Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Titik terang


__ADS_3

"Kamu masih ingat 'kan, Sekitar tiga tahun yang lalu kamu memberi kabar padaku jika istri Fabian melahirkan bayi laki-laki?" tanyaku.


"Ya, aku masih ingat. Tadinya dokter memintaku untuk membantu kakak kandungmu itu untuk melahirkan. Namun, akhirnya digantikan suster Siska karena aku diminta mendampingi dokter lain di ruang operasi."


"Seandainya kamu yang membantu kak Maureen melahirkan, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi."


"Ayolah, Ra. Ceritakan padaku ada apa sebenarnya. Kenapa sedari tadi kamu membahas anak kak Maureen, dan apa hubungannya dengan suster Siska?" desak Mayra lagi.


"Kak Maureen membayar suster Siska untuk menukar bayinya dengan bayi lain yang lahir di hari yang sama."


"Astaga. Me-me-me-nukar bayi, Ra?"


"Ya. Aku mendengar sendiri pengakuan kak Maureen."


"Apa kakak perempuanmu itu sudah kehilangan akal? Setelah menghancurkan rumah tangga adik kandungnya sendiri, dia menukar bayinya dengan bayi lain."


"Bayi kak Maureen terlahir cacat. Itulah alasan mengapa dia menukar bayinya dengan bayi lain."


"Kalau memang kakakmu itu sudah sadar dan mengakui kesalahannya, kenapa tidak dia sendiri yang mencari keberadaan anak kandungnya?" tanya Mayra.


"Kak Maureen sekarang berada di dalam tahanan. Ia dihukum penjara selama empat tahun karena terlibat kasus perkelahian hingga menghilangkan nyawa orang lain."


"Ckckckck … hidup kakak kamu itu memang selalu dipenuhi masalah."


Suasana hening sejenak.


"Apa aku boleh tahu di mana alamat suster Siska?" tanyaku.


"Rumahnya tidak begitu jauh dari rumah sakit ini. Di seberang jalan, persis di belakang supermarket. Sekarang dia membuka toko di jalan Anggrek," jelas Mayra. Aku mengangguk paham.


"Terima kasih untuk informasinya. Seperti aku mau langsung ke sana mumpung hari ini jadwalku tidak begitu padat."


"Semoga urusanmu cepat selesai," ucap Mayra.


Setelah berpelukan sejenak, aku pun lantas meninggalkan rumah sakit.


"Kita langsung pulang, Bu?" tanya pak Amin.


"Kita menuju satu tempat lagi. Maaf ya, Pak, sudah membuat pak Amin capek."


"Ehm … tidak kok Bu. Saya anu-anu, …"


Tiba-tiba terdengar suara khas dari perut pak Amin yang menandakan jika dia tengah diserang rasa lapar.


"Astaghfirullahaldzim. Ini sudah lewat jam makan siang. Pak Amin makan dulu saja di warung makan itu. Biar saya yang gantian menunggu di dalam mobil." Aku menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu padanya.


"Baik, Bu. Saya permisi dulu."


Sekitar dua puluh menit kemudian pak Amin kembali memasuki mobilku.


"Kita ke mana, Bu?"

__ADS_1


"Ke jalan Anggrek, Pak."


"Memangnya siapa yang mau Ibu temui?"


"Seorang kawan."


Jarak dari rumah sakit menuju alamat yang ditunjukkan Mayra sekitar dua kilometer. Aku sempat bingung toko mana milik suster Siska lantaran di ruko itu cukup banyak toko. Namun, setelah kubaca papan nama toko "Siska" aku yakin jika pemilik toko itulah orang yang kucari.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Waalaikumsalam. Ibu mau beli apa?"


"Maaf sebelumnya. Maksud kedatangan saya ke sini bukan untuk membeli. Apa benar Mbak ini bernama Siska? Mantan perawat di rumah sakit MD?'


"Ya, Benar. Saya sudah cukup lama berhenti bekerja sebagai perawat."


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanyaku.


Gadis berambut sebahu itu pun lantas mengajakku masuk ke dalam toko yang menjual perlengkapan alat sekolah miliknya.


"Maaf, Ibu ini siapa? Dan siapa yang memberi tahu alamat ini?"


"Nama saya Azzura. Saya adalah adik kandung dari seorang pasien melahirkan tiga tahun lalu bernama Karmila. Mbak pasti masih ingat nama itu 'bukan?"


"Karmila?"


Siska tampak berpikir sejenak sebelum ia memberi jawaban.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa mengingat satu per satu nama pasien melahirkan di rumah sakit itu. Apalagi waktunya sudah begitu lama."


"A-a-pa?"


Kulihat mata Siska membulat. Raut wajahnya yang tadinya tenang pun kini terlihat kebingungan.


"Ibu ini bicara apa? Saya tidak paham," bantahnya.


"Kakak saya sendiri yang membuat pengakuan jika dia membayar perawat bernama Siska untuk menukar bayi laki-laki nya dengan bayi lain yang lahir di hari yang sama," ungkapku.


"Bisa saja itu nama Siska yang lain," bantahnya lagi.


"Kata sahabat saya, Mayra, di rumah sakit itu hanya ada satu orang bernama Siska. Apa perlu kamu saya pertemukan dengannya?"


"Ti-ti-tidak, Bu."


"Jadi, bagaimana dengan pertanyaan saya tadi? Apa kamu telah menukar bayi Karmila dengan bayi lain?"


"Ti-ti-tidak, Bu. Itu bukan saya."


"Baiklah, mari saya ajak kamu bertemu Karmila," ucapku bernada mengancam.


"Ehm … saya-saya minta maaf, Bu. Saya terpaksa melakukan perintah bu Karmila karena saat itu saya benar-benar sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang ayah saya. Jika tidak, kami akan diusir dari rumah," ungkapnya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu, apa yang kamu lakukan adalah perbuatan melanggar hukum? Kamu bisa dipenjara."


"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Saya melakukan itu untuk karena saya butuh uang."


"Masalah ini bisa diselesaikan baik-baik asalkan kamu beritahu di mana alamat pasien melahirkan yang kamu tukar bayinya itu."


"Saya sempat membaca alamat pasien itu di buku KIA miliknya. Namanya ibu Mala. Kalau saya tidak salah ingat, alamat ibu itu di jalan … ehm … Anggrek … Aster … An … Anyelir. Ya, di jalan Anyelir."


"Bukankah itu alamat rumah orangtua Saddam? Jangan-jangan anak kak Maureen memang Saddam," batinku.


"Sekarang juga ikut saya ke alamat pasien itu."


"T-t-tapi, Bu. Bagaimana dengan toko saya?"


"Kamu tinggal pilih. Masalah ini diselesaikan baik-baik atau melalui jalur hukum!" tegasku.


"Ba-ba-baik, Bu."


Dua puluh menit kemudian kami tiba di jalan Anyelir. Setelah bertanya di mana rumah bu Mala, kami pun bergegas mendatangi rumah tersebut.


Benar yang dikatakan ibu-ibu wali murid di sekolah Lyra. Rumah yang tiga tahun terakhir menjadi tempat tinggal Saddam itu cukup besar bahkan terbilang mewah.


Aku menekan tombol bertanda lonceng yang berada di dekat pintu masuk. Tidak berselang lama tampak seorang perempuan paruh baya keluar dan membuka pintu untuk kami.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Waalaikumsalam. Ibu ini yang waktu itu memberi balon untuk Saddam 'bukan?"


Benar dugaanku, Saddam memang anak kandung kak Maureen yang dibuang karena ia terlahir cacat.


"Iya, Bu."


"Ibu tahu alamat rumah saya dari mana? Dan ada keperluan apa Ibu datang ke sini?" tanya bu Mala.


"Suster Siska yang mengantar saya ke alamat ini."


Dari wajahku, pandangan bu Mala beralih pada Siska yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya.


"Ya. Saya masih ingat suster ini yang membantu saya melahirkan. Saat itu suami saya sedang dalam perjalanan dari luar kota. Jadi, saya melahirkan tanpa didampingi siapapun. Kata suster Siska juga saya sempat tak sadarkan diri sesaat setelah melahirkan bayi saya."


"Sebenarnya … Saddam bukan putra kandung Ibu," ucap Siska masih dengan wajah tertunduk.


"Apa maksud ucapan Suster?" tanya bu Mala.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


Happy reading…


__ADS_2