Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pesan terakhir


__ADS_3

Kabar pak Prayoga yang kini berada di rumah sakit karena tak sengaja ditikam Helena itu pun sampai juga di telinga putri semata wayangnya, Widya. Dia pun bergegas mendatangi rumah sakit.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ayah saya bisa masuk rumah sakit?" tanya Widya pada Sabrina yang sudah hampir satu jam menunggu di depan ruang ICU.


"Helena, …"


"Kenapa dengan tante Lena?"


"Perempuan itu yang mencelakai ayahmu."


"Saya mengenal betul tante Lena. Dia begitu baik pada kami. Mana mungkin dia melakukan perbuatan itu."


"Perempuan tidak jelas itu tiba-tiba datang ke rumahku dengan mengaku sebagai calon istri ayahmu. Tentu saja aku tidak percaya begitu saja dengan ucapannya. Akhirnya Zura menelpon ayahmu dan memintanya datang ke rumahku. Ternyata ucapan perempuan itu hanya omong kosong. Jangankan calon istri, Yoga bahkan tidak memiliki perasaan apapun padanya," ungkap Sabrina.


"Lantas, apa yang terjadi setelahnya? Bagaimana ayahku bisa celaka dan dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Widya.


"Sebenarnya … ehm, …"


"Apa yang terjadi?"


"Helena tidak terima dengan penyataan ayahmu jika dia hanya menganggapnya teman biasa dan memilih menikahiku."


"Jadi, tante Lena marah dan menikam perut ayahku, begitu?"


Sabrina menggelengkan kepalanya.


"Bukan ayahmu yang menjadi sasaran kemarahannya, tapi … aku. Saat Helena hendak menikam perutku, saat itulah ayahmu mendorongku hanya hingga ia tertusuk gunting itu."


"Ayah bodoh sekali mempertaruhkan nyawanya hanya demi perempuan sepertimu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada ayah, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Kamu sekarang tahu 'kan? Ayahmu benar-benar tulus mencintai saya. Kenapa matamu belum juga terbuka?"


"Daripada memiliki ibu tiri sepertimu, lebih baik tidak sama sekali."


"Kamu ini memang gadis yang tidak punya tata krama!"


"Apa bedanya denganmu? Aku tahu kamu mendekati ayahku hanya untuk menguasai hartanya."


"Kamu ini benar-benar menyebalkan. Untung saja ayahmu mau mengerti. Setelah menikah nanti, kita akan tinggal terpisah."

__ADS_1


"Siapa juga yang mau tinggal satu atap dengan gadis menjengkelkan sepertimu!"


"Maaf, Bu, Mbak. Kalau mau bertengkar jangan di sini. Ayah saya mau istirahat," ucap seorang yang baru saja keluar dari salah satu ruang perawatan.


"Kami yang mulai," ucap Widya.


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kalau kalian tidak bisa diam, aku akan memanggil security!" ancam gadis yang usianya baru belasan itu.


"Pulang saja sana! Aku yang akan menjaga ayahku."


"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum memastikan jika Yoga baik-baik saja."


"Dasar keras kepala! Aku heran, apa yang membuat ayahku begitu tergila-gila padamu. Jangan-jangan kamu memasang pemikat."


"Hati-hati dengan ucapanmu! Aku bisa menuntutmu dengan pasal fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan!"


 "Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter?" tanya Widya.


"Pasien begitu banyak kehilangan darah. Saat ini kondisinya kritis," jawab dokter.


"Astaga!" Widya membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Kamu lihat saja, kalau sampai sesuatu terjadi pada ayah, aku akan menuntutmu!" ancam Widya.


"Sudahlah, tidak ada gunanya saling menyalahkan. Alangkah baiknya jika kita berdo'a agar pasien bisa melewati masa kritis nya," ucap dokter yang sontak membuat keduanya diam.


Widya pun lantas duduk di bangku panjang yang berada di depan ruangan itu sementara Sabrina memilih duduk di atas lantai.


Menjelang petang.


"Maaf, saya harus menyampaikan kabar buruk. Kondisi pasien semakin memburuk. Siapa di antara kalian yang bernama Sabrina?" 


"Saya, Dokter," ucap Sabrina sembari beranjak dari lantai.

__ADS_1


"Mari ikut saya ke dalam." 


Dokter kembali memasuki ruangan itu diikuti Sabrina di belakangnya.


"Sab-Sab-Sabrina, …" lirih Prayoga.


"Ya, Mas. Aku di sini." Sabrina meraih tangan calon suaminya itu lalu menggenggamnya.


"Ma-ma-af, …"


"Kenapa Mas minta maaf? Mas tidak punya salah apapun. Aku justru yang harus meminta maaf, demi aku, Mas jadi begini."


"Aku min-ta-ma-af tidak bi-sa me-ne-pa-ti jan-jiku."


"Mas jangan bicara begitu. Mas pasti akan sembuh dan kita akan segera menikah."


"Aku-ti-dak ku-at la-gi," lirih Prayoga. Kali ini nafasnya mulai tersengal.


"Mas Yoga pasti kuat, Mas akan sembuh," ucap Sabrina. Dai tidak sanggup lagi menahan buliran bening yang sedari tadi merebak di bola matanya.


"Se-la-mat-ting-gal."


Perlahan jemari tangan Prayoga terlepas dari genggaman Sabrina.


"Mas Yoga! Bangun! Mas Yoga!" teriak Sabrina sembari mengguncang tubuh Prayoga namun laki-laki itu tak bergeming.


"Apa yang terjadi pada mas Yoga, Dokter?" tanya Sabrina.


"Biar saya periksa."


Dokter pun mulai memeriksa Prayoga dimulai dari detak jantung, denyut nadi, serta hembusan nafas dari lubang hidungnya.


"Bagaimana, Dokter? Mas Prayoga baik-baik saja 'bukan?"


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2