
Bencana gempa bumi yang terjadi di kota B rupanya menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan Anthony group yang sementara ini berada di bawah pimpinan Fabian. Akibat musibah itu gedung ataupun sarana perkantoran mengalami kerusakan parah hingga tuan Anthony memutuskan untuk memberhentikan sebagian karyawannya.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, Fabian akhirnya menerima tawaran Silvia memberikan jasa pengacara untuk istrinya, Karmila. Pengacara itu bernama Abiyasa. Salah satu pengacara handal yang dikenal nyaris tak pernah kalah dalam kasus yang ditanganinya. Namun, kasus kali ini di luar dugaannya. Abiyasa dibuat cukup kesulitan lantaran keluarga Freddy ternyata menyewa pengacara terkenal yang sedari dulu menjadi saingannya.
"Bagaimana, Pak? Istri saya bisa secepatnya bebas dari penjara 'bukan?"
tanya Fabian usai Abiyasa menemui Karmila di Lembaga pemasyarakatan siang itu.
"Begini, Pak. Kasus yang dialami istri Bapak cukup berat. Apalagi keluarga korban juga menggunakan jasa pengacara yang terbilang senior. Saya tidak bisa menjamin bisa memenangkan kasus kali ini," ungkap Abiyasa.
"Jam terbang Bapak 'kan sudah tinggi? Masa menangani kasus begini saja tidak bisa?" protes Fabian.
"Masalahnya, pernyataan kedua saksi yang berada di tempat kejadian saat peristiwa itu terjadi semuanya memberatkan. Mereka mengatakan Ibu Karmila memang mendorong Freddy dengan sengaja. Apalagi dari awal sudah terjadi kesalahpahaman di antara keduanya."
"Saya sudah membayar Bapak dengan jumlah besar. Saya tidak mau tahu, Bapak harus memenangkan kasus ini." Silvia menimpali.
"Baik, Bu, Pak. Akan saya usahakan. Saya permisi dulu. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan. Selamat siang."
Pria berusia empat puluh tahunan itu pun lantas meninggalkan rumah Silvia.
"Bagaimana jika pak Abiyasa gagal mengeluarkan istri saya dari penjara?" ucap Fabian sesaat setelah pengacara itu berlalu.
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi? Kalau memang pak Abiyasa gagal, mungkin kita harus menerima vonis dari pengadilan," ucap Silvia dengan entengnya.
"Apa tidak ada pengacara lain yang lebih handal dari pak Abiyasa?"
"Mudah saja kamu bicara begitu. Kamu juga tahu 'bukan? Bencana gempa bumi yang terjadi beberapa hari yang lalu sudah membuat perusahaanku sekarat dan nyaris bangkrut? Bagaimana mungkin kamu memintaku mengeluarkan uang dalam jumlah besar lagi?"
Suasana hening sejenak.
__ADS_1
"Sudahlah, urus saja urusanmu sendiri! Aku tidak mau ikut campur. Aku tidak peduli jika istrimu harus menghabiskan sisa umurnya di dalam jeruji besi," ucap Silvia.
"T-t-tapi, Bu, …"
"Aku harus keluar sekarang. Apa kamu masih ingin tetap di rumahku?"
Meski menelan kekecewaan, Fabian tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah Silvia.
*****
Sementara itu di sebuah sel tahanan.
"Lihat, istri direktur itu mengaduk-aduk lagi makanannya," ucap salah satu tahanan.
"Dia 'kan biasanya makan makanan mahal. Kalau makan makanan begini, dia bisa alergi. Ha ha ha." Tahanan lainnya menimpali.
"Bu sipir! Anak baru itu tidak mau makan!" teriak tahanan lainnya.
"Saya amati setiap saya memberi makanan, kamu sama sekali tidak menyentuh makanan itu," ucap sipir.
"Aku tidak berselera!"
"Kamu harus tetap makan. Jika kamu sakit, kamu bisa merepotkan kami."
"Mungkin dia sudah bosan hidup, Bu," celetuk salah satu penghuni sel tahanan itu.
"Cepat makan atau aku pindahkan kamu ke sel bawah tanah!" ancam sipir sebelum ia meninggalkan sel tersebut.
"Di sini bukan tempat untuk bermanja-manja. Suka atau tidak suka kamu harus tetap menelan makanan itu!"
__ADS_1
"Sudah kubilang, aku tidak berselera!" tegas Mila.
"Mana suamimu yang katanya direktur itu? Sampai hari ini dia belum mengirimkan pengacara untukmu 'bukan? Jangan-jangan dia sudah tak peduli lagi padamu."
"Bukan pengacara. Paling-paling sebentar lagi suaminya akan mengirimkan surat gugatan cerai dan menikahi atasannya," cibir salah satu tahanan yang sontak membuat tawa semua penghuni sel meledak.
"Kalian lihat saja nanti. Tidak lama lagi aku pasti bebas dari tempat menyedihkan ini!"
"Dasar pembual! Apa yang terucap dari mulutmu hanyalah omong kosong!"
"Sekali lagi kamu bicara, aku sumpal mulutmu!" ancam Mila.
"Kamu memang anak baru tidak tahu diri!"
"Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapi kalian. Tapi kali ini kesabaranku sudah habis!"
"Jadi, kamu mau apa 'hah?!"
"Plak!" Karmila yang kini tengah dikuasai amarah itu tiba-tiba melayangkan tamparan di salah satu wajah tahanan wanita.
"Breng*ek!"
Tahanan wanita itu menarik rambut Mila yang tergerai sementara dua orang tahanan lainnya memegangi kedua lengannya.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…