
Sesampainya di rumah.
Ibu kaget sekaligus heran saat mendapati ku pulang dalam keadaan tangan berbalut kain perban. Lyra bahkan menangis saking takutnya.
"Tangan Ibu kenapa?" tanyanya.
"Oh, tidak apa kok, Sayang. Hanya kecelakaan kecil," ujarku.
"Kalau memang kecelakaan kecil, tidak mungkin tanganmu diperban begitu."
"Ehm … Nak Keenan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Zura? Tadi kamu bertemu dengannya 'bukan?" tanya ibu ada Keenan yang saat itu juga berada di ruang tamu.
"Ehm … tangan Zura melepuh karena tidak sengaja tersiram kuah makanan panas di cafe."
"Astaghfirullahaldzim! Lantas, bagaimana dengan tangannya? Apa lukanya serius?"
"Ini tidak perlu khawatir, Zura sudah mendapatkan pertolongan pertama di klinik. Insyaallah tidak lama lagi lukanya akan sembuh. Tapi dokter menyarankan agar lukanya jangan sampai terkena air. Untuk bersuci sementara bisa dengan cara bertayamum," jelas Keenan.
"Syukurlah kalau begitu," ujar ibu.
"Tangan ibu tidak apa-apa 'kan, Paman?" Lyra menimpali."
"Tidak apa, Sayang. Tidak lama lagi ibumu akan sembuh."
"Terima kasih, Paman. Sudah mengantar ibu pulang."
"Ya, Sayang. Ya sudah, paman pulang dulu."
"Hati-hati, Paman."
"Assalamualaikum."
"Wa'aalaikumsalam."
"Bagaimana kamu bisa terkena kuah makanan itu?" tanya ibu sesaat setelah Keenan berlalu.
"Aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pelayan cafe saat dia hendak menyajikan makanan berkuah bagi salah satu pengunjung."
"Kalau kamu sampai terluka parah, kamu harus menuntut cafe itu," ucap ibu.
"Insyaallah aku baik-baik saja, Bu. Lagipula aku sudah mendapatkan penanganan dari dokter," ujarku.
"Oh ya, di mana Fina?" tanyaku.
__ADS_1
"Fina belum pulang."
"Biasanya jam segini dia sudah pulang. Dia juga tidak mengatakan akan pulang terlambat."
"Ya sudah, coba kamu telepon dia. Mungkin saja dia ada jam kuliah tambahan."
"Sayang, tolong ambilkan handphone ibu di dalam tas," titahku. Keadaan tangan kananku yang tengah terluka membuatku sedikit kesulitan untuk membuka resleting tasku.
Lyra menurut. Ia pun lantas mengambil ponselku dari dalam tasku. Aku bergegas menghubungi nomor putri angkatku itu.
Nada sambung memang terdengar, namun Fina tidak menjawab panggilanku.
"Assalamualaikum," ucap Fina yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Wa'aalaikumsalam. Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Nak," ucapku.
"Tangan Ibu kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa, Nak. Hanya kecelakaan kecil saja."
"Ya sudah, aku ke kamar dulu."
Entah mengapa aku merasa raut wajah Fina begitu murung. Aku pun memutuskan untuk mendatangi kamarnya.
"Masuk saja, Bu. Pintunya tidak dikunci," sahut Fina.
"Apa yang membuatmu murung, Nak?" tanyaku.
"Tidak apa, Bu. Aku hanya sedang lelah karena tugas kuliah yang menumpuk."
Aku mengulas senyum tipis.
"Kamu mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan ibu," ucapku.
"Aku baik-baik saja, Bu."
"Ibu tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
"Rizal … Bu. Rizal, …"
"Sudah ibu duga, pasti ada sesuatu yang membuatmu murung. Apa yang dilakukan Rizal hingga membuatmu begini?"
"Aku sudah tahu kenapa akhir-akhir ini
__ADS_1
dia jarang masuk kuliah."
"Memangnya kenapa Rizal jarang masuk kuliah? Apa dia sedang sibuk?" tanyaku penasaran.
"Ya, sibuk berduaan dengan pacarnya."
"Pacar?"
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia sedang berduaan dengan seorang gadis di taman."
"Belum tentu gadis itu pacarnya. Bisa saja 'kan dia hanya kawannya."
"Apa saling menyuapi es krim bisa dibilang hubungan mereka hanya kawan biasa? Aku bahkan melihat mereka saling berciuman."
"Astaghfirullahaldzim. Apa Rizal seberani itu bermesraan di tempat umum?"
"Nyatanya memang begitu, Bu."
"Apa kamu kenal dengan gadis yang bersama Rizal?"
"Tidak, Bu. Aku sama sekali belum pernah melihatnya. Tapi aku yakin gadis yang bersamanya pastilah gadis yang diceritakan bu Murni kemarin.
"Ibu paham betul perasaanmu. Kamu memang mengagumi Rizal, bahkan mungkin menyukainya. Tapi kamu tahu 'kan, apa hukum bermesraan dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah kita? Itu mendekati zinaa dan hal itu sudah tertulis jelas dalam Al-Qur'an yang artinya
"Dan janganlah kamu mendekati zinaa". Ibu percaya puteri ibu yang cantik ini tidak akan melanggar apa yang dilarang Rabb nya. Sampai di sini kamu paham 'kan," ucapku seraya mengusap lembut rambutnya. "Apa ibu boleh bertanya sesuatu?" tanyaku kemudian.
Fina menganggukkan kepalanya.
"Tentunya kamu ingin memiliki suami yang baik 'bukan?"
Sekali lagi puteri angkatku itu menganggukkan kepalanya.
"Apa menurutmu Rizal laki-laki yang pantas kamu jadikan imam dan ayah bagi anak-anakmu kelak?" tanyaku lagi.
"Bukan laki-laki sepertinya yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku," ujar Fina.
"Jadi, buat apa kamu sedih dan murung hanya karena Rizal? Gadis sepertimu terlalu berharga untuk laki-laki sepertinya."
"Terima kasih, Bu. Ibu sudah membuka pikiranku jika Rizal bukan laki-laki yang baik untukku. Mungkin mulai saat ini aku akan berusaha melupakannya."
"Syukurlah, kalau kamu memahami ucapan ibu."
"Ibu memang ibu terbaik di dunia," ujar Fina yang kutanggapi dengan senyum simpul di bibir.
__ADS_1
Bersambung …