
Masih di sambungan telepon.
[Fina kenapa, Bi?]
[Anu … ehm … barusan saya melihat Mbak Fina diajak seorang laki-laki masuk ke dalam tempat penginapan]
[Astaghfirullahaladzim! Tempat penginapan mana, Bi?]
[Tempat penginapan yang berada tidak jauh dari pasar]
Aku yang sudah begitu panik cepat-cepat menutup telepon.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu panik begitu? Apa yang terjadi pada Fina? tanya ibu.
"Fina Bu … Fina."
"Iya, kenapa dengan Fina?" desak ibu.
"Bi Ami baru saja memberitahu Jika dia melihat Fina diajak masuk seorang laki-laki ke dalam tempat penginapan."
"Hah?!"
"Ya Allah, Bu. Aku bingung sekali. Aku harus bagaimana?"
"Gibran. Cepat kamu hubungi Gibran biar dia mengantarmu ke sana."
"Rumahnya terlalu jauh, Bu. Aku takut Fina sudah diapa-apakan sama laki-laki itu."
"Tenanglah, Nak. Tenang. Kamu tidak akan bisa berpikir jika kamu panik begini."
Aku pun mengatur nafasku yang tadi sempat tak beraturan.
"Astaghfirullahaldzim … Astaghfirullahaldzim …"
"Ibu, kamu, dan Pak Amin. Kita ke tempat itu sekarang."
"Bagaimana dengan Lyra?"
"Kamu jangan khawatir, ibu akan menyuruh Seto untuk menjemputnya di sekolah nanti. Cepatlah, kita tidak punya waktu lagi."
"Pak Amin! Pak Amin!' teriakku pada pak Amin yang baru saja memarkir mobilku."
__ADS_1
"Masyaallah, ada apa, Bu? Kenapa Ibu sepanik ini?" tanyanya.
"Pak Amin, cepat antar kami ke pasar."
"Mau apa ke pasar, Bu? Bukankah Bi Ami sedang berbelanja?"
"Nanti saya ceritakan di mobil," ucap ibu seraya membuka pintu mobil. Kami pun lantas masuk ke dalam sana.
"Jalannya ngebut ya Pak!" seru ibu.
"Sebenarnya ada apa, Bu? Jangan membuat saya bingung," desak pak Amin.
"Tadi bi Ami menelpon Zura. Dia bilang melihat Fina diajak seorang laki-laki masuk ke dalam sebuah tempat penginapan."
"Innalillahi."
"Ayo, cepat, Pak! Jangan sampai kita terlambat." Aku yang sedari tadi dilanda panik memukul punggung pak Amin berulang.
"Sumpah demi apapun. Ini adalah kecepatan paling tinggi selama saya menjadi sopir."
"Kita tidak punya waktu lagi, Pak!" Aku terus memukul tubuh kurus itu.
"Di mana tempat penginapannya, Bi?" tanyaku pada bi Ami yang menunggu kedatangan kami di tepi jalan.
"Di sebelah sana, Bu." Bi Ami mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah tempat penginapan kelas melati.
"Permisi, kami ke sini untuk mencari keberadaan seorang gadis," ucapku pada seorang petugas yang berjaga di dekat pintu masuk.
"Maaf, Bu. Identitas pengunjung di tempat ini dijamin kerahasiaannya."
"Saya mohon, ini darurat. Puteri saya yang masih di bawah umur dibawa masuk ke dalam tempat penginapan ini," ucapku.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya hanya menjalankan tugas."
"Cepat beritahu! Atau saya laporkan kamu ke polisi!" ancam ibu seraya menarik salah satu telinga pemuda itu hingga dia menyeringai kesakitan.
"Ba-ba-baik. Bagaimana ciri-ciri gadis yang kalian cari?"
"Rambutnya pendek berwarna kemerahan, dia memakai kaus ketat berwarna kuning," jelas bi Ami.
Astaghfirullahaldzim. Seperti itukah cara berpakaian Fina saat di belakangku?
__ADS_1
"Dia … dia di sana."
"Di sana itu di mana? Yang jelas!" bentak ibu.
"Di kamar nomor 7."
"Tanpa membuang waktu lagi, aku, ibu dan pak Amin bergegas mencari di mana kamar itu.
"Hati-hati, Bu. Jangan langsung digedor," ucap pak Amin.
Aku menghela nafas sebelum menyerukan kalimat itu. Benar kata pak Amin, sebaiknya jangan langsung menggedor pintunya. Bisa saja mereka justru kabur melalui jendela kamar.
"Permisi, room service," ucapku.
Hanya dalam waktu beberapa detik kemudian pintu kamar bernomor tujuh itu terbuka. Tampak seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan berdiri di hadapanku. Kedua lengannya penuh dengan tato, telinga dan dagunya pun ditindik. Dari penampilannya saja sudah bisa kutebak dia bukan laki-laki baik-baik.
"Mana Fina?!" sentakku.
"Fina siapa? Tidak ada yang namanya Fina di sini," jawab laki-laki itu seraya merentangkan salah satu tangannya di tengah pintu.
"Minggir!" seruku seraya mendorong tubuh kekar itu. Tanpa diduga, dia justru menarik gagang pintu dan berusaha menutupnya.
Tentu saja pak Amin tidak hanya tinggal diam. Dengan sekuat tenaga dia mendorong pintu itu, dan …
"Brakk!"Pintu berhasil terbuka lebar.
"Pak Amin! Tahan orang ini!" seru ibu.
Aku pun lantas menerobos masuk ke dalam kamar itu.
"Astaghfirullahaldzim, Fina!" pekikku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1