
Aku tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang menarik lenganku dan sedikit mencengkramnya. Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Pria itu benar-benar turun dari mobilnya dan mengejarku.
"Demi Allah! Jangan sentuh saya!" pekikku.
"Kamu yang memaksaku untuk berbuat kasar. Ayolah, masuk ke dalam mobilku."
"Tidak!" tegasku.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan tanganku dari cengkeraman pria itu namun dia justru menarik bagian belakang hijabku hingga kepalaku mendongak ke atas.
"Tolong! Tolong!" teriakku.
"Kamu teriak sampai suaramu habis pun tidak akan ada yang mendengar apalagi datang ke sini."
Aku mengedarkan pandanganku di sekitar tempat itu . Aku baru sadar jika kini aku berada di depan tempat pemakaman umum. Meskipun letaknya di pinggir jalan, namun tempat itu cukup jauh dari pemukiman warga.
Beberapa pengguna jalan yang melintas pun seolah tak peduli dengan apa yang kualami. Selain dikarenakan hujan yang cukup deras, mungkin mereka tidak mau terkena masalah.
"Ayo cepat naik!" serunya sembari menarik paksa lenganku.
Entah dari mana kekuatan itu datang. Kaki yang sedari tadi gemetar karena ketakutan, tiba-tiba saja melayang dan mengenai tepat di bagian ************ pria itu hingga membuatnya menyeringai kesakitan.
"Breng*ek!" serunya.
Rupanya cara ini berhasil membuat tanganku terlepas dari cengkeramannya. Aku lantas berlari sekencang mungkin dari tempat itu.
Aku sedikit bernafas lega saat kulihat papan besar bertuliskan nama klinik itu sudah tampak di depan mata. Namun, sendi-sendiku bertambah lemas saat kudapati pengumuman yang tertera di depan pintu masuk klinik tersebut.
"MAAF, KLINIK LIBUR SAMPAI DENGAN TANGGAL 25 OKTOBER."
Aku terduduk lesu di depan klinik itu. Detik kemudian pandanganku mulai kabur.
"La Ilaha illallah. Muhammadarrosululloh." Kudekap tubuh Lyra sebelum akhirnya semuanya benar-benar terlihat gelap.
******
"Lyra!" Nama itulah yang langsung kuingat saat aku tersadar dan membuka mataku.
Ya Rabb. Di mana ini? Apa yang terjadi padaku? Dan di mana putriku?
Meski masih lemas aku memaksakan diri beranjak dari tempat tidur berukuran besar itu dan melangkah keluar dari dalam ruangan itu.
"Alhamdulillah, Mbak Azzura sudah bangun."
Siapa perempuan ini? Bagaimana dia bisa tahu namaku?
"Maaf, Ibu siapa, dan saya berada di mana?" tanyaku.
__ADS_1
"Mbak Zura minum susu hangat ini dulu." Perempuan paruh baya itu meletakkan nampan berisi segelas susu lalu menggandeng tanganku agar aku duduk kembali di ranjang.
Aku yang sedari tadi memang dilanda haus pun meraih gelas tersebut dan meneguk susu hangat itu hingga tersisa setengahnya.
"Terima kasih, Bu."
"Panggil saja mbok Marni. Saya bukan pemilik rumah ini, Bu."
"Kenapa saya bisa berada di sini?" tanyaku.
Mbok Marni tersenyum.
"Sebentar ya, Mbak."
Bukannya menjawab pertanyaanku, mbok Marni justru meninggalkanku sendirian di kamar asing ini.
"Lyra!" teriakku saat melihat mbok Marni masuk kembali ke dalam kamar ini bersama putri kecilku, Lyra.
"I-bu," celoteh nya riang.
"Ya Allah, Sayang. Syukurlah kamu baik-baik saja." Aku mendekap tubuh mungil itu dan memberinya kecupan bertubi-tubi.
Tunggu! Kenapa badan Lyra tidak panas lagi? Seingatku tadi aku baru tiba di klinik itu namun klinik itu tutup. Hingga tiba-tiba aku merasa benar-benar kehabisan tenaga dan tidak ingat apapun setelahnya.
"Tadi mas Keenan sudah memanggil dokter keluarga. Putri Mbak Zura sudah diperiksa dan saya sendiri yang memberikan sirup penurun demam untuknya," ungkap mbok Marni.
"Ya. Tadi aku menemukanmu pingsan di depan klinik. Jadi aku membawamu dan Lyra ke rumah ini. Badan Lyra juga tadi sangat panas. Itulah sebabnya aku memanggil dokter keluarga untuk memeriksanya. Mbok Marni yang memberikan obat penurun panas untuknya."
Ah! Ternyata Keenan yang dimaksud benar Keenan yang kukenal.
"Terima kasih, Mas … ehm, Keenan," ucapku.
"Kenapa kamu bisa pingsan di depan klinik itu?" tanyanya.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Tadi badan Lyra tiba-tiba panas. Aku bermaksud membawanya ke klinik. Karena tak ada taksi ataupun angkutan umum lagi, aku pun menempuhnya dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan ada pria yang bermaksud tidak baik padaku. Dia memaksaku agar naik ke dalam mobilnya. Aku melakukan perlawanan hingga akhirnya aku bisa lolos darinya. Sepertinya aku kehabisan tenaga hingga akhirnya pingsan saat tiba di klinik itu," ungkapku. Keenan mengangguk paham.
"Mbak Zura istirahat dulu saja. Baru jam setengah empat pagi," ucap mbok Mirna.
"Kami pulang saja, Mbok. Tidak enak enak merepotkan terus." Aku beranjak dari tempat dudukku, namun semua benda yang berada di hadapanku terasa berputar. Aku pun terpaksa duduk kembali di atas ranjang.
"Mbak Zura pasti masih pusing. Lagipula jam segini taksi dan angkutan umum belum beroperasi."
"Mbok! Mbok!" panggil seseorang dari lantai dua.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Sepertinya mas Gibran memanggil saya. Sejak kecil dia manja kalau lagi sakit."
__ADS_1
"Bukankah Gibran tadi dirawat di rumah sakit? Tapi kok, …"
"Tadi aku memang membawa Gibran ke rumah sakit. Tapi hanya selang beberapa menit setelah tiba di sana, dia sadar dan ketakutan setengah mati saat melihat botol infus. Sepertinya dia memiliki trauma tersendiri dengan benda itu. Dia pun memaksa pulang meskipun kondisinya belum benar-benar pulih," ungkap Keenan.
Dalam hati aku tertawa, bagaimana mungkin pria bertubuh kekar sepertinya bisa takut dengan benda mati itu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
tanyaku.
"Dokter mengatakan luka di bagian wajahnya tidak begitu parah karena hanya terkena serpihan kaca mobil bagian depan."
"Syukurlah, tadi kami sempat khawatir jika dia terjadi sesuatu padanya. Oh ya apa aku boleh menemuinya?"
"Ya. Kamarnya ada di lantai dua."
Keenan beranjak dari kamar itu lalu mengajakku menuju kamar Gibran.
"Alhamdulillah jika Mas Gibran baik-baik saja," ucapku.
Pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi ucapanku.
"Kenapa Mas Gibran bisa menabrak pagar besi tempat kost ku?" tanyaku.
"Namanya saja kecelakaan. Pasti tidak terduga dan datangnya tiba-tiba."
Seperti biasanya, Gibran selalu bersikap ketus saat berhadapan denganku. Apakah memang begitu wataknya, entahlah.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada mbak Zura. Dia yang pertama kali melihatmu. Dia juga yang memanggil warga untuk mengeluarkanmu dari mobilmu. Tanpa pertolongannya mungkin kamu bisa hangus terbakar bersama mobilmu."
"Mobilku? Astaga! Ja-ja-di si merah terbakar?"
"Ya. Mobilmu mengalami korsleting karena kamu mengendarainya dengan kecepatan tinggi," jelas Keenan.
"Harta bisa dicari lagi, Mas. Mas Gibran harus bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup," ujarku.
Tanpa sengaja kedua pasang netra kami bertemu. Dia menatapku beberapa saat hingga untuk pertama kalinya kulihat senyum di wajahnya.
Begitu manis.
Bersambung ..
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏