari konveksi milik Ibu."


"Justru itu, Pak. Tadi beliau menelpon karena ingin kembali berlangganan di konveksi milik saya."


"Oh, bagus kalau begitu."


"Iya, Pak. Alhamdulillah. Pak Willy minta dikirim 100 potong pakaian hari ini.


"Ya sudah, kita pulang sekarang dan langsung kita kirim," ucap pak Amin penuh semangat.


"Tidak usah buru-buru, Pak. Kita akan mengirim barangnya setelah makan siang,' ucapku. Pak Amin mengangguk paham.


Kami tiba di rumah saat adzan Dzuhur berkumandang. Aku heran mendapati mobil berwarna putih terparkir di halaman rumah. Sepertinya bukan mobil kak Darren. Mobil siapa ini?


"Saya ke belakang dulu ya, Bu," ucap pak Amin sesaat setelah turun dari mobilku.


"Ya, Pak. Nanti setelah shalat Dzuhur dan makan siang Bapak ke bagian produksi."


"Baik, Bu."


Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Tentu saja aku penasaran siapa yang bertamu ke rumahku siang-siang begini.


"Assalamu'alaikum," sapaku saat memasak ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam," sahut beberapa orang dari ruangan itu serempak.


"Ramai sekali rumahku siang ini," gumamku.


Di sana kulihat Lyra, ibu, bi Ami. Tunggu, siapa yang tiga orang itu?"


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2