Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tak mau kalah


__ADS_3

"Tunggu! Aku hanya ingin tahu kamu siapa!" Teriakanku kali ini rupanya terdengar oleh seisi rumah. Ibu dan Fina pun bergegas keluar dari kamar mereka dan menghampiriku. Sementara laki-laki itu sudah berlari 


"Ada apa sih, Nak? Pagi-pagi sudah teriak-teriak?" tanya ibu.


"Aku hampir saja memergoki siapa pengirim buket bunga ini. Tapi dia sudah pergi," jawabku.


"Buket bunga apa, Bu?" Fina menimpali.


"Ini sudah yang ke tiga kalinya ibu mendapat kiriman buket bunga dari orang yang misterius."


Fina pun meraih buket berisi puluhan tangkai bunga mawar putih itu lalu membaca selembar kartu yang terselip di sana.


For Azzura.


Have a nice day.


Dari orang yang mengagumimu.


"Tadi kamu bilang hampir memergoki siapa pengirim buket bunga itu. Apa kamu mengenali ciri-cirinya?" tanya ibu.


"Oh ya, aku menemukan topi nya. Tadi terjatuh saat dia berlari. Tapi jika dilihat dari potongan rambutnya, sepertinya laki-laki itu tidak asing."


"Maksud Ibu, Ibu pernah melihat laki-laki itu?"


"Ya, begitu lah. Ibu merasa potongan rambutnya begitu mirip dengan … Rizal."


"Rizal? Mana mungkin? Fina terkekeh.


"Dia justru sedang PDKT sama aku. Kemarin saja dia ngajak aku makan bakso," imbuhnya.


"Mungkin kamu salah orang, Nak. Rizal itu masih begitu muda. Kalaupun di rumah ini ada yang dia suka, orang itu Fina," tukas ibu.


"Ya sudahlah, lupakan saja. Mungkin itu hanya kerjaan orang iseng. Buang saja bunga itu," ucapku.


"Jangan dibuang, Bu. Sayang. Bunganya bunga mawar asli, masih segar lagi. Biar aku yang simpan di kamarku," ucap Fina.


"Baiklah. Aku bangunin Lyra dulu. Sudah hampir jam enam. Kamu kuliah nggak hari ini?" 


"Hari ini aku libur. Kalau boleh aku mau ke toko kue Ibu. Sesekali aku ingin belajar membuat kue."


"Oh, boleh dong. Nanti kita kesana bareng."


****


"Ayahnya Haikal itu hebat ya, Bu. Dia membuat penculik itu pingsan dan satunya lagi lari ketakutan," ucap Lyra saat aku tengah merapikan rambut panjangnya.


"Ya," sahutku singkat.


"Kalau saja dia jadi ayah Lyra, Lyra pasti senang."


"Sudah siang, sarapan dulu ya." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kotak bekal nya ada dua, Bu?" tanya Lyra sesampainya kami di meja makan.


"Oh, kotak bekal yang satu nya lagi buat Haikal. Ibu sudah janji untuk membuatkannya bekal sama seperti isi kotak bekalmu," jelasku. Lyra mengangguk paham.


"Nona Lyra sudah siap?" tanya pak Amin yang tiba-tiba saja berdiri di tengah pintu.


"Sudah, Pak."

__ADS_1


 


Setelah memasukkan dua kotak bekal ke dalam tasnya dan berpamitan padaku, Lyra pun lantas meninggalkan ruang makan.


Setelah menyelesaikan sarapanku, aku menyempatkan waktu ke ruang produksi.


"Bagaimana dengan produksi, To? Apakah semua aman terkendali?" tanyaku pada Seto yang kutunjuk sebagai kepala produksi.


"Aman, Bu."


"Apa hari ini ada pengiriman?"


"Sepertinya tidak, Bu. Bagian produksi masih menyelesaikan 500 potong gamis pesanan dua toko langganan kita. Mungkin baru besok pesanan itu selesai," papar Seto.


"Baiklah, hari ini saya mau ke toko kue."


"Oh ya, Bu. Ehm, …"


"Ada apa?" 


"Besok saya minta izin tidak masuk."


"Memang kenapa?" 


"Saya-saya mau mengurus persyaratan pernikahan saya."


"Masyaallah. Kamu mau menikah, To?"


"Insyaallah, Bu."


"Kalau boleh saya tahu, siapa calon istrimu, dan di mana tempat tinggalnya?"


"Masyaallah, saya turut senang mendengar kabar bahagia ini. Setelah menikah nanti, saya akan beri cuti seminggu untukmu."


"Sungguh?" 


"Ya. Selama ini kamu sudah bekerja dengan baik di konveksi ini. Oh ya, untuk baju pengantin kalian, saya yang akan menyediakannya, gratis."


"Masyaallah, Bu Zura baik sekali. Semoga Allah memberi rezeki berlimpah untuk Ibu dan keluarga," ujar Seto.


"Amin, terima kasih do'a nya. Ya sudah, saya dan Fina mau ke toko kue dulu. Kalau ada apa-apa, kamu cari ibu. Beliau ada di depan."


"Baik, Bu."


Aku pun lantas meninggalkan ruangan tersebut dan menghampiri Fina yang sudah menungguku di teras rumah. Pak Amin juga sudah kembali dari mengantar Lyra ke sekolahnya.


"Pak, sekarang antar kami ke toko kue ya," ucapku.


"Baik, Bu."


Dia puluh menit kemudian kami tiba di toko kue.


"Apa banyak pesanan kue hari ini, Rin?" tanyaku pada Ririn yang bertugas di bagian kasir.


"Sebentar, Bu, saya periksa dulu."


Ririn lalu mengambil buku pesanan pelanggan dan tampak beberapa saat mengamatinya.


"Hari ini tidak ada pesanan, tapi beberapa saat yang lalu ada seorang laki-laki yang memesan 50 box kue bolu panggang dan harus siap besok sore."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kalau boleh saya tahu siapa yang memesan kue itu?"


"Laki-laki yang tadi memesan kue ini meminta untuk mengantarkan kue itu ke perumahan Eddelweiss blok A.20," jelas Ririn.


"Tunggu, bukankah itu alamat rumah bu Murni?" gumamku.


"Apa nama penerima kue itu bu Murni?" tanyaku.


Sekali lagi Ririn mengamati buku pesanan.


"Bukan, Bu. Tapi pak Hasan."


Aku mengulas senyum.


"Pak Hasan adalah suami bu Murni," ucapku.


"Ibu kenal dengan mereka?"


"Bukan kenal lagi. Mereka pernah menjadi tetanggaku saat aku masih tinggal di perumahan itu."


"Oh, begitu."


"Mungkin bu Murni memesan kue itu untuk acara selamatan empat bulan kehamilannya. Oh ya, mana Ana? Apa dia belum datang?" tanyaku.


"Belum, Bu."


"Ya sudah, saya ke dapur dulu, memeriksa stock bahan kue."


"Ada beberapa bahan kue yang habis. Saya beli sekarang saja daripada besok terburu-buru," ucapku. Ririn mengangguk setuju.


"Oh ya, Fin. Ibu mau ke supermarket, kamu mau ikut?"


"Nggak, Bu. Aku di sini saja nemenin Ririn." 


"Ya sudah, ibu tinggal dulu, Assalamu'alaikum."


 


Aku pun lantas mengajak pak Amin menuju supermarket.


"Ada toko kue baru ya, Bu?" tanya pak Amin saat kami dalam perjalanan.


"Di mana?"


"Itu."


Aku memandang keluar mobil. Benar saja, di sebelah kanan jalan kulihat toko kue yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Tapi tunggu dulu, nama toko itu 


"MAUREEN CAKE". Apa mungkin toko kue itu milik kak Maureen?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya: 


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2