
"Saddam?"
Ya, bocah laki-laki itu rupanya Saddam, anak kandung kak Maureen dan Fabian yang diasuh bu Mala.
"Ibu siapa?"
Aku mengulas senyum.
"Kamu pasti lupa ya, sama ibu? Ibu ini ibunya Lyra, teman sekolahmu di TK ceria dulu."
"Oh, Ibunya Lyra."
Beberapa saat kemudian seorang pria menghampiri kami.
"Ayah," panggil Saddam.
Pria itu pasti suami bu Mala.
"Maaf, Pak, apa kita bisa bicara sebentar?" ucapku.
Pria bertubuh tinggi itu pun lalu mengajakku duduk di bangku.
"Ibu ini siapa? Apa Ibu mengenal anak saya?"
"Nama saya Azzura. Saya adalah ibu dari salah satu kawan sekolah Saddam di TK ceria dulu."
"Oh, begitu."
"Maaf, saya dengar dari Saddam tadi, apa benar bu Mala sudah meninggal dunia?" tanyaku.
"Benar, Bu. Dia meninggal dunia karena sakit sekitar 2 bulan yang lalu."
Ini rupanya penyebab bu Mala tidak pernah lagi mencariku atau mendesakku lagi untuk mencari kak Maureen.
"Ayah, Saddam main di sana dulu, ya," ucap bocah laki-laki itu seraya mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah arena bermain yang berbeda di halaman toko.
"Iya Sayang, hati-hati."
__ADS_1
Setelah meletakkan kue donatnya di atas meja, Saddam pun berlalu berhadapan kami.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berbicara pada suaminya bu Mala," gumamku.
"Ehm … maaf, dengan Pak …"
"Nama saya Aris."
"Begini pak Aris. Ada hal penting yang harus saya bicarakan."
"Hal penting apa ya, Bu?"
"Ini tentang identitas Saddam."
"Memangnya kenapa dengan anak saya?"
"Apa bu Mala tidak pernah bercerita pada Bapak jika Saddam bukan anak kandung kalian?"
"Apa maksud Ibu?"
"Saddam ini sebenarnya anak kandung kakak perempuan saya."
"Tunggu. Saya benar-benar bingung dengan arah pembicaraan Ibu."
"Oh, jadi bu Mala tidak pernah sedikitpun bercerita tentang identitas Saddam?" tanyaku. Pria bernama Aris itu menggelengkan kepalanya.
"Jadi begini, Pak. Kakak perempuan saya tidak terima karena telah melahirkan bayi cacat. Jadi, dia membayar seorang perawat untuk menukar bayinya dengan bayi bu Mala yang dilahirkan pada jam yang sama."
"Kalau begitu, di mana anak kandung saya sekarang?"
"Karena keadaan, suami kakak perempuan saya terpaksa menitipkan bayi yang diberi nama Rayyan itu pada seorang pengemudi taksi. Tapi, …"
"Tapi kenapa, Bu?"
"Rayyan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan bus TK ceria mengadakan rekreasi beberapa bulan yang lalu."
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Kenapa kamu menyembunyikan rahasia besar ini dariku, Mala," lirih pak Aris.
__ADS_1
"Saya tahu, bu Mala sangat menyayangi Saddam. Mungkin dia tidak ingin melepaskannya dan mengembalikannya pada ibu kandungnya," ujarku.
"Apa ibu kandung Saddam tidak pernah mencari keberadaannya?"
Aku tersenyum getir.
"Entahlah, Pak. Saya tidak paham dengan cara berpikir kakak saya dan suaminya. Sepertinya mereka malu juga harus memiliki anak yang memiliki kekurangan fisik."
"Meskipun Saddam memiliki kekurangan fisik, dia anak yang pintar dan cerdas. Itulah sebabnya saya sangat menyayanginya. Saya takut jika sewaktu-waktu orang tua kandungnya merebut Saddam."
"Insya allah hal itu tidak akan terjadi, Pak. Saya rasa Bapak orang yang tepat untuk merawat dan mengasuh Saddam. Lagi pula kakak perempuan saya dan suaminya sepertinya tidak peduli lagi padanya. Tapi, bagaimanapun Saddam tetap keponakan saya. Jadi jika ada hal apapun yang menyangkut Saddam, saya harap bapak tidak sungkan-sungkan untuk memberitahukannya pada saya."
"Ibu begitu baik, sangat berbeda dengan sifat kakak perempuan Ibu itu."
"Baik, ini kartu nama saya. Jika ada apa-apa tentang Sadam, Bapak bisa menghubungi saya." Aku mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompetku lalu menyodorkannya pada pak Aris.
"Baik, Bu. Ibu jangan khawatir, saya pasti merawat dan mengasuh Saddam dengan baik."
"Saya percaya pada Bapak."
"Sepertinya kami harus pergi sekarang," ucap pak Aris.
Setelah membayar kue donatnya, pak Aris dan Saddam pun lantas meninggalkan toko kue tersebut.
"Sepertinya memang lebih baik Sadam dirawat oleh Pak Aris daripada dirawat oleh kakakmu itu. Bukan masalah juga jika anak itu tidak pernah tahu orang tua kandungnya," ucap ibu sesaat setelah mereka berlalu.
"Mungkin tidak sekarang, akan tetapi ada saatnya Saddam harus tahu siapa orangtua kandungnya," ujarku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1