
Masih di sambungan telepon.
[Kenapa dengan ibu saya?]
[Saya harap Ibu bisa secepatnya datang ke rumah sakit]
[Ibu saya kenapa?]
[Maaf, saya tidak bisa menyampaikannya melalui telepon. Sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit]
Aku yang penasaran sekaligus panik pun bergegas menuju rumah sakit jiwa tempat ibuku menjalani perawatan dua bulan terakhir.
"Apa yang terjadi dengan ibu saya, Bu?" tanyaku pada petugas yang berjaga di depan kamar perawatan ibu.
"Beberapa saat yang lalu saya menemukan ibu Sabrina tak sadarkan diri di dalam kamar mandi dengan gunting berlumuran darah. Saya menduga ibu Sabrina mencoba melakukan percobaan bunuh diri dengan cara melukai diri di bagian perutnya," ungkap petugas.
"Astaghfirullahaldzim! Bagaimana keadaan ibu sekarang?"
"Ibu Sabrina kini berada di ruang perawatan. Mari ikut saya."
Aku pun mengikuti petugas itu menuju sebuah ruangan.
"Ibu, …" lirihku.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" tanyaku pada dokter sesaat setelah memeriksa beliau.
"Meskipun menderita luka yang cukup parah, pasien selamat. Tetapi tidak dengan janin yang berada di kandungan pasien.".
"Mak-mak-sud Dokter bagaimana?"
"Janin yang berada di dalam kandungan pasien sudah meninggal dunia."
__ADS_1
"Inna lillahi wa Inna ilaihi raji'un."
Aku tahu beban ibu begitu berat. Tapi kenapa ibu memilih jalan pintas ini sebagai solusi? Maafkan ibu hamba, ya Rabb.
Tidak berselang lama ibu pun tersadar. Ia ingin beranjak dari ranjang pasien namun terlihat kepayahan.
"Ibu jangan banyak bergerak dulu," ucapku.
"Di mana bayiku? Dia sudah mati 'kan? Ha ha ha." Ibu meraba perutnya yang kini terlihat rata itu.
"Kenapa Ibu membunuh janin tidak berdosa itu?" tanyaku.
"Aku sudah mengirim bayi itu menemui ayahnya ke surga. Ha ha ha."
Kutatap wajah ibu. Aku tak menemukan sedikit pun penyesalan di sorot matanya.
"Apa yang Ibu lakukan salah. Tidak seharusnya Ibu mengambil jalan pintas ini."
"Ini Zura, putri Ibu."
"Jangan bawa bayi ke sini! Aku benci bayi! Ibu menatap Lyra yang berada di gendonganku penuh dengan amarah.
"Astaghfirullah. Ini Lyra, cucu Ibu."
"Pergi dari hadapanku sekarang! Atau aku akan menyakitimu!" Ibu menarik lengan mungil itu. Sontak tangisnya pun pecah.
"Pergi! Aku benci bayi itu! Ha ha ha!"
"Maaf, Bu. Sebaiknya Ibu segera tinggalkan tempat ini. Emosi pasien belum stabil. Saya khawatir ia bertindak nekat pada bayi Ibu," ucap petugas.
Meski berat, aku tidak punya pilihan selain meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Setelah meninggalkan Rumah Sakit Jiwa, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah kakak laki-lakiku, Darren. Ia harus tahu apa yang terjadi pada ibu.
"Di mana kak Darren?" tanyaku pada Fatimah sesampainya di rumah mereka.
"Mas Darren berangkat pagi-pagi sekali. Kamu kenapa, Ra? Wajahmu kok sedih begitu."
"Aku baru pulang dari rumah sakit jiwa tempat ibu dirawat."
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Pagi tadi pihak RSJ menelponku dan memberi kabar buruk."
"Kabar buruk?" Fatimah mengerutkan keningnya.
"Ibu dirawat di rumah sakit karena mengalami luka parah di bagian perutnya lantaran berusaha melakukan bunuh diri," jelasku.
"Astaghfirullahaldzim! Bukankah ibu sedang hamil? Bagaimana keadaan ibu dan bayinya?"
"Ibu selamat meskipun mengalami luka parah. Namun bayinya tidak selamat."
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Kenapa ibu senekat itu?"
"Ujian ini cukup berat. Ibu pasti tertekan. Itulah alasan mengapa ibu melakukan tindakan berbahaya ini," ujarku.
"Apa ibu bisa sembuh, Ra?" tanya Fatimah.
"Semoga."
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…