Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sisi lain Fina


__ADS_3

Kupercepat langkahku menuju pintu gerbang tempat kostku tempat mobil berwarna hitam itu diparkir.


"Mas Keenan! Mbak Asha!" teriakku lagi.


Keenan yang baru saja memegang handle pintu mobil itu pun sontak menoleh ke arahku.


"Ada apa, Mbak?" tanyanya.


Aku mengatur sejenak nafasku yang sempat memburu.


"Maaf, sepertinya Mas Keenan salah memberikan amplop pada saya," ucapku.


Laki-laki bermata sayu itu mengerutkan keningnya.


"Maksud Mbak Zura bagaimana?"


"Uang di dalam amplop ini sangat banyak. Mungkin ini amplop yang akan Mas Keenan pakai untuk keperluan pernikahan nanti," jelasku.


Keenan tersenyum.


"Tidak salah kok Mbak. Uang itu memang sudah saya siapkan khusus untuk baju pengantin kami. Coba Mbak lihat tulisan di belakang amplop itu."


Aku pun membalik amplop berwarna cokelat itu. Benar saja, aku mendapati tulisan "Baju pengantin" tertera di sana.


"Saya tidak mungkin salah memberikan amplop, sebab saya sendiri yang mencatat setiap pengeluaran untuk persiapan pernikahan saya nanti," ungkap Keenan.


"Tapi, Mas. Uang ini terlalu banyak. Saya sudah berkali-kali menjahit baju pengantin, tapi ongkos menjahitnya tidak sebesar ini."


Sekali lagi Keenan tersenyum.


"Tidak apa, Mbak. Saya percaya Mbak Zura bisa membuat baju pengantin yang berkesan bagi kami dan bagi siapapun yang melihatnya. Itulah mengapa saya berani membayar mahal untuk itu."


"Benar, Mbak. Kalaupun Mbak Zura menganggap uang itu berlebih, anggap saja sebagai rezeki keluarga." Asha menimpali.


"Masyaallah. Kalian benar-benar pasangan yang cocok. Semoga setelah menikah nanti kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah."


"Kita hanya bisa berencana saja, Mbak. Selebihnya adalah mutlak milik Allah sang maha penentu," ujar Asha.


Jujur, kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Asha membuatku sedikit heran. Pun aku menanggapinya dengan senyum tipis di bibir.


"Astaghfirullah!" seruku.

__ADS_1


"Kenapa, Mbak?" tanya Asha.


"Daritadi kita terlalu asyik mengobrol, saya sampai lupa tidak mencatat ukuran baju pengantin kalian."


"Ya Allah. Kenapa saya juga tidak kepikiran?" Asha terkekeh.


"Mari, Mas … Mbak. Ikut saya kembali ke dalam. Biar saya catat ukuran baju kalian," ucapku. Kedua calon pengantin itu mengangguk setuju. Mereka pun lantas mengikutiku masuk kembali ke dalam kamar kost ku.


"Mbak tinggal di sini bertiga saja?" tanya Asha sesaat setelah aku mencatat ukuran badannya.


"Iya, Mbak."


Tiba-tiba pandangan Asha beralih pada Fina yang tengah menggendong Lyra.


"Enak ya, punya anak perempuan. Bisa bantu momong adiknya," ucapnya.


"Saya bukan anaknya bu Zura, Mbak. Anaknya bu Zura ini yang saya gendong," protes Fina.


"Oh, maaf, Dik. Saya pikir kamu anak sulungnya mbak Zura."


"Tidak apa, Mbak. Bu Zura ini begitu baik pada saya. Beliau tidak hanya mengajari saya menjahit, tapi juga berhijab. Saya merasa beruntung sekali seandainya memiliki ibu sebaik beliau," ungkap Fina.


"Sudah, jangan memuji terus, nanti baju saya tiba-tiba sempit," ungkapku yang sontak membuat tawa sepasang calon pengantin itu meledak.


"Maaf, memangnya ayahnya Lyra kemana? Apa dia sedang bekerja di luar kota?" tanya Asha.


"Bu Zura sudah berpisah dengan ayahnya Lyra," jawab Fina.


"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud, …"


"Tidak apa kok Mbak. Oh ya. Ukuran baju kalian sudah saya catat. Saya akan membuat desain baju pengantin terbaik untuk kalian. Insyaallah bajunya selesai sebelum tanggal 20."


"Jika bajunya sudah siap Mbak Zura hubungi nomor telepon saya saja di kartu nama tadi. Saya akan menyuruh orang untuk mengambilnya," ucap Keenan. Aku pun mengangguk paham.


"Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Kedua calon pengantin itu pun lantas meninggalkan tempat kost ku.


"Jadi, bagaimana dengan uang yang tadi, Bu?" tanya Fina sesaat setelah mereka berlalu.

__ADS_1


"Mereka tidak salah memberikan amplop. Uang itu memang sudah disiapkan untuk membuat baju pengantin," jelasku.


"Simpan uang ini," ucapku sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribu pada Fina.


"Tidak usah, Bu. Dibolehkan tinggal di sini saja saya sudah bersyukur banget."


"Tidak apa. Alhamdulillah ada rezeki lebih. Kamu bisa menabungnya untuk membeli barang yang kamu butuhkan," ujarku.


Meski awalnya sempat menolak, Fina akhirnya menerima uang tersebut.


***


Keesokan paginya.


Aku baru berkutat dengan mesin jahitku ketika terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Menggedor lebih tepatnya. Lekas kutinggalkan meja jahitku lalu kubuka pintu. Tampak seorang perempuan paruh baya berdiri di hadapanku dengan berkacak pinggang.


"Maaf, Ibu siapa, dan ada perlu apa? Kenapa menggedor pintu rumah saya?" tanyaku.


"Mana Fina?!"


"Fina ada di dalam. Kenapa Ibu mencarinya?"


"Mana Fina?! Cepat panggil dia keluar!"


Aku pun lantas beranjak dari ruang tamu dan menghampiri Fina yang tengah membereskan dapur.


"Ada yang mencarimu di luar."


"Siapa, Bu?


"Entahlah. Aku tidak mengenalnya."


Fina meninggalkan pekerjaannya lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Maaf, ada perlu apa mencari saya?" tanyanya.


Perempuan itu pun sontak menoleh ke arahnya. Alangkah terkejutnya Fina saat melihat siapa tamu itu.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2