
Keenan terperanjat saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tentu dia hafal betul suara itu.
"Ah! hampir saja aku melihat wajah perempuan itu," gerutunya kesal.
"Sarapan sudah siap, Nak. Ayah dan ibu tunggu di bawah," ucap sang ibu dari luar pintu kamar.
"Ya, Bu."
Keenan beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sungguh, mimpi semalam benar-benar mengganggu pikirannya. Siapa laki-laki itu, dan siapa perempuan itu? Lalu, apa maksud pesan pria itu?
Dia terus berpikir keras di bawah guyuran air shower dan baru mematikan kran shower ketika dia mulai menggigil. Dia baru sadar jika tadi dirinya mandi menggunakan air dingin.
"Bagaimana rencanamu membuka toko pakaian, Nak?" tanya sang ayah pada Gibran di sela sarapan pagi mereka.
"Aku sudah bertemu dengan pemilik konveksi yang nantinya akan menjadi partner usahaku."
"Apa boleh ayah tahu konveksi mana yang kamu ajak kerjasama?"
"Konveksi Lyra. Pak Willy yang merekomendasikannya untukku."
"Jika pak Willy yang merekomendasikannya, ayah yakin konveksi itu pasti bagus."
"Ya, dan Ayah pun mengenal siapa pemiliknya."
"Memangnya siapa pemiliknya?"
"Azzura."
"Tunggu. Sepertinya nama itu tidak asing. Apakah dia Azzura yang dulu pernah kalian berdua tolong itu?"
"Benar, Yah. Kami menemukannya tak sadarkan diri di depan klinik kemudian kami bawa ke rumah ini."
"Hebat juga ternyata perempuan itu."
"Dia memang perempuan tangguh dan pekerja keras. Itulah yang membuatku jatuh hati padanya."
Entah disadari atau tidak, kaloanat itu meluncur begitu saja dari mulut Gibran hingga membuat kedua orangtuanya keheranan.
"Oh, jadi kamu menjalin hubungan dengan Zura?" tanya sang ayah.
"Hah? Apa?"
"Kamu sendiri yang bilang jatuh hati pada perempuan itu. Masa kamu baru beberapa detik sudah lupa."
"Ehm … sebenarnya-sebenarnya … aku menyukai Azzura. Aku bahkan sudah mengutarakan niatanku untuk menikahinya. Ayah dan Ibu setuju 'kan jika aku menikahi Zura?"
"Kamu sudah dewasa. Ayah yakin kamu tahu pilihan yang terbaik."
"Sebenarnya Zura yang kalian bicarakan ini siapa?" tanya sang ibu.
__ADS_1
"Oh, maaf. Waktu Zura menginap di rumah ini Ibu masih berada di sel tahanan."
"Di mana rumah gadis itu?"
"Azzurra janda, Bu. Dia juga sudah memiliki seorang puteri."
"Uhuk! Uhuk!"
Rupanya jawaban yang baru saja terlontar dari mulut Gibran membuat sang ibu kaget hingga ia tersedak makanan yang baru saja melewati kerongkongannya.
"Tidak! Ibu tidak setuju kamu menikahi janda."
"Memangnya kenapa dengan status janda? Sudah begitu banyak gadis-gadis yang kudekati, tapi pada akhirnya aku sadar mereka tidak benar-benar tulus. Mereka hanya memanfaaatkanku saja. Bahkan Luna yang pernah begitu aku cintai itu pun ternyata gadis breng*ek. Dia menjalin hubungan dengan salah satu anggota grup band kami.
"Masih banyak gadis di luar sana. Kenapa harus janda yang kamu pilih?"
"Sudahlah, Bu. Tidak usah mempermasalahkan status. Gadis atau janda sama saja. Yang terpenting dia perempuan baik-baik, setia, dan bisa mengurus suami," tukas sang ayah.
"Benar, Bu. Aku juga sudah cukup lama mengenal Azzurra. Dia yang dulunya menjahit baju pengantinku dengan mendiang Asha." Keenan menimpali.
"Ibu jadi penasaran. Seperti apa wajah perempuan ini. Kenapa kalian bertiga kompak mengatakan jika dia perempuan hebat."
"Jika Ibu penasaran, aku tidak keberatan memperkenalkan Ibu pada Zura. Sekalian aku ajak Ibu melihat konveksi miliknya."
"Boleh, kamu atur saja waktunya."
"Kamu sendiri bagaimana, Ken?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Setelah kematian calon istrimu itu, sepertinya kamu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun."
"Keenan belum bisa move on dari Asha, Bu," ucap Gibran setengah meledek.
"Hidup harus terus berjalan, Nak. Jangan sampai kepergian Asha membuat pintu hatimu tertutup untuk perempuan lain," ujar sang ibu.
"Aku sudah berusaha melupakan Asha. Namun, ini tidak mudah," ucap Keenan.
"Kamu hanya butuh waktu saja. Suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan pengganti Asha," ucap sang ayah.
"Astaga!" seru Gibran yang sontak membuat tiga pasang mata yang berada di meja makan itu menoleh ke arahnya.
"Kenapa, Nak?"
"Aku lupa hari ini ada janji bertemu klien."
Gibran yang masih mengenakan setelan piyama itu lekas beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan.
"Dari dulu anak kamu itu tidak berubah. Dia masih saja pelupa," ucap sang ayah.
__ADS_1
"Meski sedikit ceroboh dan pelupa, ibu senang dengan perubahan Gibran sekarang."
"Ibu tahu, Azzura lah yang mampu membuatnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Keenan.
"Ternyata benar, cinta bisa mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik," ujar sang ayah.
"Mbok … Mbok," panggil Anita pada sang asisten rumah tangga.
Mbok Marni yang tengah membersihkan kamar itu pun bergegas meninggalkan pekerjaannya dan menuju ruang makan.
"Ya, Nyonya."
"Mbok hari ini ke pasar?"
"Ya, Nyonya. Nanti setelah membereskan dapur. Memangnya kenapa? Nyonya ingin menitip sesuatu?"
"Tidak. Kudengar ada toko bunga hias baru di dekat pasar. Aku ingin melihatnya."
"Baik, Nyonya. Nanti setelah pekerjaan saya selesai, saya temani Nyonya."
"Ibu bisa ke toko bunga itu sekalian aku berangkat ke kantor," ucap Keenan yang telah menyelesaikan sarapannya.
"Tidak apa, Nak. Sesekali ibu juga ingin tahu bagaimana rasanya naik angkutan umum."
"Kamu harus tahu. Angkutan umum jauh berbeda dengan taksi. Tidak ada AC. Terkadang penumpangnya pun penuh sesak. Dan satu lagi, jangan memakai perhiasan berlebihan karena karena bisa memancing tindak kejahatan," jelas Yudha.
"Iya, Sayang. Aku paham," ucap Anita.
"Ya sudah, aku berangkat dulu." Yudha beranjak dari tempat duduknya. Setelah mengecup kening Anita, ia pun meninggalkan ruangan tersebut.
Tidak berselang lama Gibran keluar dari kamarnya. Dia terlihat menenteng koper serta kunci mobilnya. Namun, ia keheranan lantaran ibu dan adik laki-lakinya tertawa cekikikan.
"Kalian ini kenapa?" tanyanya.
"Sepertinya kamu memang butuh istri untuk mengurusmu," sindir Keenan sambil menahan tawa.
"Astaga. Apa yang sebenarnya kalian tertawakan? Apa ada yang salah dengan penampilanku pagi ini?"
Gibran mengamati penampilannya sendiri dari bagian kemeja yang dikenakannya hingga sepatunya. Tunggu! Sepertinya ada yang kurang. Ia tak dapat menyembunyikan rasa malunya saat menyadari jika dia belum mengenakan celana panjangnya.
Bersambung ….
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1