Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Semakin membingungkan


__ADS_3

"Bu-bu-bukan begitu, Bu. Saya hanya ehm, …"


"Sudahlah, Bu. Tidak apa jika pak Willy mau pindah ke konveksi lain. Itu haknya 'bukan?"


"Memangnya apa yang membuat Pak Willy memilih berpindah konveksi? Apa di luar sana masih ada konveksi yang memberikan harga lebih murah dibandingkan konveksi milik Zura?" desak ibu.


"Kalaupun saya memang berpindah di konveksi lain, bukan hak kalian untuk mengetahui alasannya. Permisi, selamat siang." Pak Willy berlalu dari hadapan kami. Ia lantas masuk ke dalam mobilnya.


"Ibu jadi penasaran, apa sebenarnya alasan pak Willy tiba-tiba memutuskan kerjasama dengan konveksi ini."


"Tidak perlu risau, Bu. Jodoh, maut, dan rezeki sudah ditakar dan tidak mungkin tertukar. Pak Willy mungkin sudah memutuskan kerjasama dengan kita, tapi aku percaya pelanggan baru akan bermunculan."


"Semoga."


"Apa kamu tidak ingin memantau kegiatan produksi?" tanya ibu.


"Tidak, Bu. Hari ini Ibu saja yang mengawasi kegiatan produksi."


"Zura, katakan pada ibu. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ibu tidak suka kamu murung dan tidak bersemangat begini."


"Aku tidak apa, Bu. Aku hanya merasa sedikit letih hari ini."


"Kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain, tapi tidak dengan ibumu. Ibu tahu, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu," ujar ibu.


Aku membuang nafas


"Di sekolah tadi aku bertemu dengan d


Bu Mala.


"Siapa Bu Mala?"


"Bu Mala adalah ibu kandung dari anaknya Kak Maureen dan Fabian."


"Kalau Ibu boleh tahu apa yang dikatakan Bu Mala hingga membuatmu gelisah begini?"


"Beberapa waktu yang lalu aku sempat bertemu dengan Bu Mala di rumahnya. Dia menuntutku untuk mempertemukannya dengan anak kandungnya yang dulu ditukar Kak Maureen di rumah sakit."


"Lantas?"


"Anak kandung Bu Mala menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan kemarin di sekolah Lyra."


"Murid yang mana yang kamu maksud?"


"Namanya Alden."


"Alden?"


"Benar, Bu. Murid itu bernama Alden. Ibunya sendiri yang mengatakan padaku jika dia yang memberi nama Alden setelah suaminya menyelamatkan bayi itu dari rumah Pak Sumarno."


"Bagaimana reaksi Bu Mala setelah mengetahui jika anak kandungnya sudah meninggal dunia?"


"Ibu mana yang tidak sedih jika mengetahui putra kandungnya yang selama ini dicari sudah tiada. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya."

__ADS_1


"Lantas?"


"Bu Mala berniat menuntut Kak Maureen, tapi aku sendiri tidak tahu di mana keberadaannya kini. Dia hanya memberiku waktu satu kali 24 jam untuk menemukan Kak Maureen atau aku yang harus menggantikannya."


"Kenapa semuanya jadi rumit begini?"


"Itulah yang sedari tadi aku pikirkan. Aku bingung di mana mencari Kak Maureen sekaligus aku takut jika aku benar-benar harus menggantikan posisinya," ungkapku.


"Apa ada kemungkinan jika kakakmu itu kembali ke rumah Fabian?" tanya ibu.


"Rasanya tidak mungkin. Kak Maureen yang mengatakan sendiri jika bu Kinanti sudah mengusirnya."


"Bu Kinanti yang mengusirnya, bukan Fabian. Kita juga tidak pernah tahu apakah di antara Fabian dan kakakmu itu masih menyimpan perasaan."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Bu?"


"Sepertinya kita memang harus mulai mencari tahu di mana keberadaan kakakmu itu."


"Tapi, Bu. Bu Mala hanya memberiku waktu 24 jam saja. Apa dalam waktu sesingkat itu aku bisa menemukan Kak Maureen?"


"Insya Allah, Allah akan mempermudah urusan kita," ujar ibu seraya menyentuh puncak kepalaku.


"Semoga. Terima kasih, Bu. Perasaanku kini jauh lebih tenang."


Ibu mengulas senyum.


"Mari kita ke ruang produksi," ucapnya.


Aku mengedarkan pandanganku di ruangan itu. Aku heran saat mendapati beberapa mesin jahit yang tidak beroperasi.


"Seto," panggilku pada laki-laki berusia 25 tahun yang kutunjuk sebagai kepala produksi itu.


"Ya, Bu."


"Kenapa ada beberapa mesin yang tidak beroperasi? Memangnya di mana Bu Mira, Lina, dan Rani?" tanyaku.


"Hari ini mereka tidak masuk, Bu."


"Kenapa?"


"Maaf saya kurang tahu. Tidak ada satupun dari mereka yang memberi kabar pada saya."


"Baik, terima kasih." Silahkan kembali bekerja.


"Mungkin mereka sakit," ucap ibu.


"Kalaupun mereka memang sakit seharusnya mereka memberi kabar padaku. Setidaknya dengan mengirim pesan pada Seto."


"Ya sudah coba kamu hubungi salah satu dari mereka."


Aku mengambil ponselku kemudian menghubungi bu Mira.


Nada sambung terdengar namun ia mengabaikan panggilanku. Karyawan berikutnya yang ku hubungi adalah Rani.

__ADS_1


Namun sama saja, ia juga tak menjawab panggilanku."


"Apa di Antara kalian ada yang tahu di mana rumah Rani?" tanyaku.


"Rumahnya berada di belakang ruko, Bu. Kebetulan saya pernah berkunjung ke rumahnya," jelas Tanti yang mejanya berada persis di sebelah meja Rani.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya sekarang juga saya akan mendatangi rumahnya. Semoga dia baik-baik saja," ucapku.


Setelah berpamitan pada ibu, aku pun mendatangi rumah Rani. Rupanya tidak mudah menemukan rumah gadis itu lantaran di daerah tempat tinggal itu ada beberapa gadis yang memiliki nama Rani.


"Rani yang Ibu maksud itu Rani yang anak sekolah, anak kuliah ataukah Rani yang bekerja di konveksi?"


"Rani yang saya cari adalah Rani yang bekerja di konveksi milik saya. Hari ini dia tidak masuk tanpa keterangan. Itulah sebabnya saya mendatangi rumah ini untuk mencari tahu apa alasannya tidak masuk bekerja hari ini," jelasku.


"Oh, Rani yang rambutnya panjang itu?"


"Benar, Bu. Dia adalah salah satu karyawan saya."


"Oh, jadi ibu ini pemilik konveksi Lyra ya?"


Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.


Beberapa saat kemudian seorang perempuan paruh baya melintas di hadapan kami.


"Ibu ini mencari siapa? tanyanya.


"Ibu ini mencari Rani. Dia adalah pemilik konveksi LYRA. Dia mencari rumah Rani lantaran hari ini dia tidak masuk kerja tanpa keterangan."


"Oh, kalau Rani yang itu pagi tadi saya sempat melihatnya berpakaian rapi. Saya pikir dia mau berangkat bekerja seperti biasanya."


"Rani tidak masuk bekerja hari ini, Bu."


"Ibu salah lihat kali," ucap ibu yang lebih dulu kutemui di tempat itu.


"Mana mungkin saya salah lihat, dia bahkan sempat menyapa saya."


"Maaf Apa itu tahu ke mana arah Rani pergi?" tanyaku.


"Dia menaiki angkutan umum ke arah sana."


Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah yang berlawanan menuju tempat kerjaku.


Semakin membingungkan saja. Setelah Pak Willy tiba-tiba memutuskan kerjasama dengan konveksi milikku, kini giliran beberapa karyawanku yang tidak masuk tanpa keterangan. Ada apa sebenarnya?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🙏 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2